Wednesday, 14 April 2021


Petualangan Milenial Mengenal Kopi di Tanah Gayo

02 Mar 2021, 14:18 WIBEditor : Gesha

Alfi Syahri Nurazis (baju merah) didampingi Ali Imran melihat tanaman kopi hasil pemangkasan | Sumber Foto:ABDA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh -- Empat sekawan mahasiswa semester tiga Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, kali ini memanfaatkan liburan semester berlibur ke dataran tinggi Gayo, untuk lebih mengenal kopi dari Serambi Aceh ini. 

Empat sekawan itu adalah Alfi Syahri Nurazis, Nafis, Umam dan Fadhil. Sebagai Milenial, Alfi yang juga  Duta Generasi Berencana tingkat provinsi Aceh tahun 2019, mengaku terpanggil jiwanya untuk mengenal Gayo dan kopinya secara lebih dekat.

Untuk itu ia memanfaatkan waktu disela sela kuliah daring untuk mencoba berbisnis kopi Gayo secara online dengan mendesign kemasan, yang disuport oleh Badan koordinasi keluarga berencana nasional, (BKKBN) Aceh. 

Bahkan pada pertengahan Januari, empat sekawan ini  dapat berkunjung ke Takengon dan Simpang Tiga Redelong. “Suasananya cukup dingin dan sejuk, apalagi saat ini terjadi Lanina, sering terjadi hujan serta kabut, suhunya hingga 18 ℃”, ucapnya sambil promosi. 

Disana dirinya melihat kebiasaan langsung masyarakat Gayo yang sering memakai baju yang berlengan panjang, hoodie ataupun jaket untuk mengatasi rasa dingin tersebut. "Menariknya, selain bertanam kopi, ternyata masyarakat Gayo juga bertanam padi, sayuran bahkan tembakau," tambahnya.

Salah satu tempat pengelolaan kopi arabika yang terkenal di Gayo adalah Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (sebelumnya bernama Kebun Percobaan Kopi Gayo) yang merupakan instalasi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh.

Walaupun ini kunjungan pertama kali, para mahasiswa disambut hangat oleh Ali Imran selaku teknisi lapangan KP. Gayo. Selama beberapa hari di kebun, banyak mendapat ilmu dan wawasan tentang kopi arabika, mulai dari jenis kopi, budidaya kopi sampai proses pembuatan bubuk kopi yang siap diproduksi untuk dijual. “Kami dilayani dengan sangat baik dan ramah serta disuguhkan kopi arabika gayo yang sangat nikmat dan berkhasiat," tuturnya.

Kebun Gayo

Kebun Percobaan Gayo tersebut ternyata terdapat lebih dari 50 varietas kopi arabika dari berbagai daerah bahkan luar negeri. Kebun kopi yang ada disini memiliki luas total kurang lebih 18 hektar yang terbagi ke 4 tempat yang berbeda.

Beberapa jenis kopi arabika yang terdapat disini seperti wine, honey, peaberry, premium dan spesiality Gayo. Untuk menanam kopi arabika sendiri, bisa dengan cara generatif ataupun vegetatif dengan membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun agar bisa menghasilkan buah/biji kopi. 

Tidak hanya dari kalangan mahasiswa Aceh, kebun KP.Gayo telah banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun turis dari luar negeri, banyak pejabat-pejabat tinggi sudah berkunjung kesana serta mahasiswa dari berbagai universitas mancanegarapun sudah pernah melakukan studi di KP. Gayo. 

Petani kopi bisa menjual hasil panen mereka sekitar Rp.10.000 per bambunya. Namun, karena kondisi pandemi saat ini penjualan kopi turun anjlok hingga 50 persen. Banyak petani kopi yang harus menerima kepahitan tersebut, tapi mereka harus tetap menjalankan pekerjaan tersebut karena dari situlah mereka menghasilkan uang untuk menafkahi keluarganya. 

Teknisi Lapangan KP Gayo, Ali Imran menuturkan instansinya sangat terbuka untuk menjadi tempat praktek mahasiswa. Mulai dari pembibitan hingga pascapanen. 

Reporter : Abdul Azis (Abda)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018