Friday, 18 June 2021


Sempat Dikhawatirkan, Stok Gula Cukup Hingga Musim Giling Tiba

17 May 2021, 16:17 WIBEditor : Yulianto

Petani tebu | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sempat dikhawatirkan terjadi kelangkaan dan ada lonjakan harga, ternyata stok gula di dalam negeri hingga Lebaran Idul Fitri tetap aman. Catatan Ditjen Perkebunan sampai 30 April ada stok gula sebanyal 717.447 ton, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuan dalam negeri.

“Sebelum ramadhan lalu, sempat ada kekhawatiran terhadap stok gula. Bahkan kemudian ada rencana impor untuk cadangan untuk menjaga agar tidak ada gejolak harga,” kata Sekretaris Ditjen Perkebunan, Antarjo Dikin kepada wartawan di Jakarta, Senin (17/5).

Namun hingga kini tidak ada keluhan kekuranag gula di konsumen. Bahkan per 30 April stok gula sebanyak 717.447 ton. Stok tersebut berada di rumah tangga sebanyak 328.743 ton atau 46 persen, pedagang 151.594 ton (21 persen) dan pabrik gula sebanyak 226.967 ton. Sedangkan di petani sekitar 10 ribu ton.

Dengan kebutuhan 229.478 ton/bulan, stok yang tersedia tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga bulan ke depan atau hingga musim giling tebu tiba.  “Pada Juli mendatang beberapa sentra tebu, khususnya di Jawa sudah mulai musim giling, sehingga akan ada tambahan pasokan lagi. Jadi tak perlu dikhawatirkan keberadaan gula dalam negeri,” katanya.

Diprediksi pada Juni akan ada produksi gula sebanyak 341.033 ton, Juli 404.327 ton, Agustus 552.601 ton, September 417.660 ton, Oktober 259.971 ton dan November 125.869 ton.

Namun demikian, lanjut Antarjo, yang perlu diantisipasi adalah penyebarannya. Sebab hanya beberapa wilayah Indonesia yang mempunyai industri gula, sehingga wilayah di luar sentra tebu perlu diantisipasi distribusinya.

“Penyebaran atau distribusi gula yang perlu ada pergerakan, terutama wilayah yang tidak ada pabrik gulanya atau minus,” ujarnya. Beberapa wilayah yang minus yakni Sumatera Utara, kebutuhannya sebanyak 23.808 ton, namun tidak ada produksinya. Jambi minus 12.344 ton, Sumatera Barat minus 18.994 ton, dan hampir seluruh Pulau Kalimantan, Maluku, NTT dan Papua minus.

Sedangkan wilayah lainnya, seperti Lampung, Sumatera Selatan dan Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggra maish cukup aman. Sebab, di wilayah tersebut terdapat industri gula.

“Untuk meningkatkan produksi gula memang ke depan harus ada program penambahan luar areal dan perbaikan pabrik gula yang sudah tua,” kata Antarjo.

Tahun lalu lanjutnya, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan ke petani untuk program intensifikasi melalui bantun pupuk dan herbisida. Revitalisasi pabrik gula juga harus dilaksanakan untuk meningkatkan rendemen tebu.

 

 

Reporter : Julian/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018