Friday, 27 November 2020


Kemitraan Berkontribusi Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani

30 Oct 2020, 17:27 WIBEditor : Indarto

Dirjen Perkebunan Kasdi Subagyono | Sumber Foto:Dok. Indarto

Hingga saat ini luasan kebun sawit meningkat menjadi 16,38 juta ha, dari sebelumnya 14 juta ha.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kementerian Pertanian  (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan sesuai amanat UU No.39 tahun 2014 tentang perkebunan, mendorong petani (pekebun) dan kelompok tani untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha. Sebab, kemitraan yang telah dilakukan sejumlah petani terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan, Kasdi Subagyono mengatakan,  harus ada komitmen antara petani (kelompok tani), pelaku usaha dalam memajukan kemitraan yang berkelanjutan. Kemitraan yang win win solution ini akan menguntungkan semua pihak.

Menurut Kasdi, petani yang bermitra akan mendapatkan pemdampingan dan jaminan harga terhadap produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan akan dibeli oleh mitra (pelaku usaha). Sedangkan pelaku usaha akan mendapatkan bahan baku berkualitas secara kontinu.

“ Contoh kemitraan yang dilakukan petani sawit dengan pengusaha sudah berjalan lama, sehingga saat ini produk sawit kita jadi nomer satu dunia,” ujar Kasdi saat memberi sambutan pada acara Penganugerahan Gamal Award II dan Kelapa Sawit 2020, yang digelar Gamal Institute, di Jakarta, Jumat (30/10).

Kemitraan yang dilakukan petani inti plasma melalui sejarah panjang yang diperkuat melalui Inpres No. 1 tahun 1986. Saat itu pemerintah memberi akses pembiayaan petani PIR melalui bank, dengan luas lahan 2 hektar (ha)/kepala keluarga (KK).

Kasdi juga mengatakan, berkat sejarah kemitraan petani sawit inilah, kebun sawit yang sebagian besar merupakan kebun rakyat mengalami perubahan mendasar. Bahkan, hingga saat ini luasan kebun sawit meningkat menjadi 16,38 juta ha, dari sebelumnya 14 juta ha.

“Luasnya kebun sawit yang dikelola petani ini akan menambah produksi sawit yang dihasilkan,” ujarnya.

Menurut Kasdi,  dari luas lahan sawit di tanah air, sebanyak 6,7 juta ha merupakan sawit rakyat. Nah, dari luasan tersebut, sebanyak 2,7 juta ha sudah memasuki masa peremajaan, karena usia kebunnya sudah tua.

“ Kami targetkan, luas lahan sawit yang diremajakan sebanyak 180 ribu ha/tahun. Saat ini sudah tercapai 60 ribu ha, pada Oktober pencapainnya sudah meningkat menjadi 70 ribu ha, dan akhir tahun ini diperkirakan mencapai 100 ribu ha,” papar Kasdi.

Kasdi juga menyebutkan, untuk akselerasi peremajaan sawit rakyat (PSR), saat ini  ada lembaga survey. Melalalui lembaga survey inilah, akselerasi PSR terus didorong. “ Pemerintah pun tak tinggal diam, kami juga melakukan percepatan dengan memangkas perizinan dari 14 menjadi 8 tahap. Bahkan, simplikasi yang kami lakukan dari 2 kali menjadi satu kali,” kata Kasdi.

Meski sudah ada tim akselerasi, lanjut Kasdi, masih ada perlambatan di lapangan, khususnya di tingkat kabupaten. Untuk itu, pihaknya meminta agar tim verifikasi melakukan akselerasi agar target PSR 180 ribu ha tahun ini tercapai.

Dalam kesempatan tersebut, Kasdi juga mengapresiasi  Gamal Award yang digelar Gamal Institute. Melalui ajang ini ke depannya akan terwujud kemitraan yang baik antara petani, mitra pekebun dan pelaku usaha. Tokoh perkebunan dan koperasi kelapa sawit yang sukses bisa menjadi inspirasi bagi para petani.

 

 

 

 

 

 

Reporter : Dimas/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018