Wednesday, 14 April 2021


Kopi Talio Hulu (Tahulu), Nikmatnya Kopi Organik Lahan Gambut

02 Apr 2021, 10:58 WIBEditor : Gesha

Kopi Tahulu | Sumber Foto:Balittra

TABLOIDSINARTANI.COM, Pulang Pisau -- Kopi terbaik memang biasa ditanam di lahan tinggi. Tapi ternyata lahan rawa gambut pun mampu menghasilkan kopi organik bercitarasa nikmat lho.

Dalam perjalanan Tim Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Kamis (1/4) di Desa Talio Hulu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, ada hal yang menarik ketika memasuki desa tersebut. Di kanan kiri jalan terlihat tanaman kopi yang tumbuh subur secara alamiah, terlihat seperti tanpa perawatan. 

Mengapa menarik?karena Desa Talio Hulu, berada pada wilayah  rawa yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut, dengan lahan berbahan dasar gambut. 

Di Desa Talio Hulu ini, tim Balittra menemui Widodo, seorang petani kopi dan sekaligus pengelola home industri “Kopi Taliho”. Menurutnya, petani di desa ini menanam kopi di lahan pekarangan mereka tanpa perlakuan agronomis apapun. "Mereka tidak melaksanakan  pengapuran, pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta pemangkasan," jelasnya.

Namun, tanaman terlihat tumbuh baik dengan vigoritas yang tinggi, tanpa terlihat adanya keracunan ataupun kekurangan unsur hara.

"Lahan pekarangan yang mereka tanami kopi tersebut terlihat subur dan gembur dengan banyaknya serasah serasah dari bagian tanaman kopi yang sudah ditanam puluhan tahun yang lalu," bebernya.

Gulma pun tidak terlihat di bawah tanaman kopi mereka, hal ini disebabkan karena jarak tanam kopi yang tidak beraturan, sehingga kanopi daun menutupi bagian bawah dan tidak memberikan kesempatan terhadap gulma unutuk menyerap sinar matahari.

Dan yang sangat menguntung bagi mereka adalah tidak terdapatnya serangan hama dan penyakit tanaman selama ini, sehinggga tidak dilakukan pengendalian secara kimia, berarti kopi yang mereka hasilkan ini bersifat “organik”.

Ada dua varietas yang berkembang di lahan gambut ini, yaitu Rubusta dan Arabika. Yang dominan ditanam petani adalah varietas Rubusta. Mereka beranggapan, varietas Rubusta berbunga sepanjang tahun, sehingga frekwensi panen mencapai 4 kali pertahun, sedangkan frekwensi panen varietas arabika hanya 2 kali setahun.

"Pemasaran kopi dalam bentuk biji sekarang ini agak kurang, pedagang pengumpul atau pedagang pasaran tidak menyerap sebanyak dulu lagi, yang menyebabkan hasil biji kopi di petani menumpuk," tuturnya.

Untuk mengatasi hal tersebut,  Widodo beserta istri dengan kelompok tani Mawar, menggerakkan home industri pembuatan Kopi bubuk siap saji dalam kemasan yang menarik dengan merek dagang Kopi “Tahulu”. Kopi ini mempunyai kekhassannya berbahan dasar biji kopi asli, tampa campuran bahan lain.

Dalam sehari, mereka mampu sangrai dan menggiling sebanyak 20 kg biji, dan bahkan lebih tergantung permintaan.

Pemasaran kopi Tahulu, sudah merambah ke ibu kota Provinsi Kalteng Palangkaraya. Mereka berharap semoga lebih berkembang lagi, sampai keluar Kalteng.

Selama ini kopi Tahulu juga dijadikan sebagai oleh oleh khas rawa gambut, yang melanglang buana sampai ke Pulau Jawa. Khususnya bagi tamu tamu yang datang dan bertugas di desa Talio Hulu.

===

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Muhammad Saleh dan Mala Agustina
Sumber : Balittra
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018