
Kebun kakao
TABLOIDSINARTANI.COM, Padang--- Budidaya kakao memang tepat dikembangkan di masyarakat. Agar mendapatkan hasil melimpah, sejumlah petani bisa melakukan tumpangsari dengan pinang. Tumpangsari kakao dengan pinang ini juga menjadi solusi di tengah rendahnya produktivitas kakao rakyat.
Salah satu petani di Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50 kota, Sumatera Barat (Sumbar), Fikri Amir mengatakan, kakao yang hidup di ketinggian 0-800 meter di atas permukaan laut memang cocok dibudidaya rakyat kecil. “ Dengan lahan 1-10 ha, budidaya kakao bisa dijadikan sandaran hidup mereka. Peluang dikembangkannya di Indonesia juga cukup besar, karena kakao bisa hidup dengan baik di sekitar garis katulistiwa,” papar Fikri, dalam sebuah webinar, di Padang, Sumbar, Selasa (18/8).
Fikri, yang juga pengusaha kebun induk biji benih kakao di Payakumbuh ini mengatakan, budidaya kakao akan tumbuh dengan baik kalau ada nauangannya. Artinya, petani yang membudidaya kakao harus mengguanakan tanaman pelindung (35-40 persen), agar tak terkena paparan sinar matahari langsung.
“ Karena menggunakan tanaman pelindung (naungan), kita cari tanaman pelindung yang juga menghasilkan. Bahkan, kakao yang kita budidaya bisa ditumpangsari dengan tanaman pelindung, berupa pinang,” kata Fikri.
Menurut Fikri, untuk melakukan tumpangsari dengan pinang, kakao yang ditanam harus menggunakan benih unggul. Kakao harus rajin dipupuk. Pohon kakao harus dilakukan pemangkasan 1 kali dalam setahun (pemangkasan bentuk dan produksi) dan pemangkasan tunas air.
“ Jangan lupa, lakukan pengendalian hama dan penyakit. Jaga ketinggian tanaman tak lebih dari 3-3,5 meter,” ujarnya.
Nah, untuk melakukan tumpangsari dengan pinang, budidaya tanaman kakao harus diatur jaraknya, supaya tetap mendapat pencahayaan matahari. Jarak tanam kakao 3 m x 3 m, dengan potensi 1.100 batang kakao/hektar (ha). Sedangkan jarak tanam pinang, 6 m x 6 m dengan potensi 270 batang/ha. Kemudian jarak tanam pagar kebun 3 m x 3 m, sekitar 130 batang pinang/ha.
“Sehingga potensi pinang yang ditanam sebanyak 400 batang/ha,” ujar Fikri.
Apabila dikalkulasi, potensi produksi kakao 4 ton per tahun/ha dengan kadar air 10 persen. Kakaonya dibelah dan dijemur selama tiga hari. Sedangkan produksi pinang 400 batang x 1,5 kg x 12 = 7.200 kg/tahun. Pinang yang dipanen juga dibelah dan dijemur selama 3 hari
Menurut kalkulasi Fikri, apabila harga kakao Rp 30 ribu/kg, dengan produksi kakao 4 ton/ha/tahun, maka petani akan mendapatkan nilai jual kakao sebesar Rp 120 juta/ha/tahun. Sedangkan, untuk hasil pinangnya sebanyak 7,2 ton X Rp 12 ribu= Rp 86,4 juta/ha/tahun. Sehingga, total pendapatan dari tumpangsari kakao dan pinang sekitar Rp 206,4 juta/ha/tahun.
Menurut Fikri, untuk pemasarannya, selama ini petani bisa menjualnya ke PT Pan Asia, di Batam yang memiliki kapasitas pabrik 120 ribu ton per tahun biji kering. Artinya, pabrik ini memerlukan 10 ribu ton biji kering kakao/bulan. Kakao juga bisa dijual ke PT Bumi Tangerang (Tangerang) yang memiliki kapasitas pabrik 90 ribu ton biji kering (7.500 ton biji kering/bulan).
“ Petani bisa juga menjualnya ke perusahaan atau pengolah kakao lainnya. Bahkan, petani bisa menjualnya ke pasar ekspor. Karena kakao ini banyak diminati pasar Eropa,” pungkasnya.