Saturday, 16 January 2021


Dewan Kopi Usul Ada Kawasan Kopi

12 Jan 2021, 11:38 WIBEditor : Yulianto

Dekopi mengusulkan adanya kawasan kopi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Rendahnya produktivitas kopi rakyat dipengaruhi usia tanaman yang sudah mulai uzur alias tua. Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) mengusulkan perlu dikembangkan kawasan kopi agar upaya peningkatan produktivitas kopi bisa berjalan dengan baik.

“Kita harus mengembangkan kopi dalam skala perkebunan seperti Vietnam,” kata Ketua Umum Dekopi, Anton Apriyantono kepada Sinartani di Jakarta. Saat ini mantan Menteri Pertanian ini melihat belum banyak perusahaan swasta membuka perkebunan kopi.

Menurut Anton, peningkatan produktivitas kopi menjadi penting untuk mengisi pasar kopi yang kian terbuka. Salah satunya menggarap satu kawasan kopi secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Di bagian hulu, budidaya kopi perlu diperbaiki dengan bibit unggul supaya produktivitasnya tinggi. Sedangkan di hilirnya perlu penanganan pasca panen lebih bagus lagi supaya petani berdaya saing dan mendapat nilai tambah.

Kalau dari sisi peningkatan produksi belum terasa signifikan, padahal beragam program sudah dijalankan,” katanya. Untuk itu antara hulu dan hilir harus ditemukan supaya jaringan pasarnya lebih dekat, harga lebih baik di tingkat petani. Begitu juga di tingkat petani supaya produksi kopi bernilai tambah.

Karena itu, ke depan perlu memperkuat kelembagaan petani kopi. Diharapkan eksportir bisa menjadi penjamin petani dalam mengembangkan produksinya. Sekitar 70-75 persen kopi yang dihasilkan petani adalah jenis robusta yang harganya ditentukan dunia. 

Soal kualitas, Anton menilai, kopi robusta yang yang dihasilkan petani cukup bagus. Sedangkan kualitas kopi yang dihasilkan Vietnam  lebih rendah. Tapi, ternyata pasar tak selalu butuh kualitas bagus, yang penting harganya murah. Sebab, kopi komoditi seperti ini sudah masuk ranahnya industri.

Namun, menurut Anton, yang menjadi persoalan saat ini harga komoditas kopi, khususnya robusta sedang tertekan.  “Pesaing kita adalah Vietnam yang menjual di bawah Rp 20 ribu/kg  di tingkat eceran. Kalau di tingkat petani harganya tentu lebih rendah lagi,” ucapnya seraya berharap, petani kopi membutuhkan pendampingan.

Anton menambahkan, selain jenis robusta, Indonesia juga dikenal sebagai penghasil kopi arabika (kopi spesialty) terkemuka dunia. Bahkan, jenis kopi arabika Indonesia banyak diminati kalangan mancanegara. “Kalau kopi spesialty (arabika) tak ada masalah dengan harga. Karena harganya juga khusus dan kita sendiri bisa menentukan harganya,” ujar Anton.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018