Saturday, 19 September 2020


Bimtek PHT OPT Kopi Secara Organik

10 Sep 2020, 09:06 WIBEditor : Indarto

Bimtek OPT kopi | Sumber Foto:Dok Humas Ditjenbun

Penerapan PHT ini akan mendorong program desa pertanian organik semakin berkembang dan membentuk kawasan organik di desa tersebut.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sipirok---  Dalam rangka mendukung kegiatan Pengembangan Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan tahun anggaran 2020, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan melakukan kegiatan Bimbingan Teknis ( Bimtek) tentang pengenalan dan penanganan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) kopi di Desa Sampean, Kec. Sipirok, Kab. Tapanuli Selatan (Tapsel).

Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) Sigit Wahyudi mengatakan,  melalui kegiatan bimbingan teknis ( Bimtek),  petani kopi mampu mengenali gejala serangan OPT dan menerapkan pengendalian hama terpadu (PHT ) di kebunnya masing – masing. Penerapan PHT ini akan mendorong program desa pertanian organik  semakin berkembang dan membentuk kawasan organik di desa tersebut.

“Bimbingan teknis tersebut tidak hanya dihadiri oleh petani kopi, tetapi juga petugas UPPT Tapsel dan pendamping lapangan dari Dinas Kabupaten Tapanuli Selatan,” kata Sigit, di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (10/9).

Bimtek OPT tanaman kopi ini, lanjut Sigit, juga menghadirkan Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman Prof. Loekas Soesanto, M.S., Ph.D . Kegiatan juga diisi diskusi (tanya jawab) dan juga pemaparan tentang pengalaman petani selama ini sebagai petani kopi, cabai dan sayuran.

Menurut  Prof. Loekas, pengenalan OPT tanaman kopi, perbedaan gejala serangan OPT dan kekurangan unsur hara, serta teknik penanganan OPT dan kekurangan unsur hara tersebut dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Diharapkan, petani kopi mampu menekan OPT dengan cara PHT.

“Kita berharap, agar petani kopi di desa bisa menerapkan sistem  Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan menjadi “Dokter Tanaman” di kebunnya masing-masing,” ujar Loekas.

Dalam kesempatan tersebut juga  dilakukan kunjungan ke beberapa kebun kopi petani yang terserang OPT. Beberapa OPT yang ditemukan seperti serangan nematoda, PBKo, karat daun, antraknose buah dan jamur akar. Selain serangan OPT, juga ditemukan kebun petani yang kekurangan unsur magnesium. Prof. Loekas juga menjelaskan perbedaan gejala OPT yang menyerang tanaman kopi.

Prof. Loekas berharap,  karena desa tersebut telah dipilih dalam program pengembangan desa pertanian organik  pada  tahun anggaran 2020, diharapkan agar petani mengurangi penggunaan bahan kimia. Bahkan, sebisa mungkin petani tidak menggunakan bahan kimia  sama sekali.

“ Karena bahan kimia bukan solusi, namun hanya akan merusak unsur hara mikro yang ada di dalam tanah,” ujarnya.

Menurut Prof. Loekas, ada  solusi yang bisa dilakukan petani untuk menjaga tanaman kopi organiknya, yakni dengan metabolit sekunder,--yang hasilnya telah melalui tahap pengujian  selama beberapa tahun. Dalam kesempatan tersebut, petani juga diajarkan cara membuat metabolit sekunder.

“ Cara membuatnya mudah, karena bahan-bahan yang diperlukan bisa diperoleh dari alam. Adapun bahan-bahan yang diperlukan seperti air leri, air kelapa, gula, keong dan akar putri malu,”  paparnya.

Petani sangat antusias mengikuti kegiatan ini mulai dari pemaparan materi, diskusi, praktek di lapangan. Bahkan, petani tampak serius ketika melakukan  pembuatan bahan untuk mengendalikan OPT tanaman perkebunan, pangan dan hortikultura tersebut.

“Petani sangat berharap agar kegiatan-kegiatan seperti ini sering dilakukan sehingga petani tidak buta dalam pengenalan dan penanganan OPT tanaman kopi kedepannya. Hal ini merupakan tugas bagi balai untuk membantu petani di Prov. Sumatera Utara,” pungkas Loekas. 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018