Saturday, 19 September 2020


AMTI Minta Rencana Kenaikan Cukai Rokok Tahun 2021 Ditunda

11 Sep 2020, 11:14 WIBEditor : Indarto

Petani tembakau | Sumber Foto:Dok. Istimewa

IHT merupakan satu kesatuan. Apabila ada kebijakan di hilir akan berdampak pula di hulunya. Sehingga, Bea Cukai harus tetap memperhatikan sisi hulunya. Kami berharap tahun depan tak ada kenaikan cukai hasil tembakau.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---- Industri hasil tembakau (IHT) selama pandemi covid-19 telah mengalami tekanan. Agar beban psikologis  mereka tak berkepanjangan, diharapkana tahun depan tak ada kenaikan cukai hasil tembakau.

Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budidoyo mengatakan, kondisi petani tembakau dan pelaku IHT saat pandemi covid 19 sudah berat. Ditambah lagi, dengan pemberlakukan cukai rokok sebesar 23 persen, makin menekan pelaku IHT yang berakibat turunnya produksi.

“Kami mohon sinergisitas dan kolaborasi. Sebab, IHT merupakan satu kesatuan. Apabila ada kebijakan di hilir akan berdampak pula di hulunya. Sehingga, Bea Cukai harus tetap memperhatikan sisi hulunya. Kami berharap tahun depan tak ada kenaikan cukai hasil tembakau  (rokok),” kata Budidoyo saat membuka webinar Tobacco Series #3 bertema “Menimbang Dampak Ekonomi Terkait Kebijakan Kenaikan Cukai Rokok 2021”, di Jakarta, Jumat (11/9).

Menurut Budidoyo,  dengan ditundanya kenaikan cukai rokok pada tahun depan akan membawa angin segar bagi pelaku IHT yang saat ini sudah tertekan. Bahkan, hal tersebut akan menggembirakan petani pada tahun 2021.

“ Petani tembakau pada tahun 2021 dapat insentif dengan tak naiknya cukai rokok. Hal ini akan menjadi penyejuk stakeholder IHT. Karena itu, kami berharap ada kolaborasi antar kementerian dan lembaga terkait yang nantinya bisa menjadi penyejuk,” paparnya.

Budidoyo menilai, sinergisitas antar pemangku kepentingan sangat diperlukan di saat seperti ini. Sinergisitas akan menciptakan harmoni, sehingga problem yang kerap kali menghantui 5 juta petani tembakau  bisa dieliminir.

Menurut Budidoyo, dalam kondisi seperti ini ada sejumlah petani yang membakar daun tembakau dan ada juga yang mencabut pohon tembakau yang ditanamnya,  karena frustasi.

“ Karena itu, kami minta pemerintah memberi kesejukan ke arah yang lebih baik. Sehingga, petani dan stakeholder IHT lebih nyaman,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian (Kementan), Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan, sejak diberlakukannya kenaikan cukai rokok, terjadi penurunan produksi IHT. Turunnya produksi IHT,  tentu saja akan berdampak terhadap berkurangnya penyerapan tenaga kerja di lapangan.

“Kalau produksinya menurun, maka produksi cengkeh sebagai bahan baku rokok akan mengalami penurunan juga. Sebab, 95 persen komoditas cengkeh untuk mensuplai bahan baku rokok,” kata Bagus.

Bagus juga mengakui, kondisi petani tembakau saat ini mengalami tekanan. Petani kerap kali mengalami ketidakpastian harga tembakau. Biaya usaha tani tinggi dan posisi tawarnya rendah. Bahkan  rantai pasok atau tata niaga komoditas tembakau panjang. Ironisnya lagi,  petani yang melakukan kemitraan pun masih terbatas.

“Skala ekonomi atau usahanya juga relatif kecil. Sehingga, harus ada pendampingan dan penguatan kelembagaan petani,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Kebijakan Madya Direktorat Teknis dan Fasilitas Cukai,  Hary Kustowo mengatakan, terkait kenaikan tarif cuka tahun 2021 masih dalam pembahasan. Artinya, belum ada yang fix.  Apakah kenaikan cukai rokok tahun 2021 akan ditangguhkan? Menurut Hary, pihaknya tak bisa berspekulasi. “ Kita tak bisa katakan ada penangguhan atau tidak.,” ujarnya.

 

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018