Thursday, 17 June 2021


Fadhli Bangun Roasting Kopi Kasturi, Mesinnya Rp 1,5 Miliar

02 Jun 2021, 14:38 WIBEditor : Ahmad Soim

Fadhli dan Roasting Kopi Kasturinya | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Selesai kuliah, Ia melanglang hingga ke Pekan Baru dan Bekasi, untuk bekerja dan menjadi rekanan Pertamina, Ia juga sempat menjadi marketing mesin roasting. Hingga akhirnya, ia beralih profesi untuk merintis usaha sendiri Roasting Kopi Kasturi.

Pria kelahiran Banda Aceh tahun 1973 ini, menggeluti roasting kopi sudah sejak lama, tapi mereknya baru didaftarkan tahun 2013 lalu. Sebelumnya pada tahun 1997, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK) ini pernah melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Bener Meriah. 

Semenjak itu pula, Fadhli mulai mengenal roasting kopi, walau tidak serius akibat terkendala permodalan. Namun pada tahun 2008 ia bulatkan tekad untuk fokus dalam usaha produksi bubuk kopi (roasting). 

Alasannya mendaftarkan merek dagang "Kasturi" dan sudah keluar patennya dari HAKI tahun lalu, karena saat itu pekerja yang melakukan roasting pernah bekerja di pabrik kopi yang beralamat di jalan Kasturi Gampong Kramat. "Dialah yang mengusulkan nama itu, tapi sekarang sudah almarhum," kenangnya.

Sebelumnya ada beberapa merk yang kita ajukan ke Dirjend HAKI sambungnya, tapi ditolak karena beradu dengan merk dagang perusahaan lain.

Ada dua jenis kopi yang diproduksi katanya, selain Arabika ada juga kopi Robusta Aceh. Kalau kopi Arabika menggunakan mesin roasting dengan bahan bakar gas sedangkan kopi Robusta menggunakan mesin roasting dengan bahan bakar dari kayu.

BACA JUGA:

Di tempat usahanya ada dua unit mesin roasting, yang mini kapasitas 6 kg dan ada juga yang berkapasitas 150 kg sebutnya. Namun selain itu ada juga pengolahan di Gampong Wih Nareh, Takengon.

Untuk saat ini pemasaran hanya berdasarkan pesanan saja. Pasalnya, karena keterbatasan tenaga yang dimiliki, selain itu dirinya juga sibuk pulang pergi dari Takengon ke Banda Aceh, kilahnya. 

Semangat untuk membuka sendiri usaha produksi kopi dimulai tahun 2014, saat itu dirinya bekerja sebagai marketing mesin roasting kopi di Bekasi. Dibenaknya muncul dan berniat untuk memiliki mesin sendiri. Kita memproduksi 2 jenis mesin roasting sambungnya, yaitu kapasitas 20 kg dan 80 kg. Sementara mesin di Takengon kapasitas produksinya lebih besar lagi. "Kalau yang kapasitas 20 kilo per bath (Full hot air) harganya juga tak kurang dari Rp 1,5 miliar," tandasnya. 

Full Hot air, biji kopi dimasak dengan uap panas. Artinya biji kopi saat diroasting tidak bersentuhan dengan logam (mengambang), injek uap panas ke dalam tabung. "Biasanya mesin roasting bulat seperti drum, kalau ini berbentuk tabung empat persegi. Kalau dilakukan uji Lab, maka dapat dipastikan roasted beannya tidak terkontaminasi dengan logam,' jelasnya. 

Sejak kecil dirinya memang sudah bercita cita ingin mempunyai industri, walaupun ayahnya mantan pensiunan di kantor Gubernur Aceh, tapi dirinya tak pernah tertarik untuk menjadi pegawai negeri, malah ingin menjadi pengusaha yang sukses. 

Walaupun permodalan hingga saat ini masih menjadi momok baginya, "tapi ia tak pernah menyurutkan langkahnya untuk tetap bertahan dan terus ingin maju dalam bisnis perkopian," cetusnya. 

Lokasi industrinya sekarang berdekatan dengan Stadion Harapan Bangsa, Lhongraya Banda Aceh. Ketika ditanya, "sampai saat ini dirinya belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik dari UMKM maupun bantuan langsung," jawabnya. 

Saya merintis usaha ini mulai dari nol, kalaupun ada keuntungan sedikit maka uangnya saya tabung dan jika telah cukup saya belikan mesin lagi. Pemasaran saat ini belum stabil, tapi orderan selalu ada saja. "Memang jumlahnya masih terbatas," ujarnya. Namun sebelumnya ada juga hasil roasting kopinya dengan mitra untuk diekspor ke Jepang dan Belgia. "Jumlah awalnya hanya 10 dan 20 kilogram saja, tapi pernah juga mencapai hingga 300 kilogram," ujarnya bangga. 

Untuk itu, pihaknya membuka peluang kerjasama bisnis dengan para pengusaha termasuk dengan pemasok mesin roasting. "Jika ada yang berminat untuk bergabung kita siap terutama dalam hal pemasaran," harapnya. 

Selain sebagai owner usaha roasting, dirinya juga mengaku ikut membina kebun kopi keluarga yang luasnya mencapai ratusan hektar di Wih Ilang, kabupaten Aceh Tengah hingga di kecamatan Bukit kabupaten Bener Meriah.

Harga jual kopi katanya, bervariasi tergantung jenis. Kalau kopi Luwak berkisar Rp 700.000 - Rp 800.000, Wine harganya Rp 600.000/kg. Selain itu tersedia juga Peabeary Rp 500.000 dan Longbeary Rp 400.000 per kilogram. "Kopi dalam bentuk biji  maupun roasting bean harganya sama," ujarnya promosi. 

Dalam hal promosi usahanya, pada bulan Oktober 2014 dirinya pernah mewakili Aceh mengikuti Jakarta International Expo berskala Internasional yang dilaksanakan di Kemayoran, Jakarta. Sekarang walaupun adanya Pandemi Covid-19 yang melanda, ia tak pernah putus asa. Tetap antusias dan selalu bergairah karena produknya pernah dipasarkan hingga keluar negeri. 

"Kedepan ia berharap kepada pemerintah tetap membuat regulasi yang berpihak kepada pengusaha kecil yang memiliki komitmen. Melalui UMKM dapat diberikan program bagi yang serius saja, sehingga mampu tumbuh dan berkembang," pungkasnya.

____

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018