Saturday, 19 September 2020


75 Tahun Indonesia Merdeka: Pudarnya Semangat untuk Swasembada Gula

11 Aug 2020, 13:50 WIBEditor : Ahmad Soim

Soedjai Kartasasmita, Semangat Swasembada Gula Perlu Terus digelorakan | Sumber Foto:Dok Pribadi

 

TABLOIDSINARTANI.COM – Semangat untuk berswasembada gula terus digelorakan pada Orde Lama dan Orde Baru. Menjelang 75 tahun Indonesia merdeka, semangat ini seperti pudar dengan gempuran impor raw sugar.

Pelaku sejarah dalam industri gula tebu, Soedjai Kartasasmita, mengungkapkan pada zaman Orde Lama pemerintah telah membangun pabrik gula (PG) di luar Jawa. “Yakni PG di Seram, 1 di Bone dan 1 di Coc Girek Aceh Utara dengan menggunakan dana yang diperoleh dari pampasan perang Jepang,” tambahnya sembari mengenang hari Kemerdekaan RI kepada Tabloid Sinar Tani.

Namun yang berhasil hanya PG di Bone saja,  di bawah pimpinan Soemitro. Kemudian pada akhir tahun 1953, Bank Industri Negara membangun Pabrik Gula Cepiring, tidak jauh dari Semarang. Soedjai Kartasasmita ditawari  Sumanang SH , Presdir BIN, untuk membantu proyek tersebut,  tapi dia menolak dengan halus karena  lebih suka bekerja di Sumatera Utara. Terhitung mulai Januari  1960, pengelolaan PG Cepiring diserahkan pada PNP Gula.

Pada zaman Orde Baru, juga muncul semangat memanfaatkan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan untuk pengembangan industri gula dengan harapan akan diminati oleh investor investor dari luar negeri. Hanya satu perusahaan yang tertarik, yaitu Kwok Brothers Malaysia disertai syarat bahwa untuk menjaga keamanan investasinya harus ada dari keluarga Presiden Soeharto yang menjadi pemegang saham.

Presiden Soeharto menyetujui usul ini.  Dimulailah pembangunan proyek Gunung Madu. Dengan tingginya profesionalisme  yang dimiliki oleh perusahaan Kwok, Gunung Madu menjadi satu success story membangun PG yang hingga sekarang belum ada tandingannya di Indonesia. 

Gunung Madu pada awalnya tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun  pabrik gula yang baru sehingga terpaksa mengimpor pabrik bekas dari Thailand. Dalam perjalanan waktu Gunung Madu mampu membangun pabrik gula terbesar di Indonesia.

Gunung Madu dijadikan model oleh Salim Group yang meluncurkan proyeknya di lokasi yang tidak jauh dari Gunung Madu. “Mereka juga berhasil tapi sebagai akibat dari krisis moneter terpaksa harus dilepaskan kepemilikannya pada produsen Gulaku yang hingga sekarang mempunyai reputasi yang bagus,” cerita Soedjai Kartasasmita.

Menurutnya ada 2 hal yang mendorong pemerintah waktu itu untuk memutuskan  mencapai target swasembada gula dalam waktu yang relatif singkat.  Faktor pertama, adalah kemerosotan produksi gula. Kedua, sebagai akibat dari kenaikan harga minyak bumi, ada dana yang cukup untuk meluncurkan proyek proyek membangun PG, yakni: 1) Rehabilitasi 42 pabrik gula di Jawa’ dan 2) Membangun 9 pabrik gula baru, 2 di Jawa Barat, yaitu PG Jatitujuh dan PG di Subang dan 7 di luar Jawa yang tersebar di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. 

Di luar dugaan, ternyata saya jelas Soedjai Kartasasmita  secara langsung ditunjuk oleh Presiden Soeharto untuk menangani proyek yang besar itu.  Beliau menyarankan untuk menemui Prof. Wijoyo Nitisastro untuk membicarakan pendanaanya. Waktu saya bicarakan hal ini dengan Prof Wijoyo di BAPENAS jawab beliau: ' The sky is the limit' ! (Langit itu adalah batasnya).

 Semua berjalan baik karena saya juga mendapat banyak dukungan dari ahli ahli dalam negeri maupun luar negeri yang disediakan oleh Bank Dunia untuk membantu saya.  Sayangnya karena berbagai sebab  pabrik gula yang direhabilitasi maupun yang baru itu sudah ditutup.  Yang terakhir PG Subang.

“Saya ingin tekankan disini bahwa  pemerintah baik Orde Lama maupun Orde Baru tidak menghendaki impor gula apalagi seperti sekarang raw sugar untuk keperluan rafinasi, melainkan ingin  benar benar swasembada gula. Swasembada harus diwujudkan.  Sekalipun konsumsi gula meningkat seiring dengan  kenaikan jumlah penduduk Indonesia,” tukasnya.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018