Thursday, 24 September 2020


Produksi Stagnan, Permintaan Bahan Baku Kopi Naik 25 Persen

05 Aug 2020, 11:57 WIBEditor : Indarto

Produk kopi | Sumber Foto:Dok. Indarto

Selama pandemi covid 19 kapasitas produksi kopi di sejumlah industri kecil justru menurun 30-60 persen. Sedangkan di industri besar terjadi penurunan kapasitas produksi hingga 10 persen.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---  Industri kopi baik di hulu maupun di hilir hingga saat ini masih terdampak pandemi corona (covid 19).  Meski terdampak pandemi covid 19, industri kopi  mengalami kenaikan permintaan bahan baku hingga 25 persen.

 Selama pandemi covid 19  juga  terjadi peningkatan konsumsi. Sayangnya,  naiknya permintaan tersebut tak  diimbangi dengan kenaikan produksi kopi. Sebab, selama pandemi covid 19, produksi kopi masih stagnan.

“ Karena ada kenaikan permintaan bahan baku, maka kondisi industri kopi saat ini terjadi  perebutan bahan baku kopi antar perusahaan lokal dan eksportir asing,” kata Nugraha Yogie, yang mewakili Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Yogie, meski terjadi kenaikan bahan baku kopi, tapi tak diimbangi dengan kenaikan poduksi. Sebab, selama pandemi covid 19  kapasitas produksi kopi di sejumlah industri kecil justru menurun 30-60 persen. Sedangkan di industri besar terjadi penurunan kapasitas produksi hingga 10 persen.

Penjualan kopi di pasar domestik maupun ekspor, lanjut Yogie, juga mengalami penurunan. Bahkan, sebagian industri pengolahan kopi merumahkan karyawannya, terutama pada industri kecil. “Di sejumlah perusahaan atau industri juga melakukan pengurangan jam kerja. Sejumlah café juga mengurangi operasional jam kerjanya,” ujarnya.

Industri kopi selama pandemi covid 19 juga menerapkan WFH kepada karyawannya, terutama pada tingkat manajemen, meski bagian produksi tetap bekerja. “Mereka juga terkendala distribusi bahan baku maupun produk, karena sebagian daerah sudah menerapkan pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) dan pembatasan lokal. Sebagian industri kopi memaksimalkan penjualan secara online,” paparnya.

Yogie juga menyebutkan,  teknologi pengolahan dan kemasan yang dilakukan industri skala kecil dan menengah juga masih sederhana. Mereka juga belum menerapkan cara produksi pangan olahan yang benar (CPPOB).  Industri kopi juga belum mampu memaksimalkan peningkatan nilai tambah melalui diversifikasi produk olahan kopi yang utamanya ke arah produk non pangan, seperti farmasi dan kosmetik.

Ekspor Turun

Menurut Yogie, pada periode Januari – Maret 2019-2020, volume ekspor bahan baku kopi mengalami penurunan sebesar -99,98 persen. Bahkan, selama periode Januari-Maret 2019-2020, belum  ada ekspor seperti yang terjadi pada periode yang sama  tahun sebelumnya.

“ Impor bahan baku pada periode Januari-Maret 2019-2020 menurun 48,33 persen. Nilainya  juga turun 35,78 persen,” ujarnya.

Sedangkan volume ekspor produk kopi olahan periode Januari - Maret 2019-2020 juga menurun 26,67 persen. Sedangkan nilainya juga turun 23,19 persen.

Yogie juga menyebutkan, ekspor biji kopi pada tahun 2018 sebanyak 277.478 ton, dengan nilai sebesar 809.140 ribu dollar AS.  Sedangkan, produksi biji kopi pada tahun 2018  sebanyak 674.636 ton, dengan luas lahan 1,2 juta ha. Biji kopi tersebut mayoritas (95 persen) dihasilkan dari perkebunan rakyat. “ Pada tahun 2018 juga ada impor biji kopi 77.815 ton senilai 147.151 ribu dollar AS,” ujarnya.

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018