Monday, 10 August 2020


Legenda Kopi Aceh Gayo yang Mendunia, Mengalahkan Cita Rasa Kopi Blue Mountain

17 Jul 2020, 11:12 WIBEditor : Ahmad Soim

Kopi Gayo Aceh | Sumber Foto:A Karim

Cita rasa kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak terasa pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika.

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Di Provinsi Aceh dibudidayakan kopi Arabika dan Robusta dan seluruhnya merupakan kebun rakyat. Pengusaha  bergerak di penanganan pascapanen (pengolahan) hingga pemasaran.

 Sebaran Kopi Robusta berada di: Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Timur. Sedangkan sebaran Kopi Arabika berada di : Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, sedikit di Pidie.

“Luas tanam dan produksi kopi di Aceh mengalami pertumbuhan, namun produktivitasnya masih sangat rendah,” kata Prof. Dr. Ir. Abubakar Karim, MS. - Dosen Fakultas Pertanian, Unsyiah yang juga aktif di Pusat Riset Kopi dan Kakao Aceh, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Unsyiah.

Pada 2017, lanjut Abubakar Karim dalam Webinar Sejarah Perkebunan Indonesia yang diselenggarakan USU (15/7), luas kebun kopi rakyat di Provinsi Aceh adalah 123.749 ha dengan produksi 68.493 ton (BPS, 2018) dengan proporsi luas kopi Arabika 78,23 persen dan kopi Robusta 21,77% (Dirjenbun, 2015). Produktivitas kopi di Provinsi Aceh masih sangat rendah, hanya sekitar 553,48 kg/ha, dengan perincian kopi Arabika sebesar 567,43 kg/ha dan kopi Robusta hanya sekitar 511,00 kg/ha.

Kopi rakyat di Dataran Tinggi Gayo (DTG) sekitar 90.000 - 100.000 ha; Aceh Tengah (48.000 ha), Bener Meriah (45.000 ha), Gayo Lues (4.000 ha), kabupaten lainnya sekitar 1.500 ha (Karim, et al., 2018; Karim, et al., 2019), terdiri 90 persen kopi Arabika dan 10 persen jenis Robusta, dan diusahakan sekitar 53.000 KK (Khalid, 2018).  Produktivitas kopi Arabika Gayo masih rendah (500 - 800 kg/ha/tahun), walaupun ada 1,5-2,5 ton/ha/th.

Penyebab rendahnya produktivitas kopi di Aceh: Areal penanaman di lahan miring tanpa diikuti tindakan konservasi, terjadinya perubahan iklim mikro, bahan tanam bukan varietas unggul, naungan tidak mencukupi, pemupukan tidak optimal, pemangkasan tanaman kopi dan perawatan tidak optimal, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang terbatas, kondisi sama juga ditemukan di kebun kopi Arabika rakyat Humbahas, Sumatera Utara (Marbun, et al., 2019; Siahaan, et al., 2020).

               

Sejarah Kopi Gayo

Penyebaran kopi Arabika sampai di kawasan Dataran Tinggi Gayo, ketika itu seluruhnya masuk wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Kekuasaan Belanda yang hadir pada 1904 di Tanah Gayo, memberikan kehidupan baru, yaitu membuka lahan perkebunan kebun kopi yang terdapat di tanah Gayo pada ketinggian 1.000-1.700 m dpl.

Pada 1924 hingga 1930, sejarah baru dimulai, yaitu membuka kebun kopi di lingkungan masyarakat.  Pembukaan kebun kopi tersebut dilakukan oleh para petani yang kebetulan bertetangga dengan kebun Belanda.  Pada 1930 terdapat 4 kampung yang sudah berdiri di sekitar kebun Belanda tersebut di sekitar Belang Gele, yaitu Kampung Belang Gele, Paya Sawi, Atu Gajah, dan Pantan Peseng.

Terdapat bukti berupa sisa pabrik pengeringan kopi yang sudah ada pada masa kolonial Belanda di AcehTengah, yaitu tepatnya di Desa Bandar Lampahan, Kecamatan Wih Pesam (sekarang Kabupaten Bener Meriah).  Ini menjelaskan bahwa kopi pada masa tersebut sudah menjadi komoditas perekonomian yang sangat penting. 

Kopi Arabika Gayo sudah menjadi mata pencaharian pokok sebagian besar masyarakat Gayo.  Wilayah ini salah satu sentra tanaman kopi Arabika yang sangat berkualitas di Indonesia. Kopi Arabika tersebar luas, dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah hingga ke Kabupaten Gayo Lues, dan bahkan Kabupaten Pidie sejak tahun 1998.

Kopi Arabika Gayo telah tersertifikasi Indikasi Geografi (IG Kopi Gayo) sejak tahun 2010.  Saat ini ada 23 koperasi yang mengolah dan mengekspor kopi dari Dataran Tinggi Gayo, dengan berbagai merk dagang dan dalam berbagai bentuk bahan olahan.

Kopi Arabika dibudidayakan pada ketinggian di atas 1.000 m dpl.  Kopi varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani, dan tercatat sebagai kopi Arabika yang terluas di Indonesia.  Kopi Gayo merupakan salah satu kopi khas Nusantara asal Aceh yang cukup banyak digemari oleh berbagai kalangan di dunia.  Kopi Gayo memiliki aroma dan rasa yang sangat khas (Mawardi, et. al., 2008; Karim dan Hifnalisa, 2011; Izzati, et al., 2019).

Cita rasa kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak terasa pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika.

Kopi ditanam dengan cara organik tanpa menggunakan bahan kimia dalam budidayanya. Kopi ini dikenal sebagai kopi hijau (ramah lingkungan) dan kopi Gayo disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia.

Perkebunan kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo pertama dibangun pada 1924 (di daerah Paya Tumpi dan Merzicht) setelah jalan Bireuen - Takengon selesai dibangun pada 1913.  Perluasan areal kopi Arabika sangat lambat karena lokasi yang masih terisolasi dan mahalnya ongkos angkutan.  Daerah konsentrasi penanaman kopi Arabika pada awalnya berada diantara Timang Gajah dan Lampahan, di sekitar Takengon hingga Burni Bius, dan sekitar Redelong (Bandar).

Setelah 1930, kopi Arabika menjadi penting bagi perekonomian rakyat di dataran tinggi Gayo.  Perkembangan kopi Ararabika Gayo melalui berbagai program yang seluruhnya berorientasi kepada petani.

Mulai 1976 Dirjenbun, Disbun, petani aktif dan rutin mengembangkan kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo --- berdampak sangat baik. Kegiatan pengembangan diantaranya; peningkatan sumberdaya petani, pelatihan, pengadaan sumber bibit unggul, pembinaan petani tentang perawatan kebun kopi, panen dan pengolahan kopi.

Pengembangan kopi Arabika dengan swadaya masyarakat juga berjalan secara terus-menerus.  Penanaman kopi dengan swadaya biasanya dirangsang oleh harga kopi yang menjanjikan dan areal yang sesuai.  Tercatat hingga 1985, luas kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo baru mencapai sekitar 35.000 - 40.000 ha.  Pada Tahun 1999, luas kebun kopi di Dataran Tinggi Gayo telah mencapai 90.000 ha lebih.  (Karim, 1999; Karim, et al., 1999a; Karim, et al., 1999b).

Konflik politik di Aceh tahun 1997-2005 berdampak terhadap perkopian di Dataran Tinggi Gayo.  Ada sekitar 21.000 ha areal produktif kopi petani menjadi terlantar dengan rincian sekitar 11.000 ha di Aceh Tengah, 9.000 ha di Bener Meriah, dan 1.000 ha di Kabupaten Gayo Lues.

Pada 2005 dibangun kerjasama Bappeda NAD dan UNDP untuk pengembangan perkopian di Aceh dengan ACF --- fokus kopi Arabika Gayo. Berikutnya Aceh Partnerships for Economic Development (APED), kegiatan ACF difasilitasi oleh APED. APED mengutamakan upaya membangun kemitraan bisnis, menyediakan informasi, dan membangun kepasitas SDM di tingkat petani.

Di Dataran Tinggi Gayo, dikembangkan kopi Arabika dan sedikit kopi Robusta.  Dari kedua jenis kopi inilah lahir berbagai genotif kopi yang saat ini tersebar dan dibudidayakan oleh petani.

Kopi Arabika dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 1.000-2.000 m dpl.  Di dataran lebih rendah, masih bisa pada ketinggian 700 m dpl --- terserang penyakit HV dan penggerek buah dan batang. Kopi Arabika beraneka ragam, sehingga lebih diminati daripada kopi Robusta, harga lebih mahal.  Pasar dunia sekitar 70 persen jenis Arabika.

Sebelum 1990, petani banyak mengusahakan Arabika local (Bergendal, Ramung, Sidikalang, S-795 (Jember), Tim-Tim, Ateng Jaluk. Setelah 1990 petani banyak mengusahakan genotipe baru (Catimor, USDA, BP-254 A, P-88, C-50, Gayo 1 (Tim Tim), Gayo 2 (Bourbon), Ateng Super, Andung Sari 1, Kartika, dll.

Kopi Robusta --- Robust (kuat), kualitas buah dan citarasa lebih rendah dan lemah, rasa kuat, kasar, dan lebih pahit. Indonesia penghasil Robusta 3 besar --- Vietnam dan Brazil. 96 persen perkebunan di Indonesia ditanami kopi Robusta. Kopi Robusta --- asal Belanda (ganti Arabika dan Liberika terserang penyakit HV). Zona tumbuh kopi Robusta pada ketinggian 50-900 m dpl (optimal 400-800 m dpl) dengan suhu 24-30 0C; curah hujan 1.500-3.000 mm/th.

Ada juga Kopi Liberika. Kopi ini  dapat tumbuh mencapai ketinggian 3 - 8 mUkuran buah : Linerika > Arabika > Robusta, bobot kering buah 10 persen dari bobot basahnya --- kurang disukai oleh para petani.  Produksi kopi Liberika adalah yang paling rendah dari jenis kopi lainnya.  Di pasaran dunia produksi kopi Liberika hanya 1-2 persen. Kopi Excelsa merupakan varietas dari Liberika.  Pada 2006, kopi Excelsa diakui dan diresmikan dengan nama ilmiah Coffea liberica var. dewerei. Lebrun

 

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018