Wednesday, 14 April 2021


Merawat Kebun Kakao, Menambah Pendapatan Petani

02 Apr 2021, 02:40 WIBEditor : Ahmad Soim

Wakil Bupati saat pemangkasan tanaman Kakao didampingi Sekretaris Distanpan Pidie (baju batik) dan Ketua FKA Aceh (paling kanan) | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Coklat dan minumannya, digemari oleh semua usia. Namun untuk menyajikannya, tanaman  Kakao yang menghasilkan coklat tersebut butuh perawatan, sehingga berkualitas dan memiliki  cita rasa yang menarik.

Kabupaten Pidie, memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor perkebunan. Selain terdapat beberapa komoditi andalan seperti, Kopi arabika, Kelapa dalam, Pinang, Kemiri, Sagu dan Lada juga Kakao.

Wakil Bupati Pidie, Fadlullah TM Daud, ST,  menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan pada kegiatan Gerakan masal pemangkasan Kakao di desa/gampong Siron Paloh Padang Tiji, Kabupaten Pidie (1/4/21).  

Luas areal Kakao di Pidie lanjut Wabup mencapai 10.376 ha, yang tersebar di beberapa wilayah antara lain kecamatan Tangse seluas 2.830 ha, Glumpang Tiga 1.657 ha, Padang Tiji 1.563 ha, Titue 1.092 ha dengan produktivitas 581 kg/ha dan produksi mencapai 3.625 ton. 

Pemerintah Kabupaten Pidie terus mengupayakan peningkatan produksi sektor perkebunan dan menjadi salah satu prioritas pembangunan.

"Ada beberapa permasalahan yang dihadapi petani Kakao diantaranya banyak tanaman yang sudah tua, kurang pemeliharaan (pemangkasan dan pemupukan) kurangnya pengendalian HPT dan juga penanaman bibit yang tidak unggul", bebernya.

Padahal pemangkasan merupakan suatu tindakan untuk mengoptimalkan nilai produksi secara berkelanjutan.

Pengaruh pemangkasan pada tanaman Kakao memberikan dampak yang sangat besar, yaitu meremajakan kembali tanaman yang sudah tua, menurunkan kelembaban kebun, dan memperoleh iklim mikro yang sehat dan peningkatan produktivitas. "Pemangkasan yang efektif dan tepat waktu dapat membantu dalam pengendalian penyakit", sambungnya.

Produksi Kakao secara nasional bisa menghasilkan 1,2 ton/ha/tahun, "namun kenyataannya di Pidie hanya menghasilkan 574 kg/ha/tahun", lirihnya.

Untuk itu, kata Wapub harus ada upaya khusus yang perlu dilakukan bersama, agar produksi lebih meningkat.

"Melalui gerakan masal pemangkasan Kakao bagi petani dapat meningkatnya produksi, serta menambah pendapatan petani", paparnya.

Sementara Kadistanbun Aceh Ir Cut Huzaimah MP menjelaskan, pembangunan sektor pertanian termasuk Aceh, menunjukkan hasil yang cukup berarti dalam pembangunan ekonomi nasional. Ini setidaknya terlihat dari perannya yang besar terhadap Product Domestic Bruto (PDB), penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat dan pengentasan kemiskinan, serta perolehan devisa melalui ekspor. Bahkan secara tidak langsung sektor perkebunan juga berperan kondusifitas bagi pelaksanaan pembangunan yang bersinergi dengan sub sektor lainnya.

Lebih lanjut dijelaskan, luas areal perkebunan di Aceh 1.075.665 ha dengan produksi 1.134.061 ton, yang terdiri dari perkebunan rakyat 839.980 ha dengan produksi 765.091 ton, produktivitas 1.370 kg/ha dengan menyerap tenaga kerja 831.537 KK serta perkebunan besar yang luasnya 235.655 ha dengan produksi 368.970 ton. Luas perkebunan tersebut akan mampu menyerap tenaga kerja 682.534 orang/ha/tahun.

Berdasarkan data statistik perkebunan, Kabupaten Pidie memiliki luas areal Kakao sebesar 10.382 ha, jumlah tanaman menghasilkan seluas 6.176 ha, dengan produktivitas Kakao sebesar 3.591 ton dan 581 kg/ha, masih tergolong kecil dibandingkan potensi yang bisa mencapai 3 ton/ha. 

Menurutnya, salah satu hal tersebut disebabkan pemeliharaan tanaman dengan cara pemangkasan yang masih kurang dilakukan oleh petani.

BACA JUGA:

Pemangkasan kakao lanjut Cut Huzaimah, mempunyai tujuan selain agar tanaman tetap rendah sehingga mudah perawatannya, juga untuk membentuk cabang cabang produksi yang baru secara berkesinambungan. Selanjutnya juga mempermudah masuknya cahaya (difusi) dan memperlancar sirkulasi udara dalam tajuk serta memudahkan dalam pengendalian HPT sehingga mengurangi terjadinya fluktuasi produksi yang tajam (bienial bearing) dan resiko terjadinya kematian tanaman, yang disebabkan pembuahan yang berlebihan (overbearing die-back) serta dapat mengurangi dampak kekeringan. 

Kita patut memberikan apresiasi kepada petani yang senantiasa memelihara dan merawat tanaman Kakao dengan serius. "Walau terkadang masih banyak permasalahan yang kerap dihadapi petani Kakao kita", ungkapnya.

Kakao yang tumbuh begitu tinggi, tentunya akan merugikan petani karena nutrisi yang diserap akar pohon dari tanah disebarkan ke seluruh ranting pohon. Sebabnya beberapa pohon Kakao yang terlanjur tinggi dan tidak dirawat dengan baik, buahnya tidak lagi tumbuh, dan jika  tumbuh tanaman lain di sekitarnya, maka hal ini mengganggu penyerapan nutrisi dan tanah.

"Mengganti kebiasaan lama memang terbilang sulit, tapi bukan artinya kita tidak bisa", tantangnya. Pemangkasan sangat penting untuk menjaga produktivitas dan keberlangsungan budidaya tanaman kakao. Dengan pemangkasan, pertumbuhan tanaman kakao akan optimal, sehat dan relatif tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Pemangkasan juga bertujuan untuk membuang cabang tua yang kurang produktif atau terserang hama penyakit, sehingga hara dapat didistribusikan ke cabang muda yang lebih produktif. "Dengan demikian diharapkan produktivitas optimal bisa dicapai secara kontinu", tuturnya.

Ini memang bukanlah persoalan yang mudah. "Namun kita harus yakin dan optimis serta tetap semangat, bahwa kita bisa dan mampu dalam merawat tanaman kakao demi kesejahteraan dan peningkatan pendapatan petani", pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Forum Kakao Aceh Ir T. Iskandar MSi, menyampaikan terimakasih kepada Distanbun Aceh dan jajaran Pemkab Pidie. Ia juga memberikan motivasi kepada petani dan peningkatan SDM penyuluhnya untuk merubah pola pikir.

Pihaknya juga mengharapkan kepada "Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Aceh agar dapat membuat kajian  demplot melalui teknologi inovasi yang dapat dijadikan contoh sehingga dapat membangkitkan gairah dan semangat petani", pintanya.

Disisi lain Ka. BPTP Aceh, Ir M Ferizal MSc saat diskusi memberi dukungan serta respon positif. "Dalam waktu dekat pihaknya merencanakan untuk membuat demplot dan pelatihan/bimtek dengan melibatkan peneliti/penyuluh", imbuhnya.

Acara tersebut selain dihadiri Ka. BPTP Aceh, unsur Forkopimda, Kadistanpan Pidie, presiden petani Kakao dunia dari Pidie Jaya, dan tokoh masyarakat serta petani/penyuluh, Dekan FP Unaya/pakar dan seratusan petani yang langsung melakukan pemangkasan kebun Kakao secara masal.

.--+

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018