Saturday, 24 October 2020


Poktan Berkah Tani Kembali ke Hulu, Kembangkan Demplot Lada

14 Oct 2020, 12:59 WIBEditor : Indarto

Sosialisasi demplot lada Babel | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Demplot yang disiapkan, nantinya juga sebagai sarana edukasi kepada petani untuk melakukan budidaya lada sesuai GAP. Lada yang dibudidaya di demplot ini dilakukan dengan sistem organik.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Babel--- Lada menjadi salah satu dari tujuh komoditas perkebunan yang dikembangkan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan sepanjang tahun 2020.  Ditjen Perkebunan pun menggandeng kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah komoditas lada yang berorietasi ekspor. Melalui Poktan Berkah Tani inilah, budidaya lada Bangka Belitung (Babel) dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan ekspor.

Setelah sukses mengembangkan usaha pupuk kompos superbokhasi, Kelompok Tani (Poktan) Berkah Tani, Desa Delas, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Prov. Kepulauan Bangka Belitung (Babel) saat ini kembali membudidaya lada di lahan demplot seluas 3/4 Ha. Pengembangan budidaya lada di Desa Delas, Kec. Air Gegas, Babel saat ini baru pada tahap land clearing dan diharapkan akhir tahun 2020  bisa segera ditanami.

“Kami saat ini mundur sejenak dulu untuk melangkah yang lebih jauh lagi. Jadi, kami kembali ke hulu lagi sambil membenahi tanaman lada yang sudah ada, dan mengembangkan demplot seluas  3 /4 Ha lagi,” kata Ketua Poktan Berkah Tani, Alfeddy Hernandy, di Babel, Rabu (14/10).

Menurut Alfeddy, sesuai rencana, bibitnya nanti diambil dari bibit lada yang sudah bersertifikat dari Poktan mitra, di Bangka Barat. “Apabila mengikuti SOP demplot superbokhasi yang dilakukan Poktan mitra di Bangka Barat, mereka mampu produksi lada kering lebih kurang 4 kg/batang. Artinya, bibitnya punya produktivitas cukup tinggi dibandingkan Vietnam yang rata-rata 2,7 kg/batang,” kata Alfeddy.

Alfeddy yang sempat melakukan hilirisasi lada putih dengan menjual lada bubuk. Apalagi, komoditas lada bubuk sangat diminati pasar lokal dan ekspor. Namun, untuk mengembangkan hilirisasi lada putih tanpa pembenahan di hulu, mustahil akan tercapai dengan baik.

“ Tentunya di hulunya juga kami benahi agar produktivitas lada yang kami budidaya meningkat. Nah, di hulu ini kalau budidayanya dikelola dengan baik, sesuai GAP, petani bisa panen tiga kali setahun,” kata Alfeddy.

Menurut Alfeddy, harga lada saat ini cukup bagus. Khususnya  untuk produk green pappercorn atau lada yang dibuat semacam acar, yang umumnya diminati pasar ekspor harganya bisa mencapai Rp 120 ribu/kg (basah).

“ Jadi, kami siapkan di hulu baik dalam hal kualitas dalam proses budidaya, seperti hygiene, GAP-nya , supaya kuantitas dan kualitas lada yang dihasilkan lebih bagus,” katanya.

Alfeddy juga mengatakan, demplot yang disiapkan, nantinya juga sebagai sarana edukasi kepada petani  untuk melakukan budidaya lada sesuai GAP. Lada yang dibudidaya di demplot ini dilakukan dengan sistem organik.

“ Budidaya di demplot ini sekaligus sebagai perluasan bangsal kompos. Sebab, luasan pabrik yang kami miliki  sudah terlalu sempit untuk memproduksi kompos superbokashi, yang saat ini banyak diminati petani,” paparnya.

Apabila, lada yang ditanam di demplot tersebut pada akhir tahun ini, lanjut Alfeddy, diperkirakan bisa panen raya kurang lebih pada Agustus- Oktober 2022. “Jadi, yang kami siapkan ini memang untuk jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Alfeddy, sambil menunggu hasil dari budidaya yang dikembangkan di demplot, Poktan Berkah Tani tetap melakukan hilirisasi. “Kami masih kerjasama dengan rumah produksi Bumdes Bersama. Insya Allah tahun depan sudah dibangunkan rumah produksi sendiri yang berstandar internasional. Bahkan bersertifikat HACCP (Hazard Analisyt  & Critical Control Point) yang didampingi langsung oleh Asesor HACCP dukungan dari Kemenperin,” kata Alfeddy.

Dalam berbagai kesempatan,  Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono mengatakan,  terdapat tujuh komoditas perkebunan yang saat ini memiliki potensi untuk peningkatan ekspor.  Dari tujuh komoditas  tersebut, salah satunya adalah lada. Komoditas lada ini banyak dikembangkan di Babel, dengan brand muntok white papper. Bahkan, lada putih muntok tersebut sudah menjadi incaran pasar manca negara.

Menurut Kasdi, untuk meningkatkan produktivitas dan volume ekspor komoditas lada akan dilakukan melalui  program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah, dan Daya Saing (Grasida). “Melalui Grasida inilah, nantinya ekspor komoditas perkebunan  bisa meningkat tiga kali kurun lima tahun ke depan (2024). Karena itu, yang perlu dilakukan adalah pembenahan on farm-nya agar sesuai GAP, hingga pemasarannya,” ujar Kasdi.

 

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018