Saturday, 16 January 2021


PR 2021, A-Z untuk Dongkrak Daya Saing Kopi

12 Jan 2021, 11:18 WIBEditor : Yulianto

Kopi rakyat perlu perhatian pemerintah agar mampu bersaing di pasar dunia | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Persaingan kopi di pasar dunia makin ketat. Apalagi kini makin banyak negara yang mulai mengisi pasar kopi dunia, seperti China dan negara Afrika (Ethiopia dan Kenia). Karena itu daya saing kopi menjadi menentukan untuk memasuki pasar dunia tersebut.

Ketua Umum Dekopi, Anton Apriyantono mengatakan, agar petani kopi Indonesia tetap berdaya saing, dalam jangka panjang perlu dilakukan perbaikan dari hulu hingga hilir.

Di hulu, budidaya kopi perlu diperbaiki dengan bibit unggul supaya produktivitasnya tinggi. Sedangkan di hilirnya perlu penangan pasca panen yang lebih bagus lagi supaya petani ada nilai tambahnya.

Saat ini dari luas areal kopi sebanyak 1.246.657 ha ini sekitar 73 persen berupa kopi robusta dan 27 persennyakopi arabika. Dari lahan kopi yang relatif cukup luas tersebut, produksinya sebanyak 663.781 ton/tahun.

Namun produktivitas kopi yang ditanam petani relatif rendah, rata-rata sekitar 714 kg/ha. Produktivitas kopi di tanah air ini masih jauh dibanding kopi mancanegara. Bahkan, posisi kopi Indonesia saat ini berada peringkat empat dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia.

“Karena itulah harus diperlukan pendekatan dari hulu hingga hilir untuk mengatasi persoalan ini. Kalau untuk kopi spesialty (arabika) tak ada masalah dengan harga. Karena harganya juga khusus dan kita sendiri bisa menentukan harganya,” tutur mantan Menteri Pertanian itu.

Anton melihat, karakter perkebunan kopi belum ditata secara modern, masih tradisional. Bahkan terkendala penanamannya yang masih di tanam di hutan hutan. “Hampir 90 persen tanaman kopi berada di hutan adalah milik rakyat dan ini memerlukan bibit unggul, sumber air, sarana transportasi karena tempat tinggal mereka jauh jauh,” ungkapnya.

Di sisi lain, mayoritas perkebunan kopi dikelola petani rakyat yang mandiri. Untuk itu Dekopi mendorong petani bermitra dengan perusahaan dan mendorong swasta maupun BUMN untuk berinvestasi di bidang perkebunan kopi.

Bagi petani yang ingin meningkatkan skala usahanya, pun didorong untuk memanfaatkan KUR khusus komoditas kopi yang disediakan pemerintah. Tahun ini, skema pembiayaan KUR dialokasikan sebesar Rp 50 triliun untuk sektor pertanian dan untuk subsektor perkebunan Rp 20,37 triliun.

Khusus untuk komoditas kopi, ditargetkan sebesar Rp 3,96 triliun untuk kegiatan hulu dan Rp 60 miliar di kegiatan hilir. "Dekopi selalu membantu pekebun kopi, sambungkan dengan perbankan supaya bisa mendapat KUR," ujarnya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018