Thursday, 24 September 2020


Diminati Pasar Ekspor, Industri Kakao Terkendala Bahan Baku

06 Aug 2020, 13:52 WIBEditor : Indarto

Kebun kakao | Sumber Foto:Dok. Indarto

Selain biji kakao, industri kakao di tanah air juga impor kakao olahan dari sejumlah negara.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah pandemi corona (covid 19),  sejumlah industri pengolahan kakao mendapat dampak positif dari kondisi ini. Diberlakukannya lock down di negara-negara produsen kakao, membuat negara konsumen melakukan impor produk kakao olahan dari Indonesia. Hanya saja, industri   kakao di tanah air masih kekurangan bahan baku dari dalam negeri.

Guna memenuhi permintaan pasar ekspor kakao olahan,  sejumlah industri pengolahan kakao sampai saat ini  masih melakukan impor biji kakao dari negara produsen. Pada  tahun 2018, volume impor biji kakao tercatat  sebanyak 239.377 ton, atau menurun sebanyak 1,87 persen dibanding  pada tahun 2019  yang  volumenya sebanyak 234.894 ton.

“ Selain sebagai pembentuk cita rasa produk akhir (blending), impor biji kakao ini dikarenakan kurangnya pasokan bahan baku dalam negeri.  Selain impor, pada tahun 2019, industri pengolahan  kakao menyerap biji kakao asal dalam negeri sebanyak 196.787 ton,” kata Nugraha Yogie, yang mewakili Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (6/8).

Yogie juga mengatakan, selain biji kakao, industri kakao di tanah air juga impor kakao olahan dari sejumlah negara.  Sesuai data Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, nilai impor kakao olahan pada tahun 2019 mengalami peningkatan  sebesar 12,35 persen, dibanding tahun 2018. Sedangkan, volumenya  juga mengalami peningkatann sebesar 16,91 persen.

Kakao olahan yang diimpor adalah, cocoa beans, liquor, cake, butter dan powder. Dari keempat produk kakao olahan yang mengalami peningkatan impor hanya cocoa (kakao) butter. Sedangkan ketiga produk lainnya cocoa liquor, cake dan powder mengalami penurunan.

Menurut Yogie, nilai ekspor kakao olahan tahun 2019 menurun 10,03 persen dibanding tahun 2018. Volume ekspornya pun mengalami penurunan  sebesar 12,97 persen. Dari keempat produk olahan kakao  yang mengalami peningkatan ekspor yakni cocoa liquor. Sementara itu, ketiga produk kakao olahan lainnya, seperti cocoa cake, butter. dan powder mengalami penurunan.

Hingga saat ini tercatat ada 13 unit perusahaan  atau industri kakao, dengan kapasitas terpasang sebanyak 786.251 ton. Sedangkan kapasitas industri yang  terpakai baru sekitar 431.861 ton (2019).  Sementara itu, utilitas kapasitas produksi hanya 55 persen

Menurut International Cocoa Organization (CCO), Indonesia berada di peringkat ke 6 negara-negara terbesar produsen biji kakao dunia, setelah Pantai Gading. Indonesia juga tercatat di peringkat ketiga pengolah biji kakao terbesar duniam setelah Belanda dan Pantai Gading.

Industri pengolahan kakao menghasilkan produk kakao olahan seperti cocoa liquor, butter, cake dan powder. Produk tersebut pada tahun 2019 diekspor dengan volume 285.786 (81 persen) dan dipasarkan di dalam negeri sebesar 68.190 ton (19 persen).

“ Produk kakao olahan tersebut merupakan bahan baku untuk menghasilkan produk makanan dan minuman berbasis cokelat, seperti permen cokelat, biscuit, wafer, roti, dan  es krim,  untuk industr olahan skala besar maupun industri kecil dan menengah (IKM),” jelasnya.

Peningkatan Produksi Kakao

Produk kakao olahan memiliki pasar yang luas, karena itu untuk mendorong industri kakao olahan  di dalam negeri perlu dukungan peningkatan produksi kakao (biji kakao) di tingkat hulunya. Agar usaha budidaya kakao bergairah,  produk primer pertanian seperti komoditas biji kakao sebaiknya tak dikenakan PPN.

“Selain mendorong peningkatan produksi kakao di dalam negeri, perlu adanya diversifikasi produk cokelat dan kakao olahan. Peningkatan konsumsi cokelat di dalam negeri juga perlu digalakkan,” ujar Yogie.

Menurut Yogie, konsumsi produk kakao olahan di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan negara-negara produsen atau konsumen di Eropa. Seperti Swiss 8,2 kg/kapita/tahun, Jerman 7,9 kg/kapita/tahun, Inggris dan Irlandia masing-masing 7,4 kg/kapita/tahun.

“selain mendorong peningkatan konsumsi cokelat di dalam negeri, pengembangan fine flavor cocoa berdasarkan indikasi geografis (IG) juga sangat penting dilakukan.” pungkasnya.

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018