Saturday, 24 October 2020


Kurban Impor Raw Sugar, Pabrik Gula PTPN Kekurangan Pasokan Tebu

22 Sep 2020, 16:32 WIBEditor : Ahmad Soim

Tebu untuk digiling di PG Jatiroto PTPN X | Sumber Foto:DOK PTPN X

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Pabrik gula (PG) milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) pada musim giling saat ini tutup lebih dulu karena tidak mendapat pasokan tebu dari petani.

“Saya merasa sangat prihatin   pabrik gula PTPN X pada musim giling ini tutup lebih dini karena kekurangan pasokan tebu yang disebabkan karena kalah bersaing dengan pabrik gula swasta,” kata Soedjai Kartasasmita Ketua Umum Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS) kepada Sinar Tani (20/09).

Seharusnya lanjut Soedjai, PG swasta tidak dibenarkan membeli tebu dari petani.  PG swasta baru tidak mengembangkan kebun tebu, tetapi mengambil tebu petani wilayah binaan PTPN. “Mereka yakni PG Swasta membeli tebu dengan harga sangat tinggi karena modalnya besar dari keuntungan olah raw sugar,” tambah Soedjai Kartasasmita Sekretaris Eksekutif Dewan Gula Indonesia (1982-1988 ).

BACA JUGA:

Rupiahnya Gula, Ada di Tebu yang Ditanam

Bisakah Usahatani Tebu Semanis Rasa Gula?

Integrasi Sapi dengan Tebu

Bila hal ini terus terjadi, kata Soedjai  lama-lama  PG PG BUMN akan tersisihkan.

Dulu, petani tebu rakyat adalah binaan perkebunan milik negara dan tebunya digiling di PG milik PTP/PTPN. Penjualan gulanya lewat BULOG. “Sekarang policynya sudah berubah,” ungkapnya. Swasta dibenarkan membeli tebu dari rakyat tanpa mengeluarkan biaya untuk pembinaannya. Sehingga berani membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Dengan izin impor gula mentah ( raw sugar ) untuk diolah menjadi gula rafinasi, tidak mengherankan kalau PG swasta memiliki daya tarik yang besar buat investor karena keuntungannya bisa 100 persen.

Dengan kondisi seperti ini  maka tidak mengherankan kalau PTPN tidak mampu bersaing. PG PTPN tutup lebih dini karena takut rugi ( money is made in the field). Skenario terburuk ke depan semakin banyak PG milik negara tutup dengan tuduhan tidak mampu mengelola pabrik gula. Sedang PG swasta berkembang terus.

 Soedjai Kartasasmita, berharap agar Kebijakan pemerintah diubah. “Harus ada political will. PG swasta harus punya  lahan tebu sendiri dan juga punya petani binaan. Hal ini seperti yang dilakukan PG milik BUMN selama ini,” tuturnya.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018