Friday, 18 June 2021


Industri Pilih Ekspor, Pemerintah Jamin Stok Minyak Goreng Tersedia

17 May 2021, 15:26 WIBEditor : Yulianto

Penghapusan Pungutan CPO bisa tingkatkan ekspor sawit | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian menjamin stok minyak goreng di dalam negeri lebih dari cukup. Kenaikan harga yang terjadi bukan karena ketersediaan kurang, tapi karena pangaruh kenaikan harga bahan baku (crude palm oil/CPO).

“Harga minyak goreng yang cendering naik, karena dipicu oleh kenaikan bahan bakunya,” kata Sekretaris Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Antarjo Dikin kepada wartawan, Senin (17/5).

Namun demikian menurutnya, stok atau ketersediaan CPO dan minyak goreng di dalam negeri cukup besar.  Tahun 2021, diperkirakan ketersediaan minyak goreng mencapai 5,6 juta ton, sedangkan kebutuhannya sebanyak 5,56 juta ton. Kebutuhan tersebut terdiri untuk konsumsi (pangan) sebesar 2,48 juta ton dan industri 3,074 juta ton.

Arinya, ada surplus minyak goreng di dalam negeri sebanyak 42.589 ton. Pada akhir Mei ini saja diperkirakan neraca kumulatif minyak goreng surplus sebanyak 554.900 ton.

“Stok minyak goreng kita banyak. Kalau soal kenaikan harga minyak goreng bukan hanya Indonesia yang mengalami, negara lain yang juga produsen CPO yakni Malaysia juga mengalami kenaikan harga,” kata Antarjo.

Antarjo melihat, kenaikan harga CPO di pasar Internasional dipicu peningkatan permintaan.  Harga CPO yang tinggi bisa menjadi hambatan bagi peningkatan kebutuhan di pasar domestik. Ditambah lagi, penguatan rupiah terhadap hard currency menjadikan harga CPO di pasar global akan tinggi.

Data Ditjen Perkebunan, harga CPO pada Januari masih berada di angka Rp 14.485/kg, Februari naik menjadi Rp 14.520/kg, Maret naik lagi menjadi Rp 14.591/kg dan April mencapai Rp 14.774/kg. Artinya selama empat bulan terakhir harga minyak goreng sebesar Rp 14.593/kg.

Akibatnya, mendorong pelaku usaha lebih banyak mengekspor CPO. Apalagi sebelumnya ekspor sempat terhambat karena pelabuhan tujuan ekspor lockdown akibat wabah Covid-19.

Namun demikian, Antarjo mengingatkan kepada pelaku usaha, khususnya industri CPO untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Apalagi, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia.

“Kita minta kepada eksportir, jangan karena permintaan tinggi, kebutuhan dalam negeri dilupakan,” ujarnya. Bahkan lanjut Antarjo, penyebaran minyak goreng di wilayah Indonesia juga harus merata agar gejolak harga tidak terjadi, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

 

Reporter : Julian/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018