Friday, 26 February 2021


Harumnya Harga Vanili, Petani Tanam di Pot hingga Atap Rumah

16 Feb 2021, 18:15 WIBEditor : Yulianto

Nurcahyo Eko Cahyadi, Ketua P4S Griya Vanili Kota Salatiga | Sumber Foto:Regi

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Harumnya nilai jual vanili membuat petani di Kota Salatiga kian antusias membudidayakan tanaman tersebut. Bahkan menanam di pekarangan dengan pot dan polybag. Siapa yang tak tergiur, harga vanili Indonesia termasuk termahal di dunia.

“Antusiasme petani Kota Salatiga menanam vanili sangat tinggi, per kilogramnya sama dengan satu colt pick up sayuran, ujar Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Griya Vanili Kota Salatiga, Nurcahyo Eko Junaidi saat acara Ngopi Tani Radio Pertanian Ciawi (RPC), Selasa (16/2)

Eko menuturkan, rempah Indonesia banyak diminati dan dibutuhkan pasar dunia, salah satunya vanili. Selain untuk kebutuhan makanan dan minuman, vanili juga digunakan untuk industri kosmetik. Hal tersebut mendongkrak nilai jual vanili menjadi komoditas termahal ke dua dunia.

Eko yang juga penyuluh pertanian Swadaya (PPS), penggiat dan petani vanili ini mengatakan, tahun 2020 Indonesia menjadi pengekspor vanili terbesar ke dua didunia setelah Madagaskar. Posisi ini menggeser Prancis yang pada tahun 2019 berada diurutan kedua dan Indonesia ketiga.

Menurutnya, sejak zaman penjajahan Belanda, Salatiga sudah terkenal sebagai penghasil vanili. Bahkan tahun 1980-an vanili pernah mengalami masa kejayaan. Saat itu harganya mencapai angka yang fantastis. Namun karena harganya sempat terpuruk, para petani banyak yang membabat habis tanamannya di kebun.

Kembalikan Kejayaan

Pada 2017, Eko mengatakan, pihaknya bersama Dinas Pertanian Kota Salatiga berkeinginan membangunkan raksasa tidur berjuluk Emas Hijau ini. Bahkan membranding Salatiga menjadi kota vanili. 

Upaya dimulai dengan pendekatan ke kelompok tani dengan dialog dan pelatihan, serta beragam bantuan dari pupuk hingga bibit. Upaya tersebut membuahkan hasil, tidak hanya petani, bahkan masyarakat tertarik menanam vanili. 

Sejak itulah hingga kini petani kembali giat menanam vanili, baik di pekarangan maupun di kebun. Bahkan  petani di Kota Salatiga kini giat menanam vanili di pot, polybag, di teras rumah maupun di atap rumah.

“Petani kini banyak memanfaatkan lahan terbatas dan sempit. Setiap rumah menanam 5–10 pot/polybag, bahkan ada yang menanam 400 pohon, ucapnya.

Namun Eko mengingatkan, vanili merupakan komoditas yang sensitif, termasuk nilai jualnya. Jadi petani kini menanam tidak dalam hamparan atau kebun, tapi di pot, polybag, kalaupun ada kebun biasanya di sekitar rumah. Dengan demikian, tanaman bisa dikontrol setiap saat.

Seperti diketahui melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menargetkan pertumbuhan ekspor untuk komoditas dengan sebutan emas hijau meningkat hingga tiga kali lipat sampai lima tahun ke depan. Untuk itu Kementerian Pertanian terus mendorong pengembangan vanili diberbagai wilayah salah satunya Kota Salatiga.

Harapan tersebut bukan hal yang mustahil mengingat vanili Indonesia memiliki keunggulan kadar vanilin yang melebihi negara lain. Kandungan vanilin Indonesia bisa mencapai 3,9 persen kandungan ini tertinggi didunia.  Sementara Madagaskar sebagai pengekspor tertinggipun hanya 2 persen.

Tidak seperti komoditas lain yang berbeda-beda, vanili di dunia semuanya hampir sama. Yang membedakan tanaman ini ada di conten vanilinya atau rendemennya. Semakin tinggi kadar vanilinya berpengaruh pada nilai jualnya,” tutur Eko.

Sejauh pengetahuannya, Eko mengungkapkan, tanaman yang masih tergolong dalam kerabat Anggrek (Orchidaceae) ini ada 99 jenis di dunia. Jenis vanili tersebut sudah diidentifikasi dan diregistrasi ilmuwan. Namun yang dikembangkan dalam skala ekonomi ada dua jenis, yakni Planifolia dan Vanilla Tahitiensis.  Dua varietas ini hampir menguasai pervanilian didunia.

Data dari berbagai sumber, importir terbesar vanilla Indonesia adalah Amerika Serikat (47,73 persen), Prancis (18,10 persen), Jerman (9,31 persen), Kanada (5,80 persen), Jepang (2,73 persen), Belanda (2,22 persen), Mauritius Afrika Timur (2 persen), Switzerland (1,27 persen), Australia (1,25 persen), dan Itali (1,19 persen).

Sementara itu dalam berbagai kesempatan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, negara Indonesia dianugrahi sumberdaya dan kekayaan alam yang begitu besar serta sumberdaya manusia yang unggul.

Karena itu, sudah sepatutnya negara Indonesia ini menjadi negara kaya dan negara pengekspor produk pertanian. Akses pasar harus kita kuasai dan dibuat, karena peluang ekspor pertanian luar biasa,” tegasnya.  

Reporter : Regi (PPMKP)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018