Friday, 26 February 2021


Masker Kakao, Lindungi Buah Kakao dari Serangan OPT

23 Sep 2020, 15:40 WIBEditor : Indarto

Masker kakao | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Pemasangan sarung pada buah kakao tersebut tetap dilakukan meski saat ini terjadi pandemi covid 19. Upaya perlindungan tanaman kakao dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM,Gorontalo-----Kesehatan tak hanya diperlukan manusia. Begitu juga untuk tumbuhan,  seperti kakao perlu dijaga kesehatannya dari serangan hama dan penyakit, agar produktivitas dan kualitasnya meningkat.  Guna menjaga tanaman kakao dari ancaman hama dan penyakit, komoditas ekspor ini perlu perlindungan berupa masker.

 Masker pelindung kakao inilah yang dilakukan Regu Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (RPO) Gotong Royong, Provinsi Gorontalo untuk melindungi tanaman kakao dari serangan hama dan penyakit. Masker untuk tanaman penghasil bahan baku cokelat ini, berupa sarung yang digunakan untuk membungkus buah kakao agar terlindung dari hama penggerek buah kakao.

 Upaya yang dilakukan RPO Gotong Royong tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Mentan sebelumnya mendorong agar seluruh jajaran Kementerian Pertanian (Kementan)  dan petani berupaya menggenjot produktivitas komoditas pertanian termasuk perkebunan, sehingga memiliki kualitas yang bernilai tambah dan berdaya saing dipasar dunia. 

 Menurut penggerak RPO Gotong Royong, Slamet, upaya pemasangan sarung pada buah kakao tersebut tetap dilakukan meski saat ini terjadi pandemi covid 19. Upaya perlindungan tanaman kakao dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

  “Di tengah pandemi ini, kami tetap gerak. Lha wong bukan hanya kita yang mau sehat tho, kakao ne juga kudu sehat, jadi OPT ne harus dibasmi, kalo dibiarin aja kakaonya mati kita malah jadi pusing malah jadi ga sehat kabeh,” kata Slamet , di Gorontalo, Rabu (23/9).

 Sementara itu Tim Pendamping Petani Kakao, Gusti mengatakan,  OPT yang banyak menyerang kakao di lahan sekitar yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK). Oleh karena itu, pihaknya menerapkan pemasangan sarung pada buah kakao. 

  “Jika tidak dikendalikan, larva PBK mampu menyebabkan biji buah kakao saling lengket sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi buah menurun hingga 70  persen. Kita lakukan sarungisasi biar ulatnya ga bisa masuk ke buah, kita aja disuruh pake masker, kakaonya jadi nya dimaskerin juga,” kata Gusti.

  Metode sarungisasi ini dilakukan saat buah masih sangat muda, pentil berukuran kurang lebih 8 Cm. Dengan berbekal peralatan sederhana yang terdiri dari karet gelang, pipa paralon, dan plastik, metode sarungisasi ini dapat mencegah imago PBK meletakkan telur pada kulit buah kakao sehingga larva tidak akan menggerek ke dalam buah. Kedua ujung plastik dilubangi agar udara dapat bertukar dan tidak lembab. 

 Dikatakan,  metode tersebut merupakan salah satu komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang cenderung ramah lingkungan. Metode ini juga  tidak menimbulkan residu kimiawi, resurgensi dan resistensi hama, serta sangat mudah dilakukan. Pemakaian plastik dapat berulang pada musim buah selanjutnya.

 Menurut Slamet, dengan pemasangan sarung pada buah kakao, dari 1 hektar (Ha) lahan bisa menghasilkan lebih dari 1 ton kakao. Sedangkan harga kakao juga cukup bagus, yakni Rp 38.000  per kg (fermentasi), dan Rp 20.000 per kg (non fermentasi).

  Diharapkan,  kerjasama dengan pihak pemerintah ini terus berjalan dan ditingkatkan dalam membangun kemandirian petani.  “ Dengan semangat gotong royong, pengendalian kesehatan kakao dan menjaga kesehatan diri bisa dilakukan secara bersamaan,” pungkasnya.

 

 

 

 

Reporter : Farriza Diyasti
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018