Monday, 19 October 2020


Rangkul Milenial, Kementan Kembangkan Kopi Bernilai Tambah

12 Oct 2020, 11:48 WIBEditor : Indarto

Petani milenial kembangkan budidaya kopi | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Heri sudah mampu menjual kopi sebanyak 2.500 kg/bulan, dengan omzet rata-rata Rp 100 juta/bulan.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pasuruan--- Kopi menjadi salah satu dari tujuh komoditas perkebunan yang ditingkatkan produksinya, agar bernilai tambah dan berdaya saing.  Dalam mengembangkan komoditas kopi, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan juga merangkul kalangan milenial yang dinilai memiliki kemampuan untuk berinovasi,sehingga komoditas kopi  yang dikelolanya  punya daya saing dan bernilai tambah.

Berkat pembinaan dan bimbingan Ditjen Perkebunan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, salah satu petani milenial asal Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), Heri Tahan Muji (36) akhirnya sukses dalam mengembangkan komoditas kopi. Bahkan, saat ini Heri sudah mampu menjual kopi sebanyak 2.500 kg/bulan,  dengan omzet rata-rata Rp 100 juta/bulan.

Kepala BBPPTP Surabaya, Kresno Suharto mengatakan,  Heri Tahan Muji (36) merupakan salah petani milenial yang giat dan tekun melaksanakan program yang diberikan oleh Ditjen perkebunan melalui BBPPTP Surabaya. Pada tahun 2018, silam  Ditjen Perkebunan melalui BBPPTP Surabaya memilih kelompok tani Candi Mulyo untuk bergabung dalam program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan.

Menurut Kresno, berawal dari program inilah,  berbagai kegiatan pembinaan mulai dari budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara organik, peralatan pasca panen dan pemasaran diberikan kepada Kelompok Tani Candi Mulyo. Heri  Tahan Muji merupakan anggota Kelompok Tani Candi Mulyo, yang merupakan Binaan Ditjen Perkebunan pada program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan.

“ Berbekal kegiatan pembinaan inilah, akhirnya mampu mengantarkan Heri menjadi petani kopi yang sukses,” kata Kresno, di Pasuruan, Senin (12/10).

Dalam kesempatan tersebut, Heri mengaku, menanam kopi bersama anggota kelompok tani lainnya seluas 1 ha. Hingga saat ini, luas kebun yang ditanami kopi terus bertambah menjadi 15 ha.

Menurut Heri, pada awalnya Kelompok Tani Candi Mulyo  menjual kopi dalam bentuk buah cerry kepada tengkulak dengan harga yang relatif murah. Untuk robusta dijual dengan harga Rp 5.000/kg dan arabika Rp 8.000/kg.

“ Kami pada saat itu, menjual kopi dalam bentuk buah cerry karena tidak memiliki pengetahuan serta peralatan pasca panen,” ujar Heri.

Heri mengaku, mulai budidaya kopi sejak tahun 2002 silam. Pelan tapi pasti, Heri yang ditugasi oleh Kelompok Tani Candi Mulyo di bagian pasca panen dan pemasaran akhirnya mampu menghasilkan kopi dengan berbagai jenis olahan. Diantara hasil olahan kopi tersebut, mulai dari Natural, Semiwash, fullwash, Wine dan Honey baik robusta maupun arabika.

“ Semua hasil panen kopi anggota kelompok tani kami beli untuk diproses hingga menjadi kopi yang enak dan nikmat,” ujar Heri.

 Selain sukses mengembangkan usaha kopi, Heri juga  berbagi usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu, pemuda, serta masyarakat sekitar untuk membantu dalam proses pasca panen. Para pekerja tersebut dilibatkan  mulai dari sortasi buah, fermentasi, Soratasi biji, sangrai, packing, promosi dan pemasaran.

“ Dalam satu bulan kami mampu menjual kopi olahan hingga 2.500 kg. Kopi dengan merk “Kopi Lesung Arjuno”, sudah dijual ke sejumlah pasar,” paparnya.

Kopi  merk “Kopi Lesung Arjuno” ini berkualitas premium. Sebab, produk kopi yang dihasilkan dari tanaman kopi di Lereng Gunung Arjuno,  dengan ketinggian 1300 mdpl. Kopi premium ini rasanya khas dan berkarater. Kopi Lesung Arjuno yang dibudidaya Kelompok Tani Candi Mulyo telah mendapatkan sertifikat organik berstandar Eropa.

Sementara itu, salah satu POPT BBPPTP Surabaya dan pendamping Desa Organik, Bayu Aji Nugroho mengatakan, untuk mendapatkan sertifikat organik dibutuhkan komitmen dan sinergi yang solid dari seluruh anggota kelompok tani.

“ Perlunya anak muda seperti Heri,  karena sangat menginspiratif, dapat memotivasi dan tekun mengembangkan kopi. Sehingga dapat menghasilkan kopi yang berkualitas dan menambah pendapatan petani,” kata Bayu.

Keberhasilan petani milenial ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, pada peringatan Hari Tani Nasional di Jakarta, September lalu (24/9) lalu. Dalam kesempatan tersebut, Mentan Syahrul mengatakan, peran petani milenial amat dinanti negara untuk bisa menciptakan inovasi pertanian dari hulu ke hilir,  sehingga menciptakan nilai tambah komoditas pertanian.

“ Para petani milenial harus terus didukung agar bisa memacu tumbuhnya petani-petani muda yang baru,” ujar Syahrul.

Dalam berbagai kesempatan, Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono mengatakan, melalui strategi peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing (Grasida), Ditjen Perkebunan berharap target ekspor komoditas perkebunan, seperti kopi bisa meningkat 3 kali lipat hingga tahun 2024. Bahkan, ekspor komoditas kopi cukup menggembirakan. Kondisi eksisting nilai ekspor kopi tahun 2019 sebesar USD 883 juta,  dan ditargetkan mencapai USD 2,6 miliar pada tahun 2024.

Kasdi juga berharap, petani dan kelompok tani tetap menjaga konsistensi kualitas produk kopi yang dikembangkannya. “Kami juga berharap perlu penekanan pada prinsip budidaya kopi keberlanjutan lingkungan dalam penanaman sampai panen kopi, dan pasca panen,” pungkas Kasdi.


 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018