Sunday, 06 December 2020


Ekspor Kelapa Masih Terbuka dan Prospektif

29 Sep 2020, 10:34 WIBEditor : Indarto

FGD komoditas kelapa | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Hingga saat ini sebagian besar petani kelapa memproduksi kelapa dalam bentuk kopra. Selain kopra, potensi produk turunan kelapa lainnya baik produk utama maupun samping sangat besar dan sangat potensial dikembangkan.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Manado--- Indonesia dikenal sebagai negara nyiur melambai, karena hampir semua jenis kelapa bisa tumbuh dan ada di negeri ini. Tak heran apabila, komoditas kelapa berkontribusi cukup besar sebagai sumber devisa negara.  Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan pun mendorong agrisbisnis kelapa dari hulu-hilir yang memiliki peluang ekspor.

Sebagai  komoditas yang banyak dikembangkan petani kecil, agribisnis  kelapa saat ini berada pada peringkat ke 4 kontribusinya sebagai penyumbang devisa negara setelah sawit, karet dan kakao.  Mengacu data BPS, hingga triwulan II tahun 2020, ekspor kelapa tercatat sebesar 988,3 ribu ton atau senilai 519,2 juta dollar AS. Volume ekspor ini tercatat meningkat 16 – 17 persen  dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Hingga saat ini sebagian besar petani kelapa memproduksi kelapa dalam bentuk kopra. Selain kopra, potensi produk turunan kelapa lainnya baik produk utama maupun samping sangat besar dan sangat potensial dikembangkan.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengatakan, pengembangan agribisnis kelapa tidak hanya persoalan nilai tambah produk kelapa tapi bagaimana mencari pasarnya,  dan meningkatkan akses pasarnya. “ Karena itu, dalam FGD ini, kita mengundang perwakilan dari ITPC Chennai India dan ITPC Shanghai China untuk membicarkan potensi pasar dan hambatan ekspor produk kelapa Indonesia terutama di masa pandemiccovid19, karena China dan India adalah 2 negara tujuan ekspor terbesar kelapa Indonesia,” jelas Kasdi, saat membuka FGD Peningkatan Akses Pasar Serta Pengembangan Produk Utama dan Produk Samping Kelapa Berbasis Kelompok Tani, di Manado, Selasa (29/9).

Kasdi juga mengatakan, FGD yang bertujuan untuk menggali potensi produk turunan kelapa di provinsi sentra produksi kelapa, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar dunia melalui kemitraan produksi dan pemasaran. Guna memperluas akses pasar,  Direktorat Jenderal Perkebunan terus melakukan upaya akselerasi peningkatan ekspor tiga kali lipat (Gratieks) melalui peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing (Grasida).

 “ Peningkatan ekspor tiga kali lipat melalui Grasida ini tentunya dengan mengedepankan penguatan kelompok tani berbasis korporasi petani di kawasan pengembangan komoditas kelapa,” ujar Kasdi.

Kasdi mengungkapkan, melalui penguatan kelembagaan petani akan ada jaminan standarisasi kualitas dan keberlanjutan usaha,  hingga peningkatan kesejahteraan petani sebagai outcome yang dituju. “Kami berharap tercapainya kesepakatan kerjasama pada FGD kelapa yang akan ditandatangani mampu mendorong percepatan ekspor sehingga pada triwulan IV tahun 2020, perekonomian negara dapat terdongkrak naik untuk mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi terutama di sektor pertanian,” papar Kasdi.

Hal senada juga disampaikan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi. Menurut Dedi,  tantangan pengembangan kelapa nasional tidak hanya persoalan produktivitas,  tetapi juga nilai tambah yang sangat butuh perhatian yang besar.

 “ Ditengah pandemi ini, pada hakikatnya produk kelapa seperti VCO semakin meningkat kebutuhannya karena memiliki kandungan antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh. Tentunya perlu inovasi-inovasi yang lebih baik lagi di sisi petani dan pelaku usaha agar produk kelapa ini mendapat branding yang positif dalam hal pemasarannya,” kata Dedi.

Dedi juga mengatakan, produk turunan atau olahan kelapa lainnya, seperti  sabut kelapa juga memiliki potensi sangat besar dikembangkan. Sabut kelapa yang diminati pasar ekspor ini umumnya dimanfaatkan untuk bahan baku industri jok & dashboard kendaraan, media tanaman dan alat rumah tangga lainnya.

Menurut Dedi, peningkatan daya saing produk perkebunan khususnya kelapa dapat dilakukan selain melalui kegiatan promosi juga melalui upaya diplomasi perundingan baik dalam skema PTA, FTA maupun CEPA. Karena itu, pemerintah akan melakukan upaya inisiatif baru dengan negara lain secara bilateral dan regional.

“ Teknologi Informasi akan menjadi suatu kepatutan dalam sistem perdagangan komoditas ekspor. Penggunaan IT dalam bentuk marketing online platform juga diharapkan dapat mendukung untuk setiap aktivitas promosi,” jelas Dedi.

FGD kelapa ini juga menghadirkan para narasumber yang kompeten dalam bidang nya seperti Direktur Eksekutif International Coconut Community (ICC), Kepala Dinas Perkebunan Prov. Sulawesi Utara, Kepala Bappeda Prov. Sulawesi Utara, Kepala Balai Penelitian Kelapa dan Palma (Balit Palma), Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Kepala ITPC Chennai India, Kepala ITPC Shanghai China dan pelaku usaha VCO, Direktur Utama PT. Kepala Biru Nusantara.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi Junaedi dan Refly Ngantung selaku Kepala Dinas Perkebunan Prov. Sulawesi Utara menyaksikan secara langsung proses penandatanganan 16 kesepakatan kerjasama/ MoU Pengembangan Kemitraan Pemasaran Produk Kelapa Berkelanjutan Berbasis Korporasi Petani Di Provinsi Sulawesi Utara antara Presiden Direktur PT Mahligai Indococo Fiber (Pelaku usaha Sabut Kelapa dari Bandar Lampung) dengan 8 ketua kelompok tani kelapa prov. Sulawesi Utar,  serta Presiden Direktur PT. Kelapa Biru Nusantara (Pelaku usaha VCO dari Pasuruan, Jawa Timur) dengan 8 ketua kelompok tani kelapa Prov Sulawesi Utara. 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018