Saturday, 16 January 2021


Nafas Berkelanjutan Pekebun Sawit dengan Tanaman Sela di Lahan Replanting

06 Jan 2021, 10:38 WIBEditor : Gesha

Panen padi Gogo di lahan sawit TBM | Sumber Foto:BPTP Riau

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Lamanya jangka waktu untuk pekebun sawit bisa mendapatkan hasil dari lahan replanting, membuat dilema khususnya menjamin keberlangsungan nafas dan ekonomi mereka. Solusinya adalah dengan bertanam tanaman sela diantara lahan replanting tersebut dalam masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

"Masa tunggu menghasilkan (menjadi Tandan Buah Segar/TBS) dari sawit itu sampai 3-4 tahun. Tanaman semusim bisa dijadikan tanaman sela saat masa TBM agar petani tetap mendapatkan penghasilan di masa 1-2 tahun (setelah replanting)," ungkap Peneliti Utama di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Dr. Rusman Heriawan, S.E, saat wawancara dengan tabloidsinartani.com, Rabu (6/1).

Tokoh yang pernah menjabat Wakil Menteri Pertanian 2011-2014 ini menambahkan ada 3 aspek yang bisa dibidik dalam penanaman tanaman sela di lahan sawit TBM atau hasil replanting. Pertama, aspek Ekonomi dimana pekebun mendapatkan tambahan kegiatan dan tambahan penghasilan selain merawat dan menunggu tanaman sawitnya mulai menghasilkan. Apalagi tanaman sela yang dianjurkan adalah tanaman semusim dengan lama tanam 3-6 bulan. 

Kedua, aspek lingkungan yaitu dengan tetap menjaga ekosistem di lingkungan tumbuh sawit itu sendiri, bahkan bisa menjadikan ekosistem menjadi lebih baik untuk pertumbuhan sawit. Contohnya saja,  menanam kedelai di antara barisan tanaman kelapa sawit dapat menyediakan nitrogen alami yang diikat oleh bakteri rhizobium bahkan mencegah terjadinya erosi.

Tak hanya itu, pemanfaatan tanaman sela pada perkebunan kelapa sawit diperkirakan sangat menguntungkan dimana sebuah lahan yang awalnya tidak termanfaatkan menjadi termanfaatkan sehingga semua bagian lahan pada perkebunan kelapa sawit menjadi produktif. Terutama yang berkaitan dengan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dapat ditekan seminimal mungkin. Termasuk,  tanaman semusim dapat berperan sebagai tanaman penutup (cover crop) sehingga mampu mengurangi pemanasan di areal perkebunan.

Ketiga, aspek sosial. Diakui Rusman, pekebun sawit ini bukanlah pelaku utama yang terbiasa bertanam tanaman semusim. Karenanya, dalam bertanam sela mereka membutuhkan bimbingan petani/dinas terkait, sehingga sinergisme bisa terus ditingkatkan. 

Rusman mengatakan banyak tanaman semusim yang bisa dijadikan tanaman sela pada lahan replanting sawit. Contohnya di Deli Serdang Sumatera Utara, tanaman selanya adalah sorgum. Lain lagi di Kabupaten Siak yang ditanami dengan padi gogo. Bahkan ada yang bertanam singkong sebagai tanaman sela. Namun yang paling umum digunakan adalah jagung maupun kedelai.

Tetapi Rusman mengingatkan pemilihan jenis tanaman sela diantara kelapa sawit muda juga harus mempertimbangkan sumberdaya lahan yang meliputi kondisi lahan, iklim, ketersediaan teknologi, sosial budaya masyarakat, permintaan pasar dan karakteristik tanaman sela. "Di Sumatera Utara ada yang bertanam singkong sebagai tanaman selanya dan memang sudah bagian dari kearifan lokal disana," tuturnya.

Khusus untuk sawit yang sudah bisa menghasilkan, Rusman sendiri condong menyarankan petani sawit melakukan integrasi sapi-sawit untuk mendapatkan pemanfaatan zero waste yaitu dengan memanfaatkan pelepah sawit sebagai pakan utama sapi, sementara kotoram sapi padat maupun cair menjadi pupuk untuk sawit itu sendiri. "Tapi cara seperti ini masih belum menarik banyak minat dari pekebun rakyat," tandasnya.

Hasil Memuaskan

Pertanaman tanaman semusim sebagai tanaman sela sangat memungkinkan sebab pada tanaman sawit belum menghasilkan (TBM) 1 ada sekitar 75% ruang terbuka dan pada TBM 2 ada 60?ri total areal. "Tumpangsari di perkebunan lebih ke tanaman sela karena ditanam ketika sawit belum menghasilkan, pohonnya masih kecil/pendek dan fotosintesisnya masih ketangkap," tambahnya.

Dalam penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengenai pertanaman padi Gogo sebagai tanaman sela lahan sawit TBM di kawasan Kecamatan Hinai, Stabat Kabupaten Langkat, petani mendapatkan hasil yang baik. Dengan menggunakan varietas padi Ciherang, pada saat tidak musim penghujan, produktivitas bisa mencapai 80 – 120 kg/rante atau sekitar 2-3 ton/hektarnya.  Sebaliknya, tumpang sari usahatani ini pada saat musim penghujan dengan menggunakan varietas padi Ciherang, produktivitas 120 – 200 kg/rante atau sekitar 3-4 ton per hektar.

Untuk sorgum, dilansir dari GAPKI, PT Paya Pinang Group menjadikan sorgum sebagai tanaman sela di kebun peremajaan sawit yang berlokasi Kebun Mendaris B, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara di lahan seluas 30 hektar. Panen perdana ini menghasilkan sorgum sebanyak 3 ton kering per hektare per sekali panen, atau 8-9 ton per hektare per tahun.

Dalam satu kali tanam, sorgum dapat dipanen tiga kali setiap empat bulan, atau sekali tanam bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun. Bahkan dari sorgum bisa menghasilkan ampas batang dan daun sejumlah sekitar 210 ton per hektare per tahun cukup bisa menyediakan pakan ternak untuk 10 ekor sepanjang tahun dengan jatah makanan 30 kg per hari.

Adapun hasil sorgum yang bisa diperoleh petani adalah bijih sorgum, tepung sorgum, nira air sorgum, gula nira sorgum, biomassa pakan ternak atau arang bricket. Dari satu hektar sawit bisa diperoleh gabah kering panen sorgum antara 15-18 ton per tahun atau sekitar 6-9 ton gabah kering sosoh. 

Sedangkan batang dan daun sorgum dapat dihasilkan 100-120 ton/hektar/tahun. Nira sorgum dihasilkan 20-35 ton/hektar/tahun yang kemudian bisa diproses menjadi gula sorgum sebanyak 3-5 ton/hektar/tahun. Bahkan ampas batangn dan daunnya bisa dijadikan pakan ternak dengan hasil 80-100 ton/hektar/tahun.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018