Saturday, 24 October 2020


Rupiahnya Gula, Ada di Tebu yang Ditanam

19 Sep 2020, 18:51 WIBEditor : Ahmad Soim

Pabrik Gula Sei Semayang PTPN2 | Sumber Foto:Dok PTPN2

 

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -  Penghasilan utama dari pendapatan pabrik gula adalah tebu yang ada di lapangan.  “Money is made in the field,” kata Anggota Kehormatan Ahli Internasional Asosiasi Ahli Teknologi Gula Internasional Soedjai Kartasasmita kepada Sinar Tani (19/9).

 Artinya lanjut Soedjai Kartasasmita untuk meningkatkan produktivitas tebu di lapangan, kuncinya adalah varietas  tebu yang cocok untuk lokasi yang akan di tanami.

“Contoh yang relevan ialah apa yang dilakukan Brazil.  Di berbagai lokasi di lapangan ada laboratorium untuk meneliti perkembangan pertumbuhan tebu di berbagai lokasi,” tambah Soedjai Kartasasmita Sekretaris Eksekutif Dewan Gula Indonesia (1982-1988 ) dan Ketua Umum ISSCT Asosiasi Ahli Teknologi Gula Internasional dengan 52 negara anggota produsen gula  tebu pada tahun 1983-1986.

BACA JUGA:

Bisakah Usahatani Tebu Semanis Rasa Gula?

Integrasi Sapi dengan Tebu

Menurutnya tanpa dukungan penelitian, tipis sekali kemungkinannya untuk mencapai swasembada gula apalagi kalau arealnya terbatas seperti di Jawa dengan tingkat  produktifitas yang rendah.

 Dia mengungkapkan sejarah gula Indonesia adalah sejarah industri gula yang maju dengan dukungan penelitian yang maju. Banyak negara belajar dari penelitian gula Indonesia. Indonesia dijadikan model untuk penelitian tebu dan gula setelah terbukti mampu mengatasi ancaman penyakit sereh yang bisa memusnahkan  eksistensi industri gula Indonesia pada tahun 1920-an.

“Banyak peneliti dari India dan Thailand belajar dari P3GI di Pasuruan tentang pengembangan industri gula. Sekarang ke dua negara itu menjadi negara dengan produksi gula yang tinggi. India  produksi gulanya mencapai 30 juta ton per tahun, mampu membanjiri pasaran internasional dengan ekspor gulanya. Demikian pula Australia yang sempat menggunakan Indonesia sebagai model,” tambahnya.

Pada tahun 1983, Soedjai Kartasasmita pernah mendapat undangan pemerintah Australia untuk meninjau pusat-pusat penelitian di New South Wales. Yang mencengangkan saya ialah masih berdirinya pabrik gula tua yang pada tahun 1930-an dibangun atas dasar model yang diberikan oleh Pusat Penelitian Gula (POJ) Pasuruan.

Pada tahun 1984, kisahnya, saya diundang ke Afrika Selatan dan diajak  meninjau pusat penelitian gula di kota Durban. Direktur penelitiannya yang berkebangsaan Inggris mengakui bahwa yang meletakkan dasar-dasar penelitian gula di Afrika Selatan adalah orang Belanda yang bernama Douwes Dekker yang pernah bekerja sebagai peneliti di Pasuruan.

Bukan Solusi

Menurutnya penutupan pabrik gula dengan alasan sudah tua dibarengi dengan pembangunan pabrik gula baru bukanlah solusi untuk mencapai swasembada gula.

Di industri gula ada paradigma yang sampai sekarang masih berlaku yaitu bahwa penghasil utama dari pendapatan pabrik gula adalah tebu yang ada di lapangan ( Money is made in the field ) artinya untuk meningkatkan produktifitas di lapangan kuncinya adalah varietas  tebu yang cocok untuk lokasi yang akan di tanami.

Contoh yang relevan ialah apa yang dilakukan  Brazil.  Di berbagai lokasi di lapangan ada lab untuk meneliti perkembangan pertumbuhan tebu di lokasi-lokasi tertentu. Jadi bisa disimpulkan bahwa tanpa dukungan penelitian tipis sekali kemungkinannya untuk mencapai swasembada gula apalagi kalau arealnya terbatas seperti di Jawa dengan tingkat  produktifitas yang rendah.

Penerapan teknologi 4.0 lanjutnya akan sangat membantu. Dengan  penggunaan sensor, drip irrigation untuk pengairan di lapangan, big data, artificial intelegent dan satelit sekarang sudah biasa dilakukan di negara-negara produsen gula.

Di India petani diberi penyuluhan melalui HP yang diperoleh dari pemerintah sehingga mereka mampu berkomunikasi dengan para penyuluh seandainya ada kendala-kendala yang mereka temukan di lapangan. Model seperti ini mungkin bisa dipertimbangkan untuk di applikasikan melalui bantuan pemerintah atau para pelaku induatri yang bersangkutan.

Dengan adanya pandemi Covid-19 orang makin yakin bahwa menjaga kesehatan adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Terkait dengan industri gula  orang makin sadar bahwa konsumsi gula yang tinggi akan meningkatkan kasus diabetes di kalangan masyarakat. 

Oleh karena itu di banyak negara khususnya di Eropa dan Amerika pemerintahnya mengeluarkan peraturan- peraturan yang membatasi konsumsi gula baik di lingkungan rumah tangga maupun industri makanan dan minuman yang dinamakan Sugar Consumption Reform.

Alangkah baiknya kalau pemerintah kita mulai mempertimbangkan policy seperti ini. Sehingga konsumsi gula jadi berkurang dan paralel dengan itu mengurangi import  sehingga bisa mengurangi pengeluaran devisa

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018