Saturday, 24 October 2020


Agar Berkelanjutan, Peremajaan Sawit Pekebun PIR Gunakan Bibit Unggul

15 Oct 2020, 11:49 WIBEditor : Indarto

Kebun sawit | Sumber Foto:Dok. Indarto

Pekebun (plasma PIR) sudah saatnya memiliki saham pabrik kelapa sawit (PKS) sebanyak 20 persen.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Program Perusahaan Inti Rakyat (PIR) yang  dikembangkan  pada tahun 1980-an, terbukti mampu mensejahterakan petani sawit. PIR yang dikembangkan melalui kemitraan inti - plasma, saat ini sudah masuk peremajaan generasi kedua. Untuk melakukan peremajaan, pekebun (plasma PIR)  dituntut tanam sawit dengan bibit unggul yang produktivitasnya tinggi.

Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB), Achmad Mangga Barani mengatakan, sawit yang dikembangkan pekebun (plasma PIR)  juga sudah masuk peremajaan, sehingga tak bisa hanya tanam sawit yang produktivitasnya hanya 20 ton TBS/ha.  Bibit sawit yang ditanam dalam peremajaan tersebut harus dengan bibit unggul yang produktivitasnya tinggi 30-40 ton TBS/ha.

“ Bibit sawit yang ditanam pun harus tahan serangan genoderma. Nah, kepemilikan lahan yang dulunya hanya 2 ha, saat ini paling tidak harus 4 ha per KK, agar pekebun sawit lebih ekonomis,” kata Achmad Mangga Barani, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (15/10).

Mangga Barani juga mengatakan, pekebun (plasma PIR) sudah saatnya memiliki saham pabrik kelapa sawit (PKS) sebanyak 20 persen. Dengan begitu, PKS tersebut nantinya akan menjadi milik bersama inti plasma.

“ Pabrik kelapa sawit yang ada saat ini sudah satu generasi. Sehingga, nilai pabriknya sudah nol, dan yang diperlukan hanya sebagian. Artinya, nilai pabriknya sudah tak besar lagi. Karena sebagaian diserahkan ke petani (plasma) sebagai bagian dari sahamnya 20 persen,” papar Mangga Barani.

Menurut Mangga Barani,  setelah pabrik sudah menjadi milik bersama inti-plasma, maka keuntungan  pengelolaannya nantinya bisa dibagi di setiap akhir tahun. “Andaikan pekebun plasma PIR diperkuat dengan membangun pabrik sendiri malah tak efisien. Sementara itu, dalam UU Perkebunan sudah ada aturan tentang kepemilikan pabrik. Melalui penguatan tersebut kami yakin pekebun plasma PIR tetap akan berjalan pada generasi kedua,” kata Mangga Barani.

Hal hampir sama dikemukakan Pembina Aspekpir Indonesia, Gamal Nasir. Menurut Gamal Nasir, keberhasilan program PIR pada saat itu, salah satunya karena berjalannya kemitraan yang dilakukan oleh pemerintah. Dimana, pada saat itu, program PIR dirancang  dan melibatkan 13 kementerian.

“ Programnya lintas instansi. Koordinasi yang rapi sebagai kunci keberhasilan kemitraan perusahaan dengan plasma,” ujar Gamal.

Gamal juga mengatakan, saat ini pekebun plasma PIR sudah masuk tahap peremajaan. Bahkan, pekebun plasma PIR ada yang tetap memilih bermitra (melanjutkan kemitraan), dan ada juga yang swadaya.

“Mereka yang piliha swadaya ini, karena perusahan berhasil membuat mereka maju dan pandai, sehingga petani jadi mandiri. Namun ada yang tak menerukan kemitraan karena tak puas dengan inti, karena ganti pemilik, kebijakannya pun berganti,” papar Gamal.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi mengakui, program PIR banyak memberikan manfaat dan kesejahteraan petani. Bahkan, dengan adanya PIR Tran, PIR BUN, PIR SUS dan PIR KKPA menjadikan kelapa sawit berkembang pesat seperti saat ini , dan berhasil menjadi penghasil devisa negara.

“Meski PIR Inti plasma sudah tak ada lagi nomenklaturnya, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan tetap konsisten meningkatkan produksi kelapa sawit,” kata Dedi Junaedi.

Dedi juga mengatakan, saat ini juga sudah saatnya memberdayakan petani sawit. Bahkan, sesuai Inpres No.6 tahun 2019,  Kementan juga mendorong pekebun sawit untuk mengembangkan kebunnya secara berkelanjutan.

“Pemerintah juga fokus ke penguatan pemberdayaan petani sawit dengan melakukan penguatan kelembagaan petani melalui  PSR dengan pendekatan yang konprehenship, sesuai tata kelola di tingkat pekebun sawit,” kata Dedi.

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018