Tuesday, 28 June 2022


Pola Inti-Plasma Membuat Petani Sawit Sejahtera

26 Oct 2020, 10:29 WIBEditor : Indarto

Petani sawit | Sumber Foto:Dok. Indarto

Perusahaan (inti) berhasil membuat petani PIR maju. Petani PIR banyak yang membentuk KUD untuk menjadi mitra perusahaan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Petani kelapa sawit perusahaan inti rakyat (PIR) untuk mengembangkan kebun sawitnya harus bermitra. Sebab, sebelum petani mampu mengolah tandan buah segara (TBS) perlu pabrik. Melalui pola kemitraan inti-plasma itulah, 90 persen petani sawit PIR akhirnya banyak yang hidupnya sejahtera hingga saat ini.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa sawit PIR Indonesia (Aspekpir Indonesia), Setiyono mengaku, dulu, sebelum menjadi petani PIR banyak petani sawit yang tak punya apa-apa. “Tapi, setelah mengikuti program PIR, dan ada kemitraan inti-plasma, banyak petani sawit yang berhasil. Mereka bisa  menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi.  Bahkan, sampai saat ini banyak petani PIR yang sejahtera hidupnya,” kata Setiyono, di Jakarta, Senin (26/10).

Setiyono juga tak akan melupakan sejarah 40 tahun silam yang membawa banyak petani PIR Trans, PIR Bun, dan PIR KKPA  sukses bersama mitranya (perusahaan inti) dalam mengembangkan kebun sawit.  “ Karena itu, dalam menjalin kemitraan, apabila ada masalah bisa dibenahi bersama. Kami ingin membuat pola kemitraan jadi contoh nasional,” ujar Setiyono.

Menurut Setiyono, petani PIR memang tak banyak. Namun, dalam sejarah pengembangan sawit di tanah air tak ada masalah berarti di lapangan. Sebab, antara inti dan plasma ada kesetaraan.

Setiyono juga mengatakan, pola kemitraan dalam pengembangan PIR tak bisa diragukan lagi. Perusahaan (inti) berhasil membuat petani PIR maju. Petani PIR banyak yang membentuk KUD untuk menjadi mitra perusahaan.

“ Jadi, kunci keberhasilan pola inti plasma ini adalah kesetaraan. Pola PIR seperti telur, ada inti dan plasma. Kulitnya adalah pemerintah yang membuat aturan dan dijaga. Sayangnya, kemitraan yang dilakukan saat ini banyak lubangnya. Karena itu, petani PIR yang sudah masuk generasi kedua harus mampu perbaiki pola kemitraan,” katanya.

Setiyono berharap, pola PIR tahap kedua akan lebih bagus, saling menguntungkan  antara perusahaan inti dengan petani sawit. Pemerintah pun bertugas dengan baik, saling keterbukaan. “Saya rasa pola inti plasma ini tak ada tandingannya, PIR adalah pola pengembangan sawit yang terbaik,” ujarnya.

Hal hampir sama dikemukakan Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono. Menurut Mukti Sardjono, PIR yang dikembangkan tahun 80-an adalah by design. Pemerintah dalam mengembangkan kebun sawit saat itu mengundang perusahaan swasta. Nah, perusahaan swasta ini diminta jadi mitra petani. “Saat itu berkembanglah PIR Trans, PIR Bun, PIR KKPA dan PIR Revitalisasi Perkebunan,” ujarnya.

Sejak perkebunan sawit berkembang luar biasa, kebun sawit yang dulu dikelola segelintir petani sawit, saat ini sudah menghasilkan dan menjadi andalan devisa negara. Neraca perdagangan minyak sawit per Agustus 2020 sudah surplus 11 miliar dollar AS, ekspornya sebesar 13,9 miliar dollar AS. Bisa dibayangkan, kalau tak ada sawit, di masa pendemi covid 19, Indonesia akan semakin tekor.

  Kini, plasma terus berkembang dan sebagian besar tanaman sawit sudah mulai masuk tahap peremajaan. Agar kebun sawit ini bisa berkelanjutan diperlukan sinergi antar pihak,” kata Mukti Sardjono.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi mengatakan, petani sawit yang mengembangkan kebunnya dengan pola kemitraan, tata kelolanya akan lebih baik. Bahkan, dalam kemitraan sudah banyak penguatan kelembagaan petani.

“ Petani sawit yang bermitra bisa memanfaatkan penataan kelembagaan lebih baik. Petani juga mendapatkan manfaat untuk mendapatkan sertifikasi ISPO, dan kebunnya yang sudah tua akan lebih mudah diremajakan,” pungkas Dedi.

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018