Sunday, 28 February 2021


Gula Aren Daun Salak Kearifan Lokal Cibaliung, Pandeglang

21 Jan 2021, 11:33 WIBEditor : Yulianto

Gula aren yang dikemas dengan daun salak menjadi ciri khas gula aren Cibaliung | Sumber Foto:Anah M

TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang---Gula aren menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Pandeglang, khusus di Kecamatan Cibaliung. Salah satu yang menjadi ciri khas gula aren Cibaliung adalah dibungkus menggunakan daun salak.

Berdasarkan data statistik Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang tahun 2019, luas lahan aren di kecamatan tersebut sekitar 11,10 hektar (ha)Aren atau dalam bahasa sunda disebut “kawung”, hampir dari seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai jual.  

Berbagai macam produk yang berasal dari pohon aren. Diantaranya, mayang dari tongkol yang menghasilkan nira untuk diolah menjadi gula aren, buah kawung untuk diolah menjadi kolang kalingSelain itu, empelur batang aren untuk diolah menjadi tepung (aci kawung), daun kawung untuk lapisan tembakau (rokok), lidi kawung untuk sapu,  ijuk untuk sapu, kuas, atap dan lain-lain. Sayangnya masyarakat Kampung Sabrang, Desa Cibaliung hanya memanfaatkan sebagai penghasil nira untuk pembuatan gula aren.

Menurut Sunarya Ketua Gapoktan Mulya Karya Desa Cibaliung, hamparan pohon aren yang ada di blok Kampung Sabrang tumbuh dengan subur tanpa dibudidayakan petani, tetapi tumbuh secara alami dengan bantuan luwak/musang. “Setiap pagi dan sore hari para petani pengrajin gula aren berangkat menuju kebun aren yang terletak sekitar 100-500 meter dari rumahnya,” ujarnya.

Sebelum berangkat untuk menyadap ungkap Sunarya, biasanya mereka mempersiapkan bumbung/lodong yang terbuat dari bambu yang panjangnya 1-1,5 m, lodong di cuci bersih kemudian disterilisasi dengan cara di puput dengan asap panas sampai kering. Selanjutnya menggunakan laru dari akar kawao sebagai bahan pengawet alami untuk mencegah agar nira tidak cepat rusak.

Sarni, Ketua KWT Lestari Indah Desa Cibaliung menjelaskan, gula cetak yang dihasilkan pengrajin yang tergabung dalam Gapoktan Mulya Karya, ditampung KWT Lestari Indah untuk dipromosikan melalui pameran dan dipasarkan ke Pandeglang dan Serang.

Anah Mulyanah, Penyuluh Pertanian Kecamatan Cibaliung mengatakan, produk unggulan yang dikelola Gapoktan Mulya Karya dan KWT Lestari Indah di kampung gula aren ini adalah gula aren cetak. Kemudian dipasarkan menjadi oleh-oleh khas Cibaliung yang di kemas menggunakan daun salak. “Ini menjadi kearifan lokal yang tidak bisa di ubah,” ujarnya.

Menurutnya, kualitas gula aren sangat dipengaruhi kualitas air nira, penggunaan laru, proses pemanasan, proses pencetakan dan pengemasan. Karena air niranya sangat mempengaruhi kualitas gula aren, penggunaan pengawet alami dari akar kawao, serta umur dari pohon aren yang di sadap harus diperhatikan.

Proses pemanasan lanjutnya, saat pemasakan juga berpengaruh terhadap karomelisasi gula aren. Dalam proses pencetakan gula pada batok kelapa harus diperhatikan jangan terlalu panas, karena gula akan menjadi kurang padat dibagian tengahnya.

“Proses pengemasan dengan menggunakan daun salak harus diperhatikan. Jika menggunakan daun salak segar, maka gula akan mudah meleleh. Karena itu, daun salak yang akan digunakan harus dikeringkan dulu dibawah sinar matahari,” tutur Anah.

Bidang perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten sangat mendukung kegiatan pengolahan gula aren organik di Desa Cibaliung tersebut. Misalnya dengan membantu memfasilitasi penyediaan bibit aren unggul, memfasilitasi program Desa Organik berbasis komoditi perkebunan.

Bahkan membuat film pendek “Gula Aren Cibaliung” yang di ekspose melalui youtube, facebook, instagram serta dalam bentuk CD (Compact Disc) untuk promosi gula aren organik.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang  mengatakan, dalam menghadapi wabah Covid-19, pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. “Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar SYL

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi juga mengatakan, pangan adalah masalah yang sangat utama. Sebab masalah pangan adalah hidup matinya suatu bangsa.

Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen,” tegas Dedi. 

 

Reporter : Anah Mulyanah/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018