Friday, 07 May 2021


Sunariati, Produksi Kopi Laos Instan dari Hasil Magang

16 Apr 2021, 09:49 WIBEditor : Ahmad Soim

Kopi Laos Instan | Sumber Foto:Soleman

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Batu -- Sunariati, Ibu rumah dari Mulyoarjo Kecamatan Lawang, berbekal hasil  magang di BBPP Ketindan tentang pengolahan tanaman obat, kini ia bisa bisnis dan membuka pelatihan.

“Kalau saya itu  fokusnya pembuatan kopi laos instan, jadi ada beberapa teman yang ditunjuk dari Dinas Pertanian Jawa Timur untuk magang waktu itu tahun 2016, tetapi kopi laos sendiri sudah  dikembangkan tahun 1995.” katanya.

Bahan kopi laos terdiri dari jahe dan rempah rempah. Setelah mendapatkan resep dari BBPP Ketindan, resep tersebut dikembangkan sesuai dengan selera pasar, mengurus perijinan hak merk, hak paten produknya.

Kemudian tahun 2019 dari pihak BBPP sebagai penemu resep kopi laos bermusyawarah dengan beberapa anggota untuk mendapatkan ijin dan dukungan pengembangan usaha.

Beberapa anggota yang terlibat dalam pengembangan bisnis ini, mendirikan rumah Tahfiz Al Qur’an. Santrinya tidak dipungut biaya, Lalu mereka mendirikan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) dengan nama Milenial Ummiku untuk salah satu sumber pendanaan rumah Tahfiz..

Pengembangan produk pun dilakukan.   “Produk saya kan ada secang instan, temulawak instan, ada sabun bidara, sabun temulawak, terus saya rencana membuat sabun untuk gatal-gatal pakai laos,” katanya. “Kemudian saya mencoba mencari bibit-bibit tanaman yang mulai langka di pasaran yang manfaatnya banyak sekali,” imbuhnya.

 Di sela-sela mengurus perijinan produk kopi laos, kemudian dia mengembangkan tanaman obat keluarga (toga), beberapa konsumen sering bertanya obat kepadanya, banyak juga yang menginginkan tanaman herbal miliknya. “Saya sering konsultasi, Alhamdulillah saya menyimpan resepnya dari dayang sumbi,”katanya.

“Ada resep saya dulu itu akhirnya saya budidaya, ada daun mint dari pada beli, saya pakai campurannya jahe instan, tapi untuk budidayanya itu saya serahkan teman di kampung,”imbuhnya.

Sunariati mengatakan  tempatnya dijadikan seperti showroom, siapa yang budidaya tikel balung, siapa yang budidaya pegagan, tanaman stesia, dibaginya secara merata kepada anggotanya.

 

Oven dan Harga Jual

Sunariati menggunakan mesin oven listrik untuk mengeringkan daun-daun dari beberapa tanamannya, terkadang ada teman yang membelinya, suhu yang biasa digunakan sekitar 50 derajat agar zat aktifnya tidak rusak apabila lebih dari 60 derajat daun-daunnya akan menjadi rusak. “Kalau diangin-anginkan hasilnya tidak maksimal, cepat rusak, warnanya kurang bagus. seperti bunga telang kita angin-anginkan dengan dioven akan beda, kalau dioven warna ungunya cerah kalau diangin-anginkan warnanya coklat, kalau direbus tetap ungu, “katanya.

“Bunga telang kalau untuk seperti cake, roti tawar  harus digiling, dioven digiling halus di buat campuran, nanti warnanya ungu, kalau buat minuman buat campuran markisa, saya kan punya tanaman markisa itu saya campur dengan bunga telang, itu warnanya  ungu,”tambahnya.

BACA JUGA:

Melalui P4Snya, Sunariati  menyelenggarakan pelatihan membuat kopi laos instan sebagai produk yang sudah dirintisnya sejak awal, materi lain yang diberikan dalam pelatihannya adalah pembuatan mie herbal, pembuatan sabun, baik itu sabun untuk wajah maupun sabun mandi. “kalau untuk pelatihan kopi laos satu paket 4,5 juta untuk praktek membuat saja, kalau sabun saya tetap pakai rimpang temulawak, pakai kopi, sabun kopi, pakai laos untuk yang gatal-gatal, kalau sabun mandi saya pakai sambiloto sama laos,”jelasnya.

Sunariati berencana menjadikan tanaman urang aring, pegagan, daun mint, tikel balung dan butro wali sebagai ikonnya, tanaman markisa dijadikan penunjang bunga telangnya sedangkan untuk butrowali dan tikel balung untuk produk sendiri, tanaman tikel balung untuk bahan baluran, butrowali untuk jamu dan bahan sabun untuk anti septik. “Lampes, saya pakai konsumsi sendiri, kalau ada tamu ada pelatihan untuk teh nya, teh lampes itu sebagai minuman juga, daunnya seperti kemangi, ternyata juga bisa untuk peluruh bau keringat, “imbuhnya.

Sunariati menjelaskan, “kalau kursus ditempat saya itu titik beratnya  supaya produknya tahan lama, pembuatan label sekali sudah jadi, karena pengalaman saya yang sering salah akhirnya ke BPPOM itu masih salah, saya belajar, sekali buat baik dari Dinkes, Desperindak, BPPOM sampai sertifikat halal itu sudah benar,”katanya. “Pengalaman saya kalau merubah biayanya hampir 700 ribuan  untuk satu label, harus difoto bahannya 1 per satu saya tidak mau ambil di internet,”imbuhnya

Sunarti menjual bunga telang Rp 5 ribu per polibag, tanaman 7 jarum dengan harga Rp 10 ribu, daun mint Rp 10 ribu, sedangkan bibit jahenya masih membeli dari temannya seharga Rp 2 ribu  per polibag.

Produk kopi laosnya sudah banyak dipasarkan baik secara langsung maupun melalui media market place, kopi yang digunakan berjenis robusta, karena kalua jenis arabica kadar asamnya tinggi sehingga tidak bisa mengkristal dengan baik serta dengan teknik pengilingan yang berbeda.

 -+

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Soleman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018