Monday, 19 October 2020


Bungaran Saragih: Dampingi Petani dan Perkuat Kelembagaan Korporasi Petani Sawit

10 Oct 2020, 12:33 WIBEditor : Indarto

Petani sawit | Sumber Foto:Dok. Indarto

Apabila ada korporasi petani sawit akan lebih mudah dalam memberikan pembinaan dan potensial dalam mengembangkan bisnisnya.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Berkat kerja keras petani swadaya dan petani perkebunan inti rakyat (PIR), Indonesia saat ini menempati urutan pertama dalam hal produksi dan ekspor minyak sawit. Agar agribisnis kelapa sawit ini tetap berkelanjutan, petani sawit perlu pendampingan dan memperkuat kelembagaan petaninya dengan membentuk korporasi petani sawit.

Pengamat Pertanian Bungaran Saragih mengatakan, banyak model pembinaan yang dilakukan sejumlah perusahaan swasta dan yayasan kepada petani sawit. Pembinaan yang  mereka lakukan tak sekadar meningkatkan produksi, tapi sudah mengarahkan petani untuk melakukan budidaya sawit berkelanjutan.

“ Model yang dilakukan PT Hindoli maupun IDH bisa jadi contoh. Namun, kalau tak diperkuat dengan usaha mereka , kita akan terlambat perbaiki agribisnis sawit dan bisa jadi posisi agribisnis sawit akan melorot seperti karet,” kata Bungaran Saragih dalam webinar bertajuk, Pendampingan Perkebunan Sawit Rakyat Indonesia, “ Dimana Peran Negara dan Swasta?” yang digelar Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), di Jakarta, Sabtu (10/10).

Bungaran mengatakan, pendampingan ke petani swadaya apabila mereka tak punya kelembagaan atau organisasi yang efisien, ibarat seperti menggarami laut. “ Apabila ada korporasi petani sawit akan lebih mudah dalam memberikan pembinaan dan potensial dalam mengembangkan bisnisnya. Dan ini sudah ada cikal bakalnya, bahkan sudah dianjurkan Presiden Joko Widodo,” ujar Bungaran.

Mantan Menteri Pertanian era Presiden Megawati Soekarno Putri ini menyebutkan, petani sawit, bisa memulai memperkuat kelembagaan petaninya dengan membentuk korporasi petani sawit yang independen. Korporasi petani sawit ini nantinya bisa bermitra dengan siapapun. Nah, dengan adanya korporasi petani ini, perusahaan, yayasan atau pemerintah akan lebih mudah melakukan pembinaan.

“ Spririt mengembangkan sawit 30 tahun lalu harus dihidupkan dengan semangat kerjasama. Jangan individu.  Semangat kerjasama petani sawit yang telah diperkuat dengan kelembagaan petaninya ini bisa bermitra  dengan pemerintah,” ujarnya.

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan,  telah membuat terobosan dengan pengembangan pertanian berbasis kawasan korporasi petani. Bahkan, korporasi petani ini akan difasilitasi dengan kredit usaha rakyat (KUR) untuk kemajuan, kemodernan dan kemandirian petani.

Mentan  SYL menjelaskan selain padi, pengembangan komoditas pertanian seperti kedelai, jagung dan komoditas perkebunan harus dikelola dengan model korporasi petani. Semua pelaku usaha mendapat manfaat dari program ini, terutama peningkatan kesejahteraan petani, di mana petani memperoleh layanan sarana produksi dan modal, terlindungi asuransi dan ada kepastian pasar dan jaminan harganya.

Sebagaimana diamanatkan pada Permentan No 18/2018, korporasi merupakan kelembagaan ekonomi petani yang berbentuk koperasi atau badan hukum lain yang sebagian besar kepemilikan modalnya dimiliki petani. Dengan berkorporasi, petani diharapkan mampu bertransformasi menjadi pebisnis dan berjiwa wirausaha.

 

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018