Friday, 26 February 2021


Bercita Rasa Nangka, Kopi Boyolali Tembus Pasar Eropa

15 Feb 2021, 15:59 WIBEditor : Yulianto

Kopi Nangka Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah diminati pasar Eropa | Sumber Foto:Regi (PPMKP)

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Indonesia memiliki berbagai jenis kopi yang berbeda tiap masing-masing daerah. Salah satunya Kopinang,  kopi unik dengan cita rasa fruity yang tajam mengarah ke nangka asal Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Bercita rasa unik,  Kopinang segera menembus pasar Eropa setelah ditampilkan dalam Pelatihan terpadu lintas sektor yang digelar Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor pada akhir Januari 2021. Pelatihan bertema Teknis Perdagangan Mendukung Gratieks telah membuka kesempatan Kopinang menembus pasar ekspor.

Peluang pasar itu terbuka setelah salah satu diaspora Indonesia My Bali Coffee yang telah berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hamburg, KJRI Frankfurt, KBRI Berlin dan Kementerian Pertanian tahun 2020, pada Februari ini kembali memperkenalkan kopi dengan cita rasa unik ini.

Dr Wahida Maghraby, yang pernah bertugas sebagai Atase Pertanian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Belgium, di Brussel mengatakan, upaya memperkenalkan ragam kopi nusantara menjadi salah satu upaya diplomasi ekonomi yang dilakukan perwakilan RI.  Berkaitan dengan  potensi akses pasar untuk komoditas kopi yang dilakukan Februari ini, Konsul Jenderal RI di Hamburg ini menyampaikan informasi yang menggembirakan. 

“Salah satu diaspora Indonesia pemilik My Bali Coffee Sacha Handojo menyenangi cita rasa fruity yang dimiliki kopinang, “ ungkap Wahida yang menjadi salah satu narasumber pelatihan tersebut.

Menurut Wahidah, informasi dari Jerman tersebut secara tidak langsung memberikan bukti betapa cita rasa kopi khas Indonesia yang unik dapat diterima di pasar tujuan ekspor utama kopi Indonesia yakni Eropa. Ia berharap informasi ini dapat menjadi faktor pengungkit bagi stakeholder terkait di Kabupaten Boyolali untuk serius mengembangkan varietas kopi Nangka ini.

Untuk itu Wahida mengajak para pelaku dan pemerintah untuk bersinergi memacu potensi pertanian menembus pasar dunia. Kopi yang sudah lolos  cupping di Perancis ini adalah kopi liberica yang mempunyai kandungan kafein  lebih rendah dibandingkan jenis robusta dan arabika, sehingga aman dikonsumsi oleh semua usia.

Kopinang sebenarnya berasal dari kopi endemik afrika, tepatnya dari Liberia. Tanaman ini dulu di golongkan dalam kelompok kopi robusta. Namun pengelompokan paling baru menyatakan kopi aroma nangka sebagai species kopi sendiri dengan nama kopi liberica.

Melihat antusiasme pasar yang begitu tinggi pada komoditas ini Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali menetapkan Kopinang sebagai komoditas unggulan yang akan dikembangkan. Selain memiliki aroma yang tajam, kopi liberica juga memiliki rasa pahit yang kental.

Sehingga oleh para peracik kopi, kerap di pakai sebagai campuran robusta untuk memberikan tambahan aroma kopi. Biji kopi liberika jauh lebih besar dua kali lipat bila di bandingkan dari biji kopi robusta atau Arabica. Di negara asalnya di Afrika, tanaman kopi liberika mampu tumbuh hingga ketinggian sembilan meter dari atas permukaan tanah.

Turut bergabung membuka pelatihan, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengatakan kehadiran pemangku kebijakan adalah untuk senantiasa berupaya, berikhtiar sekuat tenaga mencapai tujuan pembangunan pertanian, khususnya menggenjot ekspor.  “Tiga kunci keberhasilan ekspor adalah produktivitas, memenuhi kualitas atau kriteria yang diinginkan negara tujuan, dan kontinuitas produk,” katanya.

Mengenai Gratieks, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, program ini sebagai gerakan pemersatu kekuatan seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir. Dalam berbagai kesempatan Mentan menyampaikan gerakan tersebut merupakan gerakan bersama untuk mengoptimalkan potensi pertanian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri serta memenuhi pasar internasional.

Terkait pelatihan Teknis Perdagangan Mendukung Gratieks, yang merupakan pelatihan terpadu dan sinergi lintas sektor, Kepala PPMKP Yusral Tahir menyampaikan, secara serius PPMKP Ciawi Bogor akan melatih petani dengan komoditas unggulan, pengurus kelompok tani, dan penyuluh dalam pelatihan terpadu yang berkelanjutan.

Ia menegaskan, hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap program Gratieks. Pelatihan terpadu ini memiliki target outcome yang terukur, dan akan dilakukan secara berkesinambungan termasuk di dalamnya pelatihan dan bimbingan teknis di lapangan.


Reporter : Osi WR/Regi (PPMKP)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018