Monday, 19 October 2020


Pacu Produktivitas Kelapa, Petani Dilatih Kendalikan OPT

07 Oct 2020, 14:47 WIBEditor : Indarto

OPT kelapa | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

BPTP Pontianak mengadakan demplot pengendalian bersama Kelompok Tani Nyiur Nusantara, di Dusun Makraga, Desa Parit Baru Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak--- Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produksi dan produktivitas komoditas hasil pertanian. Salah satunya berupa komoditas kelapa. Mengingat, dengan meningkatnya produktivitas kelapa akan menambah pendapatan petani.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan dan meminta jajarannya agar sigap melakukan pendampingan dan terus berupaya menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan serta peningkatan produksi maupun produktivitas komoditas pertanian termasuk perkebunan. “Tingkatkan nilai tambah, daya saing dan keunggulan setiap komoditas pertanian, harus memperkuat sektor hulu dan mengembangkan sektor hilir sehingga ada nilai tambah,”  kata Syahrul.

Menindaklanjuti arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo, Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan  sejak Juli lalu aktif melakukan pendampingan kepada petani. BPTP Pontianak pun terus melakukan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kelapa di lingkup kerjanya, untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas kelapa petani.

Kepala BPTP Pontianak, Sajarwadi mengatakan, keterbatasan petani dalam pengendalian OPT jadi penyebab menurunnya produktivitas tanaman kelapa. Salah satu OPT yang menjadi penyebab penurunan produktivitas kelapa adalah kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros).

Guna mengatasi serangan hama kumbang tanduk tersebut, BPTP Pontianak mengadakan demplot pengendalian bersama Kelompok Tani Nyiur Nusantara, di Dusun Makraga, Desa Parit Baru Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas. Kegiatan ini diikuti pula Kepala Desa Parit Baru, Kepala BPP Kecamatan Salatiga, PPL Parit Baru, tim BPTP Pontianak, Koordinator dan Petugas Unit Pembinaan Perlindungan Tanaman (UPPT) Pemangkat.

“ Pelatihan yang diberikan kepada pekebun kelapa menggunakan metode demonstrasi plot (demplot). Kegiatannya berupa pemberian percontohan kepada pekebun tentang cara pengendalian kumbang tanduk secara terpadu,” ujar Sajarwadi, di Pontianak, Rabu (7/10)

Menurut Sajarwadi, kegiatan ini merupakan tahap pertama dari rangkaian kegiatan demplot pengendalian kumbang tanduk pada tanaman kelapa. Pada kegiatan tahap pertama ini, tim BPTP Pontianak mengadakan sosialisasi pengenalan OPT tanaman kelapa, khususnya kumbang tanduk beserta cara pengendaliannya.

“ Kami selanjutnya memberikan percontohan salah satu cara pengendalian kumbang tanduk dengan penggunaan perangkap feromon.,” kata Sajarwadi.

Tahap lanjutan kegiatan tersebut, kata Sajarwadi adalah pengamatan dari penggunaan perangkap feromon dan pemanfaatan jamur Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan larva kumbang tanduk yang akan dilaksanakan sebulan setelah kegiatan ini. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para pekebun tentang makna dari OPT tanaman kelapa.

“ Kami juga memberikan pengetahuan ke petani terkait hama, pernyakit, dan teknik pengendaliannya,” ujarnya.

Sajarwadi juga mengingatkan, pengendalian OPT tidak efektif jika hanya dilakukan dengan satu cara saja dan individu, dan hanya di satu kebun tertentu. Karena itu, pengendalian OPT harus dilakukan dengan berbagai cara atau disebut juga pengendalian hama/penyakit secara terpadu dan dilakukan secara serentak.

Praktek Pemasangan dan Pengamatan Feromon

Menurut Sajarwadi, pada kegiatan ini juga dilaksanakan praktek pengamatan serangan kumbang tanduk dan pemasangan feromon trap. Feromon yang digunakan merupakan feromon sintetis dengan kandungan bahan kimia etil-4 metil oktanoat.

Feromon tersebut efektif untuk mengendalikan hama kumbang tanduk dewasa dengan radius sekitar 2 Ha. Lahan yang dipilih menjadi lokasi demplot,  merupakan milik anggota Kelompok Tani Nyiur Nusantara dengan luas lahan sekitar 5 Ha. 

Dari kegiatan tersebut, lanjut Sajarwadi, tanaman kelapa yang terserang kumbang tanduk rata-rata tanaman muda dengan usia tanam 3-8 tahun. Berdasarkan  pengamatan kasar,  intensitas serangan kumbang tanduk di lokasi tersebut sudah masuk dalam kategori serangan berat,  karena intensitasnya sudah diatas 20 persen.

“ Perangkap feromon dipasang pada tiang kayu dengan ketinggian 3-4 meter. Senyawa feromon  yang kami pasang ini akan efektif terbawa udara dan mengundang kumbang tanduk untuk masuk ke perangkap,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Sajarwadi mengajak para petani atau pekebun kelapa untuk berpartisipasi aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengendalian OPT. Diharapkan, petani dapat menerapkannya dan menjaga kebersihan kebun masing-masing.

Menurut Sajarwadi , kegiatan pelatihan di era New Normal (kebiasaan baru) akibat pandemi covid-19 dilaksanakan dengan mengikuti prosedur protokol kesehatan. Diantaranya, mencuci tangan sebelum kegiatan, pengecekan suhu tubuh peserta kegiatan, memakai masker, dan menjaga jarak (physical distancing).

“Diharapkan dengan adanya kegiatan demplot ini dapat meningkatkan skill dan pengetahuan pekebun. Sehingga tanaman terjaga, produksi kelapa terjaga, stabilitas perekonomian pekebun terjaga, terlebih dalam masa pandemi covid-19 ini,” pungkas Sajarwadi.

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018