Sunday, 29 November 2020


Industri Sawit, Penopang Devisa dan Ciptakan Lapangan Kerja

18 Nov 2020, 14:48 WIBEditor : Indarto

Petani sawit | Sumber Foto:Dok. indarto

Sejak delapan tahun terakhir, industri kelapa sawit menjadi penyumbang devisa dan tenaga kerja.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Berawal dari tanaman hias yang saat itu banyak ditanam di pinggir jalan dan taman kota, kelapa sawit sejak dikomersilkan pada 18 November 1991, kini tumbuh dan berkembang pesat. Bahkan,  industri kelapa sawit telah menjadi  komoditi andalan ekspor,  pencetak devisa negara dan menciptakan lapangan kerja.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun mengatakan, pada tahun 2019 industri kelapa sawit mampu memberikan sumbangan terhadap nilai ekspor non migas sebesar  US$ 20,5 miliar. Diperkirakan,  ditengah situasi pandemi covid-19, tahun ini nilai ekspor kelapa sawit tidak akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

“ Sejak delapan tahun terakhir, industri kelapa sawit menjadi penyumbang devisa dan tenaga kerja. Sehingga, ekstensinya perlu dijaga. Meskipun masih ada banyak perbaikan terkait dengan sistem pengelolaan yang efektif, efisien dan berkelanjutan,” papar Derom Bangun, saat peringatan Hari Sawit Nasional, di Jakarta, Rabu (18/11).

Menurut Derom, di tengah tantangan internal maupun eksternal yang masih menjadi persoalan seperti ketidakpastian berusaha akibat ego sektoral dan tantangan operasional dalam budidaya, industri sawit terus meningkat. Industri kelapa sawit telah melahirkan berbagai terobosan dan inovasi baik di bidang tradisional seperti refine and unmodified oli, energi, sampai dengan oleochemical.

Derom juga mengatakan, pada bidang usaha tradisional kelapa sawit yakni refining and unmodified oil, kebijakan Bea Keluar (BK) dan tarif bea keluar dengan PMK No.11/2011 mendorong hilirisasi. Hal ini terlihat dari Kapasitas Refinari dari 46 juta ton pada tahun 2011 menjadi 65 juta ton pada tahun 2019.

Industri kelapa sawit pun terus berkembang. Pada tahun 1974, pemerintah mulai membuka kesempatan kepada petani untuk berperan melalui Program Inti-Rakyat (PIR).  Industri kelapa sawit terus berkembang, dan saat ini petani atau pekebun memiliki sekitar 42 persen luas kebun sawit dari total tutupan kebun kelapa sawit Indonesia seluas 16,38 juta ha.

Menurut Derom, banyaknya kebun sawit yang dikelola petani, ada beberapa yang masuk dalam kawasan hutan, dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dengan gigih berupaya menyelesaikan legalitas status lahan yang bermasalah dengan kawasan hutan. Kami berterima kasih kepada Ibu Siti, Menteri LHK yang menyambut baik Ketum dan Sekjen APKASINDO menyampaikan permasalahan ini. Komitmen dan pemahaman Ibu Menteri sangat kami hargai,” kata Derom.

Industri kelapa sawit, lanjut Derom, tak hanya bertumpu di hulu saja. Industri kelapa sawit juga mengembangkan potensi hilirnya yang terkait di bidang energi.  Salah satu terobosan yang kini menjadi perhatian adalah Katalis Merah Putih. “Katalis Merah Putih perubah sawit menjadi biohidrokarbon dapat menjadi asupan Kilang Biohidrokarbon untuk menghasilkan Diesel Bio H dan juga Bensin Bio H,” ujar Derom.

Derom juga mengatakan, sejumlah industri kelapa sawit telah mengembangkan produk minyak sawit spesifikasi baru yang disebut IVO atau Industrial Vegetable Oil. Sedangkan, biodiesel yang mulai dikembangkan pada tahun 2006 dengan bauran B-5 juga mengalami peningkatan yang signifikan.

“Dengan meningkatnya kualitas Fatty Acid Methyl Ester (FAME), kini kita sudah bisa dengan bauran B-30,” kata Derom.

Data DMSI menyebutkan,  kapasitas biodiesel Indonesia  saat ini sebanyak 11,5 kilo liter/tahun. Kapasitas ini masih akan terus bertambah sampai dengan tahun 2021 dengan tambahan 600 kilo liter per tahun. Hal tersebut tak lepas dari tumbuhnya investasi pada industri FAME.

Dalam kesempatan tersebut, Derom juga mengatakan, perkembangan Industri oleochemical selama 8 tahun terakhir sangat pesat. Pada tahun 2011, hanya terdapat 5 perusahaan dengan kapasitas total sebesar 2,3 juta ton. Kini, kapasitas produksi oleochemical naik lima kali lipat yakni menjadi 11,3 juta ton yang disokong oleh 21 perusahaan.

Peningkatan tersebut tidak lepas dari berbagai insentif investasi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sejak tahun 2012 sampai dengan saat ini. Sekitar 85 produk telah dihasilkan oleh Industri ini,” kata Derom.

Alhasil,  industri kelapa sawit masih dapat diandalkan sebagai penopang perekonomian Indonesia. “Industri ini juga mampu menjadi daya tarik bagi investor baik dalam maupun luar negeri.”ujarnya.

Kendati begitu, ke depannya industri kelapa sawit menghadapi tantangan yang berat dan bervariasi. Tidak hanya menyangkut masalah lingkungan, tetapi juga mutu sawit untuk makanan yaitu kontaminasi 3-MCPD yang ditetapkan oleh Uni Eropa sebesar 2,5 ppm harus diselesaikan dengan riset yang mendalam dan juga teknologi yang canggih.

“ Walaupun tantangan berat saya yakin,  dengan penelitian yang didukung oleh BPDP-KS dan kemampuan perusahaan perusahaan untuk menerapkan teknologi canggih semua itu dapat kita atasi untuk tetap menjaga agar industri kelapa sawit masa depan tetap jaya,” papar Derom.

Hari Sawit Nasional

Pada tanggal 18 November 2020, segenap stakeholder industri kelapa sawit kembali menyambut Hari Sawit Nasional.  Sebelumnya, untuk pertama kalinya, peringatan Hari Sawit Nasional  dilaksanakan di kantor dan halaman Pusat Penelian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, oleh pengurus Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) bersama sejumlah pemangku kepentingan industri sawit pada tanggal 18 November 2017 lalu.

Menurut  Derom Bangun, Hari Sawit Nasional yang diperingati ini merupakan hari yang penting untuk dijadikan saat mengevaluasi kemajuan yang dicapai dan tantangan yang dihadapi untuk memajukan industri sawit ke depan.

Sejatinya mengenai penentuan tanggal Hari Sawit Nasional itu kami mengajak PPKS yang memiliki ahli-ahli dan perpustakaan yang menyimpan buku-buku sejarah masuknya sawit ke Nusantara. Berdasarkan literatur tahun 1924 yang ditulis oleh Hunger diketahui bahwa komersialisasi kelapa sawit dari status tanaman hias terjadi pada tanggal 18 November 1911,” kata Derom.

Derom juga mengatakan, berdasarkan usulan PPKS, DMSI menetapkan hari sawit jatuh pada tanggal 18 November. Diakui atau tidak industri kelapa sawit di Indonesia telah memiliki kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia delapan tahun terakhir.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018