Saturday, 16 January 2021


Terancam Ditinggalkan, Gula Siwalan Sumenep Menunggu Uluran Tangan

01 Jan 2021, 15:46 WIBEditor : Yulianto

Penglolahan gula siwalan di Sumenep, Madura | Sumber Foto:Syarif

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumenep---Gula siwalan menjadi potensi terpendam Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Kepulauan Madura. Luas lahan di kabupaten paling timur Pulau Madura itu mencapai 639 ha. Sayangnya selama ini kurang mendapat perhatian serius.

Padahal prospek usaha pengolahan gula siwalan cukup besar dan perlu dikembangkan dan dipertahankan. Desa Gapura Barat merupakan salah satu desa sentra pengolahan gula siwalan. Industri pengolahannya tersebar di beberapa kelompok tani yang ada di Dusun Gunung dan Dusun Talesek Desa Gapura Barat.

Umumnya cara pengolahan gula siwalan di Desa Gapura Barat Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep masih sangat sederhana, sehingga kualitasnya sangat bervariasi, tergantung pada teknik produksi individu masing-masing. Biasnya kelompok petani memproduksi gula siwalan saat musim kemarau.

Musim kemarau merupakan saat kualitas air sadapan berada dalam kondisi yang terbaik, karena tidak tercampur dengan air hujan. Pada musim inilah kualitas gula siwalan yang dihasilkan memiliki mutu cukup baik. Harga gula siwalan pada musim ini sekitar Rp 13 ribu -14 ribu/kg di tingkat petani.

Saat musim penghujan petani tidak melakukan sadapan nira. Pasalnya, kualitas nira siwalan kurang baik karena sudah tercampur air hujan. Namun ada beberapa petani menyiasati produksi gula siwalan pada musim hujan dengan cara mengolah kembali gula siwalan yang sudah disimpan saat musim kemarau dengan mengejar harga karena banyaknya permintaan. Biasanya harga gula siwalan saat musim penghujan berkisar Rp 17 ribu-18 ribu ditingkat petani.

Potensi besar gula siwalan di Desa Gapura Barat saat ini menghadapi kendala uatam yakni, regenerasi usaha pengolahan gula siwalan dan untuk penyadap air nira. Pasalnya merekalah yang memiliki peran penting dalam usaha mempertahankan gula siwalan.

“Banyak pengolah gula siwalan dan penyadap pohon nira sudah lanjut usia. Sedangkan generasi muda tidak ada yang mau berprofesi mengolah gula siwalan dan pemanjat dan penyadap nira siwalan. Mereka generasi muda memilih profesi lain yaitu bekerja ke Jakarta maupun kota besar yang memilik prospek penghasilan yang jelas,” tutur Achmad Syarif Nur Fajrullah, penyuluh pendamping di Kecamatan Gapura.

Kendala lain, ungkap Syarif, banyaknya pohon siwalan yang dijual pemilik untuk bahan bangunan. Hal ini karena pohon siwalan memiliki kualitas kayu yang baik, sehingga mengurangi produksi gula siwalan.

Dengan banyaknya kendala tersebut, Syarif  mewakili suara kelompok tani pengelola gula siwalan berharap perlu perhatian semua pihak serta pembinaan yang berkelanjutan dari dinas terkait. Harapannya agar potensi gula siwalan yang ada di Kecamatan Gapura tetap terjaga. “Selain itu diharapkan mampu memotivasi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian salah satu kearifan lokal, khususnya di Kabupaten Sumenep,” ujarnya.

Gula siwalan memang berbeda dengan gula tebu. Gula siwalan mempunyai nilai tambah sebagai komoditas yang sangat dibutuhkan, salah satunya sebagai campuran minuman atau ragam olahan lainnya. Siwalan merupakan salah satu hasil produk olahan dari nira atau lontar (Borassus flabellifer) yang sudah sejak lama dikenal sebagai bahan baku industri.

Tanaman ini di satu sisi dapat bermanfaat untuk sumber daya alam (tanah), kelestarian lingkungan hidup. Di sisi lain dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk yang memiliki nilai ekonomis. Hampir semua bagian atau produk tanaman ini dapat dimanfaatkan, namun tanaman ini kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan dan dibudidayakan secara sungguh-sungguh oleh berbagai pihak.

Sementara itu untuk merealisasikan kemajuan pertanian, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) melalui Kementerian Pertanianakan terus mengawal 11 komoditas utama serta stabilisasi harga hulu ke gilir. Langkah ini penting dilakukan mengingat kebutuhan pangan adalah komoditas utama yang menjadi konsumsi masyarakat Indonesia.

"Kesebelas bahan pokok tersebut adalah beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit, daging sapi, daging ayam, telur ayam, gula, dan minyak goreng," kata SYL

Sementaraitu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan, pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa.

Karena itu Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen.

Reporter : Achamd Syarif/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018