Senin, 04 Maret 2024


Tingkatkan Pemasaran, Kementan Fasilitasi Kerjasama Petani dengan Pelaku Usaha

05 Okt 2020, 11:39 WIBEditor : Indarto

Kerjasama pemasaran kelapa | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan 16 Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Mahligai Indococo Fiber dan PT Kepala Biru Nusantara dengan masing-masing 8 Kelompok Tani kelapa asal Sulawesi Utara.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Manado--- Kementerian Pertanian (Kementan) terus meningkatkan pemasaran produk-produk hasil pertanian, termasuk dari sub sektor perkebunan. Guna melakukan penetrasi pasar, Kementan pun mendorong adanya kerjasama antara petani dengan pengusaha.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono mengatakan, untuk meningkatkan agribisnis kelapa tak cukup hanya meningkatkan produksi, produktivitas dan nilai tambah. Namun, harus dibarengi dengan mencari peluang pasar. Karena itu, Kementan melalui Ditjen Perkebunan memfasilitasi kemitraan antara petani kelapa dari Sulawesi Utara dengan dua perusahaan olahan kelapa.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan 16 Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Mahligai Indococo Fiber dan PT Kepala Biru Nusantara dengan masing-masing 8 Kelompok Tani kelapa asal Sulawesi Utara. Kegiatan penandatanganan tersebut dilakukan di sela Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Akses Pasar Serta Pengembangan Produk Utama dan Produk Samping Kelapa Berbasis Kelompok Tani, di Manado.

Kasdi Subagyono mengatakan,  FGD tersebut bertujuan menggali potensi produk turunan kelapa di provinsi sentra produksi kelapa. “Ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia melalui kemitraan produksi dan pemasaran,” ujar Kasdi, di Manado, Senin (5/10).

Menurut Kasdi, untuk memudahkan pemasaran produk kelapa yang dikelola petani, Ditjen Perkebunan juga melibatkan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC). Kehadiran ITPC ini diharapkan,  mampu membuka dan memperluas akses pasar produk pertanian Indonesia.

"Kita mengundang perwakilan dari ITPC Chennai India dan ITPC Shanghai China membicarkan potensi pasar dan hambatan ekspor produk kelapa Indonesia, di masa pandemi covid 19. Sebab, China dan India adalah dua negara tujuan ekspor terbesar kelapa Indonesia," papar Kasdi.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  (SYL) pada peringatan Hari Tani Nasional. Dalam menghadapi wabah covid 19 ini, SYL meminta semua pihak untuk memperkuat kolaborasi dalam menguatkan sektor pertanian. Sektor pertanian telah terbukti menjadi penopang utama ekonomi nasional. Di saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 5,3 persen, sektor  pertanian menjadi satu-satunya yang tumbuh positif sebesar 2,19 persen. 

"Kemajuan sebuah daerah, kabupaten, provinsi bahkan kemajuan nasional sangat ditentukan oleh kaselerasi pertanian yang mampu dioptimalkan untuk lebih kuat, karena hal ini turut menandai kekuatan suatu bangsa," ujar SYL.

Volume Ekspor Naik 16 Persen

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan,  komoditas kelapa menjadi penyumbang devisa dari ekspor peringkat 4 setelah sawit, karet dan kakao. Hingga triwulan II tahun 2020, ekspor kelapa Indonesia sebesar 988,3 ribu ton atau senilai 519,2 juta dollar AS. Angka volume ekspor ini tercatat meningkat 16 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.  Sedangkan dari sisi nilanya meningkat 17 peren dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Saat ini sebagian besar petani kelapa memproduksi kelapa dalam bentuk kopra, sedangkan potensi produk turunan lainnya, baik produk utama maupun produk samping sangat besar. Direktorat Jenderal Perkebunan, menurut Kasdi, terus melakukan upaya-upaya akselerasi peningkatan ekspor tiga kali lipat (Gratieks) melalui peningkaran produksi, nilai tambah dan daya saing (Grasida). 

"Kami berharap tercapainya kesepakatan kerjasama pada FGD ini, mampu mendorong percepatan ekspor sehingga pada triwulan IV tahun 2020. Perekonomian negara dapat terdongkrak naik untuk mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi, terutama di sektor pertanian," kata Kasdi.

Sementara itu Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi mengatakan, tantangan pengembangan kelapa nasional tidak hanya persoalan produktivitas tetapi juga nilai tambah yang butuh perhatian besar.

“ Pada masa pandemi covid 19, kebutuhan produk olahan kelapa seperti VCO (Virgin Coconut Oil) semakin meningkat karena memiliki kandungan antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh. Hanya saja perlu inovasi yang lebih baik lagi di sisi pengolahan dan pemasarannya. Hal yang sama juga terjadi pada sabut kelapa yang memiliki potensi sangat besar untuk bahan baku industry jok, dashboard kendaraan, media tanaman dan alat rumah tangga lainnya,” kata Dedi.

Dedi juga mengatakan, peningkatan daya saing produk perkebunan khususnya kelapa, dapat dilakukan selain melalui kegiatan promosi, juga melalui upaya diplomasi perundingan baik dalam skema PTA, FTA maupun CEPA. Selain itu, akan dilakukan upaya inisiatif baru dengan negara lain secara bilateral dan regional. 

FGD yang digelar di Hotel Sintesa Peninsula ini dihadiri Direktur Eksekutif International Coconut Community (ICC), Kepala Dinas Perkebunan Prov. Sulawesi Utara, Kepala Bappeda Prov. Sulawesi Utara, Kepala Balai Penelitian Kelapa dan Palma (Balit Palma), Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Kepala ITPC Chennai India, Kepala ITPC Shanghai China dan pelaku usaha VCO, Direktur Utama PT. Kepala Biru Nusantara.

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018