Thursday, 24 September 2020


Kemitraan Berkelanjutan Beri Kepastian Usaha Petani Tembakau

04 Aug 2020, 11:59 WIBEditor : Indarto

Kebun tembakau | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Ketika bermitra, petani harus memiliki loyalitas dalam memasarkan produk ke perusahaan mitra. Sehingga, unsur saling percaya antar sesama pelaku kemitraan menjadi penting.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta--- Industri hasil tembakau (IHT) hingga saat ini masih menyisakan  persoalan klasik, yakni terjadinya ketidakpastian harga jual dan fluktuaksi harga di tingkat petani. Turunnya produksi rokok kurun tiga tahun terakhir  dan diberlakukannya kenaikan  cukai rokok sebesar 23 persen makin menambah beban petani tembaku. Salah satu solusi untuk mengatasi guncangan tersebut, petani tembakau bisa melakukan kemitraan yang berkelanjutan.

 Pengamat Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi mengatakan, sesuai riset kemitraan FEM IPB 2019 menunjukkan, hasil analisis usaha tani yang melakukan kemitraan mempengaruhi secara positif  terhadap produktivitas petani mitra. Diharapkan, petani melakukan kemitraan berkelanjutan dengan hak dan kewajiban yang dilakukan sesuai kesepakatan.

“Dalam kemitraan harus ada transparansi untuk penetapan harga produk yang dikaitkan dengan kualitas,” kata  Gandhi, dalam sebuah webinar di Jakarta, Selasa (4/8).

Menurut Gandhi, ketika bermitra, petani harus memiliki loyalitas dalam memasarkan produk ke perusahaan mitra. Sehingga, unsur  saling percaya antar sesama pelaku kemitraan menjadi penting.

Kemitraan bisa dilakukan dengan berbagai bentuk. Misalnya, melalui pola inti plasma, sub kontrak, dagang umum, keagenan dan waralaba. Namun, yang umum dilakukan petani tembakau adalah pola inti plasma.

“ Pola kemitraan berkelanjutan akan mengurangi beban petani tembakau saat pandemik covid 19. Pola kemitraan akan lebih menjamin  kepastian harga jual,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan,  Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian (Kementan), Hendratmojo Bagus Hudoro. Menurut Bagus, kemitraan petani tembakau harus didorong, agar mereka mampu mengatasi harga tembakau yang kerap kali fluktuaktif.

Menurut Bagus, kemitraan bisa dilakukan melalui kelembagaan seperti, koperasi, kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan), atau melalui lembaga ekonomi masyarakat (LEM). Ketika, petani tembakau sudah melakukan kemitraan dengan pabrikan (mitra, red), petani akan mendapat kepastian harga.

   Industri rokok atau pabrikan juga mendapat pasokan tembakau secara kontinu,” kata Bagus.

Selain mendorong kemitraan, lanjut Bagus, Ditjen Perkebunan Kementan pada tahun 2020 juga melakukan pengembangan tanaman tembakau di sejumlah daerah, seluas 290 ha. Diantara, pengembangan tanam tembakau tersebut dilakukan di Jawa Timur 50 ha, Jawa Tengah 80 ha, Sumatera Barat 40 ha dan Nusa Tenggara Barat (NTB) 120 ha.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018