Friday, 27 November 2020


Agar Hasilnya Bagus, Tanam Kopi yang Cocok dengan Lingkungannya

27 Oct 2020, 13:00 WIBEditor : Indarto

Komoditas kopi | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

Petani bisa tanam kopi di sela hutan yang lebat asalkan klon kopi yang ditanamnya sesuai dengan lingkungannya.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Agribisnis kopi saat ini tumbuh dengan pesat. Agar mengurangi biaya sarana produksi yang semakin tinggi, sejumlah petani sudah mulai tanam kopi dengan varietas yang cocok dengan lingkungannya, sehingga hasilnya tetap bagus.

Owner Java Frinsa Estate, Wildan Mustofa mengatakan, agribisnis kopi saat ini banyak tantangannya.  “ Akibat perubahan iklim, hama dan penyakit semakin berat. Biaya sarana produksi juga mahal. Sementara itu, kopi baru menghasilkan pada tahun ke tiga dan keempat. Karena itu, saat ini banyak petani yang membudidaya kopi dengan low input tapi hasilnya cukup bagus,” kata Wildan, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Selasa (27/10).

Wildan yang juga salah satu petani kopi ini mengaku, petani bisa tanam kopi di sela hutan yang lebat asalkan klon kopi yang ditanamnya sesuai dengan lingkungannya. Karena itu, apabila mau tanam kopi di sekitar kawasan hutan, harus dicari klon kopi yang cocok dengan naungan rapat. Salah satunya adalah jenis kopi kopyor.

“Untuk menghemat biaya operasional, petani bisa  melakukan pemangkasan naungan dan ranting kopi sebagai pupuk.  Karena di sekitar tanaman kopi banyak musuh alami, maka serangan hama tak begitu berat,” katanya.

Meski serangan hama dan penyakit tak terlalu berat, lanjut Wildan, petani kopi wajib melakukan pengendalian OPT terpadu secara manual. “ Kalau sangat terpaksa dan hama penyakit sudah banyak bisa menggunakan herbisida,” ujarnya.

Wildan juga menyarankan, untuk menekan biaya operasional, petani bisa melakukan pemupukan menggunakan bio masa di kebun . Bahkan, pengolahan kopi bisa dilakukan di kebun, sehingga cangkangnya sangat bagus untuk pupuk.

“Naungan kopi bisa menggunakan pohon lamtoro, yang daunnya bisa dijadikan pupuk kompos. Sehingga, biaya sarana produksi lebih murah, sedangkan kualitas kopi yang dihasilkan tetap bagus,” paparnya.

Selain di sela hutan, petani ada yang budidaya kopi di terasiring. Semak-semak di lahan terasiring bisa dimanfaatkan untuk naungan. “ Pilihlah kopi yang berbuah dan berbunga serempak di musim kemarau. Sehingga, pemetikan hingga pengolahan akan mudah, 2-3 kali panen selesai dengan produksi yang bagus,” paparnya.

Menurut Wildan, seperti petani di Pangalengan banyak yang tanam kopi secara intensif di lahan sempit. Bahkan, sebagian petani di Jawa Barat ini sudah melakukan tanam kopi dengan sistem tumpang sari bersama sayur ( dan kayu). “ Selain menghasilkan sayur, produktivitas kopi yang dihasilkan juga cukup tinggi, sekitar 1 ton/ha,” katanya.

Agar petani mendapat harga jual kopi lebih baik, Wildan menyarankan supaya petani tanam kopi specialty. Sebab, kopi jenis ini (arabika) harganya cukup bagus. “Petani juga bisa mengolahnya sendiri, sehingga mendapatkan nilai tambah,” pungkasnya.

Dalam berbagai kesempatan, Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono mengatakan,  petani dan kelompok tani agar menjaga konsistensi kualitas produk kopi yang dikembangkannya.  Karena itu, petani diharapkan tetap memegang prinsip budidaya kopi keberlanjutan lingkungan dalam penanaman sampai panen kopi, dan pasca panen.

 “ Kami akan terus memfasilitasi petani untuk memberikan bantuan sarana alat pasca panen dan pengolahan agar menghasilkan produk-produk kopi bernilai tambah tinggi, juga dalam hal pembinaan dan pendampingan petani,” kata  Kasdi.

Kasdi juga berharap,  melalui strategi peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing (Grasida target ekspor komoditas kopi bisa meningkat 3 kali lipat hingga tahun 2024.  “ Kondisi eksisting nilai ekspor kopi tahun 2019 sebesar USD 883 juta,  dan ditargetkan mencapai USD 2,6 miliar pada tahun 2024,” pungkas Kasdi.

 

 

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018