Sunday, 09 August 2020


Tak Sekadar Menyehatkan, Teh Juga Berfungsi Sebagai Aromaterapi

23 Jul 2020, 14:06 WIBEditor : Indarto

Produk teh | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Sejumlah pelaku usaha sudah mulai membidik pergeseran minat konsumen. Mereka tak sekadar menyiapkan produk teh seperti green tea dan black tea untuk dikonsumsi. Pelaku usaha agribisnis ini memanfaatkan green tea powder plus coklat sebagai aromaterapi

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta— Konsumen produk teh saat ini sudah mulai mengalami pergeseran. Teh yang semula dikonsumsi karena punya fungsi kesehatan, saat ini sudah dimanfatkan banyak orang sebagai aromaterapi dan spa. Bahkan, di hulunya (kebunnya,red) bisa menjadi destinasi wisata yang mengasyikkan.

 Sekrearis Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia (ATI), Atik Dharmadi mengatakan, di era new normal,  industri  teh masih punya peluang pasar besar, baik di dalam dan luar negeri. Karena konsumsi teh tak lagi sekadar untuk kesehatan, para pelaku usaha harus jeli membidik pasar.

“ Kalau manfaat kesehatan sudah tak diragukan lagi. Teh memiliki kandungan tanin yang bermanfaat sebagai anti oksidan. Teh juga bisa dimanfaatkan sebagai aromaterapi di sejumlah tempat kebugaran,” kata Atik Dharmadi, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (23/7).

Menurut Atik, sejumlah pelaku usaha sudah mulai membidik pergeseran minat konsumen. Mereka tak sekadar menyiapkan produk teh seperti green tea dan black tea untuk dikonsumsi. Pelaku usaha agribisnis ini memanfaatkan green tea powder plus coklat sebagai aromaterapi.

“Ada juga yang memanfaatkan teh untuk spa, campuran makanan  (seperti cake), bahan baku farmasi dan kosmetik. Kebunnya pun bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata yang banyak diminati masyarakat perkotaan,” jelas Atik.

Atik mengatakan, peluang agribisnis teh ke depan masih menjanjikan. Artinya, sebanyak 6,2 juta ton supply teh per tahun tak ada yang terbuang. Sebab, selain bisa dikonsumsi dalam berbagai bentuk minuman siap saja, komoditas  teh yang menyehatkan itu juga diperlukan untuk kebutuhan farmasi dan kosmetik.

Inovasi Produk

Perubahan perilaku konsumen  di era new normal, lanjut Atik Dharmadi harus disikapi pelaku usaha agrobisnis teh dengan inovasi. Di era 1976/1977 yang ada hanya produk teh hitam dan teh  hijau. Nah, saat ini sudah banyak varian dan inovatif produk teh, ada teh hijau untuk late, cake, white tea dan aneka produk lainnya.

Menurut Atik, pada tahun 1977 hanya ada satu merek produk teh. Saat ini,  merek teh di pasar bermacam-macam, varian teh yang disajikan juga banyak. “Bahkan, minuman teh siap saji yang dikemas dalam botol plastik semakin banyak. Dari segi bisnis, permintaannya kurang lebih sebanyak 1 miliar liter per tahun,” papar Atik.

Atik juga mengungkapkan, pasar atau konsumen saat ini tak menghendaki minuman teh siap saji yang terlalu manis. Produsen pun akhirnya berinovasi dengan menggunakan low sugar. Bahkan, ada juga produsen yang mencampur teh dengan susu dan bermacam inovasi lainnya untuk memenuhi selera konsumen.

“ Saat ini, agribisnis teh cukup dinamis. Ada sekitar 20 merek kemasan yang memanfaatkan gelas plastik sebagai wadahnya. Kemasan teh siap saji tersebut punya nilai tambah,” ujar Atik.

Menurut Atik, teh yang dikemas dengan gelas plastik nilai tambahnya bisa 3-4 kali lipat dibanding dengan black tea yang harganya 2,5 dollar AS per kg. Konsumen yang membeli produk teh siap saji pun tak repot untuk menyedunya.

Meski sudah banyak inovasi produk teh, menurut Atik, yang usia lanjut sebagian masih menghendaki teh sedu yang pemanisnya dari daun stevia. Ada juga produk teh yang dicampur dengan daun mint dan jahe yang banyak diminati kalangan milenial.

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018