Thursday, 06 August 2020


Kopi Luwak Pancaniti, Harapan Baru dari Kampung Terisolir di Perbatasan Jakarta

07 Jul 2020, 18:41 WIBEditor : Gesha

Poktan Inagroita dan Babinkamtibmas, Buana Adi Putra, pelopor Kopi Luwak Pancaniti | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Meskipun hidup seperti terisolir dari gemerlap pembangunan di perbatasan Jakarta - Bogor, masyarakat Kampung Mulyasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor masih optimis dengan harapan baru dari perkebunan kopi dan produk kopi luwak Pancaniti.

Kampung Mulyasari terletak tak jauh dari gemerlap pembangunan kawasan Sentul, Kabupaten Bogor dan padatnya Jonggol-Cibubur. Ironisnya, masyarakatnya serasa terisolir lantaran jalan penghubung non aspal dan listrik yang hanya berasal dari turbin kecil.

"Warga sini sebagian besar bersandar pada perkebunan kopi. Meskipun ada juga yang bertanam padi, kapulaga, pisang dan cengkeh. Alhamdulilah kita diberikan alam yang baik karena berada di kaki Gunung Pangrango," ungkap anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabikamtibmas) Kampung Mulyasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Brigadir Buana Adi Putra.

Sejak awal ditempatkan di Kampung terpencil ini, dirinya melihat ada potensi yang bisa dikembangkan agar masyarakat bisa makmur, salah satunya melalui kopi. "Perkebunan kopi ini sebenarnya sudah digeluti masyarakat puluhan tahun disana tapi produksinya stagnan karena pengetahuan masyarakat sangat minim tentang budidaya dan panen kopi," jelasnya.

Buana mengembangkan kopi luwak Pancaniti dengan Kelompok Tani (Poktan) Hutan Inagroita bentukannya. Kelompok tani beranggotakan 53 orang, menanam kopi di lahan seluas kurang lebih 25 hektare. Dirinya juga melatih diri untuk memasarkan produk kopi masyarakat ke beberapa gerai kopi di Kota Bogor, tujuannya satu, mendorong perekonomian masyarakat kampung binaannya.

Unggulan dari desa ini adalah Kopi Luwak Pancaniti yang berasal dari kotoran luwak liar yang dikumpulkan secara swadaya oleh masyarakat. 

Kopi tersebut sudah dinilai seorang pakar kopi dan terpajang di salah satu rumah kopi di Bogor dengan predikat Grade A Internasional. Bahkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember, Kopi Luwak ini termasuk kategori fine robusta dengan skor diatas 80.

"Masyarakat sini menanam dua jenis kopi yakni Arabika memiliki karakter kopi sedikit asam, beraroma buah segar, kafein sedikit lebih wangi dan Robusta dengan karakter kopi cenderung pahit, beraroma kacang-kacangan, cokelat karamel, tinggi kafein dengan aroma lebih lembut," tuturnya.

Kini, beberapa kopi di Kota Bogor sudah rutin meminta pasokan Kopi Luwak Pancaniti ke Buana. "Kita kirim 50 kg biji kopi merah setiap bulannya. Kita belum bisa kirim lebih karena memang produksi belum banyak, baru 1 kuintal per bulan. Kalau kopi luwak yang sudah greenbean baru sanggup 12 kg per bulan," ucapnya.

Dukungan

Buana mengaku masih melakukan sendiri kegiatan hulu hilir dari kelompok tani binaannya. "Kami memang ada biaya sosial yang selalu disisipkan dari hasil pembelian kopi oleh pembeli yaitu Rp 5 ribu setiap pack yang dijual. Uang tersebut digunakan untuk pembinaan pembentukan kelompok tani, edukasi peraturan perundangan yang berkaitan dengan kelompok tani, hak dan kewajiban masyarakat yang tinggal di areal kawasan hutan, edukasi petik kopi merah dan pengelolaan kopi supaya lebih bagus hasilnya," jelasnya. 

Buana dan Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Bogor,  pun  rutin melakukan pelatihan mengenai cara berkebun kopi hingga mengelola kopi dengan baik.
"Misi saya menjadikan kopi yang dihasilkan dari kampung ini memiliki kualitas cita rasa nilai jual yang meningkat dan mudah diterima oleh restoran, kafe dan hotel," kata Buana.

Kemasyhuran dari kopi luwak ini pun akhirnya sampai ke telinga Bupati Bogor, Ade Munawaroh Yasin yang datang langsung ke Kampung Mulyasari dengan menggunakan motor trail. Dirinya melihat sendiri bagaimana kesulitan warga yang keluar masuk kampung untuk memasarkan produk kopi dengan citarasa Internasional ini. 

"Ini menjadi perhatian khusus kami terhadap eksistensi para petani kopi di Kabupaten Bogor. Akan kami tindak lanjuti segera terkait sarana jalan ini," tegasnya.

Tak hanya sarana jalan, dirinya mengaku akan berkomitmen menjaga dan melestarikan potensi kopi disana. "Kawasan ini tidak boleh berubah menjadi kawasan pertambangan. Kita harus jaga demi anak cucu kita," pungkasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018