Monday, 28 September 2020


Angkat Ekonomi Petani Inhil dengan Kopra Putih

10 Aug 2020, 13:58 WIBEditor : Indarto

Kopra putih | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Petani juga bisa mengolah air kelapa menjadi bahan nata. Tempurungnya bisa dimanfaatkan untuk arang. Bahkan, diversifikasi usaha kelapa mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

 

 



TABLOIDSINARTANI.COM, Inhil--- Agro industri kelapa di tanah air punya potensi besar untuk dikembangkan masyarakat. Mengingat,  semua jenis atau varietas kelapa mampu tumbuh subur di tanah air. Sedangkan pasarnya juga terbuka luas.

Kendati potensinya besar, petani masih banyak yang menjual kelapa dalam bentuk butiran. Padahal, kalau kelapa tersebut diolah menjadi kopra putih dan diversifikasi usaha lainnya, petani akan mendapat nilai jual tinggi.

Salah satu penggerak ekonomi petani kelapa, Biwi Suwito mengatakan, perbandingan menjual kelapa biji dengan kelapa sudah diolah sangat jauh. Apabila petani mengolah kelapa menjadi kopra putih harganya bisa mencapai Rp 8.500 per kg. Sedangkan untuk kopra putih edible Rp 13.000 per kg.

" Mengolah kelapa menjadi kopra putih merupakan salah satu solusi untuk menangani kelapa rijek di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Prov. Riau. Nilai tambahnya juga banyak," ujar Biwi, di Inhil, Senin (10/8).

Menurut Biwi, petani juga bisa mengolah air kelapa menjadi bahan nata. Tempurungnya bisa dimanfaatkan untuk arang. Bahkan, diversifikasi usaha kelapa mampu  membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Biwi menuturkan,  Kabupaten Inhil memiliki potensi budidaya kelapa luar biasa. Hamparan kebun kelapa yang umumnya dikelola petani kecil ini luasnya lebih kurang 450 ribu ha. Produk kelapa yang dihasilkan sekitar 9 ribu- 10 juta butir per hari.  Namun, dari jumlah kelapa yang diproduksi petani tak semuanya diterima pabrikan.

" Banyak kelapa yang di rijek perusahaan atau pabrikan. Sedangkan  harga kelapa rijek sangat murah. Petani akhirnya mengolahnya menjadi kopra hitam dengan cara diasap yang harganya juga murah,"  kata Biwi.

Dari situasi tak menguntungkan petani tersebut, Biwi mencoba mencari solusi supaya rijekan kelapa petani yang di tolak pabrik ini menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. " Pada tahun 2005 saya kenal teman di Jakarta yang memberi informasi tentang pasar kopra. Namun yang dimaksud teman saya adalah bukan kopra hitam seperti yang selama ini di buat kebanyakan petani di Inhil. Melainkan kopra putih yang pasar  ekspornya ke Banglades," kenang Biwi.

Mulai saat itu pula, Biwi  mencoba mensosialisasikan ke banyak  petani dan pengusaha kelapa untuk mengolah kopra putih. Pelan tapi pasti, usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil.

" Akhirnya, usaha olahan kopra putih menjadi booming di tanah air, khususnya di Inhil," ujarnya.

Biwi yang juga dipercaya sebagai salah satu Pengurus Persatuan Petani Kelapa ( Perpekindo) Provinsi Riau mengatakan, seiring perjalanan waktu, pasar ekspor kopra putih petani Inhil semakin terbuka. Bahkan, permintaan pasar ekspor tak hanya kopra putih.

" Ada beberapa negara yang minta kopra putih edible. Kopra putih edible ini umumnya untuk memenuhi pasar ritel di Dubai, Pakistan dan India," ujarnya.

Menurut Biwi, sejumlah UMKM di Inhil kurun lima tahun terakhir sudah ekspor kopra putih ke sejumlah negara, seperti India dan Bangladesh. " Salah satu UMKM yang kami rekomendasikan ekspor dengan volume  300 ton per bulan untuk kopra putih industri. Sedangkan untuk kopra putih edible sekitar 150 ton per bulan," paparnya.

Solar Dome

Guna mendapatkan kualitas kopra putih yang bagus, petani bisa melakukan proses produksi dengan teknologi sederhana, yakni dengan solar dome. Teknologi pengolahan kopra putih yang memanfaatkan  bahan plastik  ultra violet ini akan membuat  petani lebih efisien dalam proses produksinya.

" Penggunaan alat tersebut mampu mengejar kuantitas produksi. Nah, kopra putih yang dihasilkan kualitasnya lebih bagus dibanding kopra hitam. Sebab, kopra putih yang diproduksi dengan tetap menjaga kualitas sehingga tidak menjamur. Karena itu, faktor kebersihan wajib dijaga," paparnya.

Menurut Biwi, kopra putih industri yang diekspor umumnya diolah menjadi produk turunan, seperti minyak, tepung dan aneka bahan kosmetik. Sedangkan, untuk kopra putih edible di bebeberapa negara biasanya dikonsumsi langsung. Seperti di Dubai, Pakistan, Bangladesh dan India umumnya untuk konsumsi.

" Kalau di Hongkong dan Taiwan biasanya di buat campuran sop," ujarnya.

Dikatakan, saat ini di Inhil sudah banyak petani yang memproduksi kopra putih. Namun, mereka belum terorganisir dengan baik. Artinya, banyak sekali petani kopra putih yang tidak tercatat, yang diperkirakan produksinya sekitar 1.000 ton kopra putih per bulan. " Tapi, kalau melihat potensi UMKM yang kami kembangkan, omzetnya bisa mencapai Rp 40 miliar per tahun," pungkasnya. 

Reporter : Dimas
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018