Monday, 28 September 2020


Tekan Impor, Kementan Dorong Revitalisasi Industri Gula

15 Sep 2020, 11:17 WIBEditor : Indarto

Komoditas tebu | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Semakin banyak produksi benih yang dilakukan pemerintah, harusnya harga semakin murah, karena tenaga kerjanya dibiayai oleh pemerintah.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jombang--- Perjuangan Kementerian Pertanian (Kementan) mencapai target swasembada gula tahun 2024 belum berakhir.  Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai target tersebut, diantaranya melalui program persiapan swasembada gula konsumsi nasional dengan revitalisasi industri gula nasional secara komprehensif.

Plt. Inspektur Jenderal Kementan, Gatot Irianto mengatakan,dengan revitalisasi industri gula nasional secara konprehensif, diharapkan dapat menekan volume impor gula rafinasi yang selama ini diperlukan untuk memenuhi kekurangan konsumsi gula nasional.

“Revitalisasi pabrik gula sebenarnya tidaklah susah. Teknologi yang dibutuhkan pun tidak terlalu canggih. Namun, revitalisasi pabrik gula akan percuma jika pasokan tebu sebagai bahan baku gula di bawah kapasitas pabrik. Investor pun akan ragu kalau produksi tebu tidak mencukupi kebutuhan pabrik, sejauh ini kestabilan produksi tebu para petani masih sulit dijaga,” kata  Gatot Irianto dalam kunjungannya ke BBPPTP Surabaya , di Jombang, Jawa Timur (Jatim), Selasa (15/9).

Melalui kunjungan singkat ke BBPPTP Surabaya sebagai salah satu Unit Pelayanan Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perkebunan yang masih berada di bawah lingkup Kementerian Pertanian RI, Gatot  gencar mensosialisasikan cara bertani tebu modern dan efisien dengan menggunakan bibit unggul yang nilai rendemannya tinggi. Gatot pun berharap adanya kerjasama antara pemerintah dengan BUMN dan swasta dalam meningkatkan kualitas benih.

Menurut Gatot, semakin banyak produksi benih yang dilakukan  pemerintah, harusnya harga semakin murah, karena tenaga kerjanya dibiayai oleh pemerintah. Sebagai lembaga audit internal Kementan, Inspektorat Jenderal akan tetap memonitoring kegiatan Balai Besar dari mulai benih hingga proses bongkar ratoon di lapangan.

“Apabila berhasil, diharapkan BBPPTP Surabaya siap menjadi salah satu instansi Badan Layanan Umum (BLU) Kementan ke depannya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Kepala BBPPTP Surabaya, Kresno Suharto. Menurut Kresno,  saat ini Balai Besar siap mendukung program tersebut karena telah memiliki nurseri di Jatim yang berada di Kabupaten Tuban dengan kapasitas 15.000 polybag. Satunya lagi ada di Kabupaten Malang (Polbangtan Malang) berkapasaitas 90.000 polybag.

“BBPPTP Surabaya juga melakukan kerjasama dengan Puslit, Badan Litbang dan PTPN  terkait, untuk menghasilkan benih tebu melalui kultur jaringan dengan cepat. Harganya  pun murah dibandingkan proses melalui stek (read; bagal) dan tingkat ketahanan terhadap penyakit juga lebih kuat,” papar Kresno.

Kresno juga menuturkan, pengembangan pembangunan nurseri yang dimulai dari Tuban dan diperkuat dengan pembangunan di Polbangtan Malang. BBPPTP Surabaya  juga menggandeng petani tebu rakyat di Kediri seluas 2 hektar, Jombang 1 hektar, dan Mojokerto 2 hektar sebagai kebun perbanyakan untuk mendukung revitalisasi gula di Jatim.

Data Outlook Tebu Kementerian Pertanian tahun 2016 menyebutkan,  Provinsi Jatim merupakan salah satu gudang gula nasional dengan kontribusi 45,06  persen. Sehingga,  menjadi pilihan tepat menjadikan Jatim sebagai penopang swasembada gula nasional 2020-2023. Hal tersebut juga telah didukung dengan langkah BBPPTP Surabaya dengan program Nurseri Tuban dan Polbangtan Malang yang secara khusus memproduksi benih tebu asal kultur jaringan serta melakukan kerjasama dengan petani tebu rakyat untuk penjenjangnya.

“ Langkah tersebut sebagai rencana untuk memperlancar distribusi dan ketersediaan benih tebu di Jawa Timur,” ujarnya.

Perjalanan jawa timur sebagai gudang gula nasional cukup panjang. Dimulai pada i tahun 1887 dengan berdirinya organisasi profesional yang menangani masalah tebu pada masa Hindia Belanda dengan nama “Proefstation Oost Java”.  Kemudian  organisasi ini dinasionalisasi pada tahun 1945 dan akhirnya hingga sekarang berubah menjadi nama P3GI.

Keterkaitan berdirinya organisasi tersebut telah membentuk kultur agronomi masyarakat Jatim sebagai petani tebu. Sehingga, sudah selayaknya mengembalikan kejayaan dan kesejahteraan petani gula dengan program revitalisasi industri gula nasional secara komprehensif yang dimulai dari hulu hingga hilir untuk menyelamatkan dari ketergantungan impor gula.  

 

 

Reporter : Amirin Wahyu Widyoutomo & Dodik Dermawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018