Saturday, 24 October 2020


Kilau Emas Hijau Temanggung Tembus Pasar Jepang

13 Oct 2020, 11:14 WIB

Kebun vanili | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Vanili yang ditanam di sela kopi ini sebagai salah satu cara untuk mengelabuhi terhadap pencurian vanili yang harganya saat ini Rp 300 ribu/Kg (basah).

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Temanggung--- Komoditas vanili hingga saat ini masih menjadi harapan bagi petani Temanggung.  Umumnya, petani Temanggung menanam si emas hijau di sela tanaman kopi. Berkat kegigihannya dalam membudidaya vanili, Komunitas Petani Vanili (Kompeni) Desa Sucen, Temanggung sudah tiga tahun terakhir jadi langganan eksportir Jepang.

Salah satu perwakilan kelompok tani yang tergabung dalam Komunitas Petani Vanili (Kompeni) Desa Sucen, Temanggung, Sudin mengatakan,  budidaya vanili yang sudah jadi langganan eksportir Jepang ini menjadi nilai tambah petani. “Kami tak hanya mengandalkan keuntungan dari panen saja. Sehingga harus ada nilai tambah dari usaha lain, seperti penjualan bibit,” kata Sudin, di Temanggung, Selasa (13/10).

Sudin juga mengatakan, saat ini Kompeni sudah dapat melayani pemesanan bibit. Namun, hanya dapat melayani permintaan lokal karena terkendala aspek legalitas.  Diharapkan, dengan adanya kegiatan identifikasi  dapat menghasilkan legalitas terkait peredaran vanili milik petani Desa Sucen.

Menurut Sudin, vanili yang ditanam di sela kopi ini sebagai salah satu cara untuk mengelabuhi terhadap pencurian vanili yang harganya saat ini Rp 300 ribu/Kg (basah).  Selain itu juga menambah nilai ekonomi dari hasil panen emas merah (kopi).

“ Perawatannya juga lebih mudah apabila ditanam di sela kebun emas merah. Lokasi yang cukup dekat dari rumah pemilik kebun juga menjadi salah satu faktor pertimbangan,” ujarnya.

Dia juga berharap, petani di daerah lain tetap giat dan tidak menyerah dalam pembudidayaan vanili, agar mampu bersaing di pasar internasional. Vanili termasuk ke dalam tujuh komoditas perkebunan yang saat ini  digalakkan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan. Mengingat, si emas hijau ini punya potensi ekspor. Ditjen Perkebunan pun sepanjang tahun 2020 melakukan  peningkatan produktivitas dan volume ekspor vanili melalui Program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah, dan Daya Saing (Grasida).

Kementan pun mendorong petani agar dapat mengembangkan atau menggenjot produksi komoditas perkebunan termasuk vanili. Guna mendukung ketersediaan vanili, sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,  Kementan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya sebagai  kepanjangan tangan UPT Ditjen Perkebunan memiliki tugas dan fungsi memberikan informasi dan pengawasan serta pengembangan komoditas perkebunan,  agar diperoleh kualitas yang bermutu atau produktivitas yang tinggi.

Identifikasi Vanili Lereng Gunung Sindoro-Sumbing

Sesuai dengan tupoksinya, BBPPTP Surabaya  pada Juli lalu, melakukan peninjauan untuk melakukan identifikasi ke lokasi budidaya vanili di Desa Sucen, sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Sindoro - Sumbing . Lokasi desa dengan ketinggian 600 -700 mdpl ini sudah cukup familiar dengan budidaya vanili dan tanaman kopi.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Temanggung, C Masrik Amin Zuhdi mengatakan, Desa Sucen merupakan salah satu kawasan penghasil vanili di Temanggung yang sudah punya pasar ekspor ke Jepang. Kegiatan identifikasi pun berlanjut dengan pengamatan langsung pada vanili yang ditanam di kebun milik beberapa anggota Kompeni.

Cukup menarik ketika kegiatan identifikasi berlangsung karena vanili yang ditanam dikebun memiliki pola beraneka ragam. Mulai dari tumpangsari vanili di greenhouse tanaman hortikultura hingga tumpangsari pada pohon penaung kopi yang dirambatkan pada bariernya.

Menurut salah satu  tim identifikasi vanili, Endang mengatakan,  berdasarkan peninjauan tim identifikasi, dari awal hingga akhir identifikasi di Kabupaten Temanggung diperoleh kesimpulan bahwa kecenderungan vanili yang ditanam  petani adalah varietas Vania 1 dan Vania 2. Meski ada beberapa tanaman mengalami perbedaan pertumbuhan,  namun tumbuh dan cenderung kembali ke ciri salah satu dari dua varietas yang telah menjadi binaan Kementan.

Endang juga mengatakan, syarat untuk dikatakan sebagai klon unggul harapan baru masih perlu dipenuhi,  karena salah satu perubahan unsur genetiknya tidak bersifat stagnan.

Hal senada diungkapkan PBT BBPPTP Surabaya, Munir. Menurut Munir, setelah teridentifikasi jelas, maka langkah selanjutnya adalah terkait aspek legalitas. Sehingga, diperlukan kerja bersama agar peredaran benih vanili di Temanggung terjamin legalitasnya.

“  Ada beberapa cara yang dapat dilakukan salah satunya dengan pemanfaatan kebun vanili yang sudah ada dan dengan memperhatikan kesamaan lokasi geografis, maka persyaratan luas dapat dipenuhi dengan catatan mengikuti kaidah kebun sumber benih,” katanya.

Seperti diketahui, Temanggung merupakan, daerah yang pada zaman Hindia-Belanda terkenal dengan kopi, tembakau, dan vanili,-- sebagaimana tergambar pada lambang kabupaten tersebut. Ketiga komoditas tersebut memang mengalami pasang-surut. Namu, secara perlahan, ketiga komoditas bernilai ekonomi tinggi tersebut mulai kembali menampakkan pesona keunggulan dan potensinya, dan kini dikenal sebagai the hidden taste of middle Java.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018