Friday, 07 May 2021


Kementan Bentuk Tim Gugus Percepatan Kejayaan Kembali Rempah Nusantara

23 Apr 2021, 16:32 WIBEditor : Ahmad Soim

Kepala FAO perwakilan Indonesia Richard ikut hadir dalam Webinar rempah bersama Mentan SYL | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Untuk mempercepat upaya mengembalikan kejayaan rempah Nusantara, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo membuat Tim Gugus Percepatan. “Tim ini bersifat sementara untuk membantu mempercepat langkah kita menuju kejayaan kembali rempah Nusantara,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo di Jakarta (Jumat, 23/04/2021).

Rempah Nusantara pernah mengguncang sejarah dunia pada era Eropa mengawali era modern. “Kita perlu bersyukur pada waktu  Eropa mengawali era modern,  dengan hanya sebuah wilayah seluas 240 KM2 yakni Pulau Maluku, mampu membuat negara negara Eropa berebut kekuasaan untuk mendapatkan kekayaan dari rempah di Maluku,” papar Soedjai Kartasasmita dalam Webinar “Mengembalikan Kejayaan Rempah Nusantara” ini.

Soedjai mengungkapkan dalam sejarah rempah nusantara pernah memberikan keuntungan yang besar dalam perdagangan produk ini ke Eropa. “Harga rempah nusantara waktu itu 900 kali lipat dari harga rempah di Maluku,” tuturnya. Sebuah Kapal Ingris yang memuat rempah dari Indonesia dicatat dalam sejarah nilainya separuh dari kekayaan Ingris waktu itu.

Tokoh penting untuk bisa mengembalikan kejayaan rempah Nusantara ini sebut Dirjen Perkebunan Kasdi Subagiyono adalah petani. “Oleh karena itu, upaya mengembalikan kejayaan rempah Nusantara adalah dengan menghadirkan korporasi petani atau cluster perkebunan rempah sekaligus untuk optimalisasi ekspornya,” tambahnya.

BACA JUGA:

Diakuinya, produktivitas rempah Indonesia masih rendah. Indonesia kini berdasarkan data BPS memiliki kebun lada seluas 190 juta ha, kebun pala 243 ribu ha, kebun cengkeh 570 ribu ha, kebun kayu manis 88 ribu ha. Produksi yang dihasilkan dari luas kebun itu, lada sebesar 87 ribu ton, 40 ribu ton pala, 140 ribu ton cengeh dan 73 ribu kayu manis. Produktivitas kebun lada Indonesia baru 07 ton per ha, pala 0,5 ton per ha, cengkeh 0,4 ton perha, dan kayu manis 1,3 ton per ha.

Maka strategi yang ditempuh untuk menyiapkan rempah Indonesia merebut pasar dunia adalah meningkatkan produksi dan produktivitas rempah nusantara. “Selain membuat cluster atau korporasi petani rempah, juga diperlukan investasi, pemenuhan kualitas rempah sesuai dengan standar ekspor, pendampingan dan oembinaan mutu produk, juga kerjasama  promosi dan pemasaran,” tambahnya.

Pelaku eksportir rempah Indonesia, Sigit Ismayanto dari PT Alam Sari Interbuana mengatakan langkah langkah konkrit untuk memampukan petani dalam penerapaan GAP, GHP, GMP di lapangan diperlukan agar produk rempah Indonesia berkualitas dan bisa lebih berdaya saing di pasar global. 

Ketua Dewan Rempah Nusantara Ir Gamal Nasir mengatakan dewan komoditas yang dipimpinnya belum bisa banyak berbuat untuk kejayaan kembali rempah Nusantara. “Kita masih berusaha agar DRN bisa berfungsi seperti dewan rempahnya India, yang sudah mampu berperan aktif mengembangkan dan mempromosikan rempah India di pasar global,” tambahnya.

Saat ini yang baru bisa dilakukan Dewan Rempah Nusantara adalah mensinergikan antar kelembagaan untuk memperkuat upaya membangkitkan kejayaan rempah nusantara kembali.

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018