Monday, 28 September 2020


Pengendalian Hayati Hama Pucuk Kelapa Brontispa

14 Sep 2020, 11:15 WIBEditor : Indarto

Pupa | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan----Tanaman kelapa kerap kali diserang hama dan penyakit. Salah satu hama yang kerap merusak tanaman kelapa adalahBrontispa sp. Hama ini umumnya merusak bagian pucuk kelapa atau daun pucuk kelapa yang belum membuka.

 Serangan hama  Brontispa sp. mengakibatkan penurunan produksi kelapa. Bahkan, serangan hama ini juga menyebabkan kematian tanaman dan menurunkan produksi mencapai 30−40 persen per pohon (Balitka, 2009).

 Guna mengatasi hama tersebut, petani bisa melakukan pengendalian secara terpadu,  Antara lain,  secara kultur teknis melalui pemupukan dan sanitasi kebun untuk menunjang pertumbuhan tanaman kelapa. Petani juga bisa melakukan pengendalian mekanik dan fisik terhadap janur terserang Brontispa sp. dengan cara mengikat, memotong dan menurunkan dengan tali lalu membakarnya. Cara mekanis dan fisik ini mudah dan murah, namun cukup sulit untuk tanaman yang tinggi.

 Selain teknik pengendalian di atas, teknik pengendalian yang telah diupayakan untuk menekan populasi dan serangan hama B. longissima adalah pengendalian secara hayati yaitu dengan melepaskan parasitoid pupa Tetrastichus brontispae.

 T. brontispae dilepas di lapangan dalam bentuk pupa terparasit yang dimasukkan ke dalam koker dan digantung pada pelepah muda kelapa terserang Brontispa. Setiap koker berisi ± 10 ekor pupa terparasit. Untuk lahan seluas 1 ha dipasang 4-5 koker. Jumlah koker yang dipasang tergantung pada tingkat kerusakan tanaman dan populasi hama. Pelepasan dilakukan  sebanyak dua kali dalam setahun.

 Hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan, satu hingga dua ekor parasitoid T. brontispae belum mampu memarasit larva Brontispa sp di dalam tabung. Sehingga dibutuhkan jumlah parasitoid yang lebih banyak agar mampu memarasit pupa Brontispa sp. Daya parasitasi T. brontispae terhadap larva  hanya 10 persen mampu memarasit larva di dalam tabung (Rethinam dkk, 2007). 

 Parasitoid betina membutuhkan waktu berkisar antara 15−25 menit untuk meletakkan telur ke dalam tubuh inang (larva). Lamanya waktu peletakan telur disebabkan larva aktif bergerak sehingga mengganggu upaya parasitoid dalam meletakkan telurnya.

 Daya parasitasi T. brontispae terhadap pupa  lebih tinggi dibandingkan pada larva. Hal ini disebabkan pupa tidak lagi aktif bergerak sehingga parasitoid ini lebih mudah untuk meletakkan telurnya. Persentase parasitasi T. brontispae pada pupa di laboratorium berkisar 30-80 persen. Hasil penelitian Rethinam, dkk. (2007) di lapangan menunjukkan bahwa daya parasitasi pupa berkisar 60 – 90 persen.  

 Sedangkan menurut Hosang et al., (2005) berkisar antara 35,71-73,56 persen. Salah satu faktor perbedaan  daya parasitasi tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik, antara lain faktor pakan imago T. brontispae di laboratorium adalah madu, sedangkan di lapangan tersedia madu dan nektar.

 Percobaan di BBPPTP Medan

 Percobaan di Laboratorium Lapangan BBPPTP Medan  menunjukkan suhu 28-30 0C  dan kelembaban 75- 88 persen T. brontispae masih dapat berkembang biak dengan baik. Menurut Zhou & Liuzhou, (2006) perkembangan T. brontispae membutuhkan suhu 25−300C dengan  kelembaban.

 Penurunan populasi pupa B. longissima  setelah pelepasan parasitoid di pohon kelapa milik petani di Desa Asahan Mati,  Kabupaten Asahan adalah sebesar 94 persenSedangkan penurunan populasi imago di Desa Asahan Mati setelah pelepasan I sebesar 26 persen dan setelah pelepasan II  sebesar 92 persen. Penyebabnya diduga kemungkinan besar pupa tidak berhasil menjadi imago.

 Apabila populasi pupa dapat ditekan maka populasi imago, telur dan larva juga mengalami penurunan. Sinkronisasi antara waktu pelepasan dan adanya tahap perkembangan yang sesuai di lapangan untuk musuh alami tersebut perlu diperhatikan. Pelepasan juga dapat dipengaruhi oleh musim atau cuaca karena pada musim hujan populasi B. longissima relatif lebih sedikit dibandingkan pada musim  kering.

 Pengujian di laboratorium menunjukkan T. brontispae mampu memarasit pupa B. longissima hingga 80 persen dan memarasit larva hingga 30 persen. Semakin tinggi populasi T. brontispae semakin tinggi pula daya parasitasinya terhadap pupa dan larva B. longissima.

 Untuk hasil yang lebih baik, pelepasan T. brontispae perlu dilakukan lebih dari dua kali (minimal 3 kali) meliputi musim hujan dan kemarau agar penurunan populasi B. longissima  dapat ditekan secara nyata.

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Ida Roma Siahaan, Syahnen dan Sry Ekanitha P
Sumber : BBPPTP Medan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018