Friday, 18 June 2021


Berberapa Pengalaman Unik Sejak 1955 untuk Suksesnya Integrasi Sawit-Sapi

04 Jun 2021, 16:13 WIBEditor : Ahmad Soim

Integrasi sawit sapi | Sumber Foto:Repro

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Integrasi tanaman perkebunan dengan ternak sapi sudah lama dilakukan di Indonesia. Ketua Umum Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sesumatera (BKS PPS) Soedjai Kartasasmita menuturkan pengalaman unik dan tidak mudahnya dalam mengembangkan integrasi tanaman perkebunan dan sapi.

“Pengalaman pertama ialah ketika saya baru bekerja di Sumatera Utara pada tahun 1955 di kebun karet Simbolon milik perkebunan Marjandi di dekat kota Pematang Siantar,” jelasnya kepada Sinar Tani.

Banyak gerombolan sapi milik pengusaha-pengusaha  India yang dilepas dan  berkeliaran di kebun karet milik Harissons&Crosfield. Sapi-sapi ini dimanfaatkan untuk memproduksi  susu dan sebagai penghasil daging. Dagingnya  untuk memenuhi keperluan  karyawan kebun sebelum Hari Raya Idul Fitri. Satu tradisi yang sudah lama dianut di Sumatera Utara hingga sekarang.

Akibat dari banyaknya sapi yang berkeliaran di jalan maka lalu lintas ke Pematang Siantar pun sering terganggu. “Entah bagaimana sapi-sapi itu pun tidak senang kalau melihat sepeda motor lewat di lokasi dimana hewan-hewan itu bebas berkeliaran,” cerita Soedjai Kartasasmita. Karena seringnya kecelakaan yang terjadi akhirnya pemilik kebun yaitu Harissons&Crosfield melarang para pemilik sapi untuk melepaskan sapinya di kebun mereka.

Pengalaman lain dialami Soedjai Kartasasmita Ketika bekerja di PT Perkebunan 6 Sumatera Utara pada tahun 1976 sampai 1979. PTP 6 diajak Kerjasama  Uniroyal, perusahaan Amerika yang berkantor di Kisaran untuk  membuat proyek peternakan sapi di kebun mereka di Kisaran. Proyek ini berjalan dengan   izin Menteri Pertanian.

BACA JUGA:

Tenaga ahli dari Liberia untuk membuat studi kelayakannya pun didatangkan. Mereka  mengadakan eksperimen-eksperimen di lapangan. “Tapi ternyata, sekalipun di atas kertas integrasi sawit-sapi  menguntungkan dalam prakteknya proyek ini merugi karena banyak mendapat gangguan dari para pesaing di Kisaran maupun Medan.  Akhirnya proyek dihentikan padahal Uniroyal sudah merencanakan pabrik sepatu yang menggunakan kulit yang berasal dari sapi-sapi dari proyek kerja sama itu,” ungkapnya.

Pada tahun 2012, PTPN 6 kembali mengadakan proyek peternakan sapi sesuai anjuran Menteri BUMN Bapak Dahlan Iskan. Pada tahun 2012 Direktur Utama PTPN6 Iskandar meluncurkan proyek peternakan sapi di Jambi.

Yang unik dari proyek ini ialah bahwa pelepah kelapa sawit dijadikan bahan pakan untuk sapi yang mereka pelihara di lokasi-lokasi tertentu. Proyek ini menjadi perhatian Menteri BUMN sehingga pada tahun 2013 beliau memerlukan berkunjung ke proyek peternakan sapi yang diluncurkan PTPN 6 tersebut.

Menurut Dr. Wicaksono peneliti di PPKS Medan yang ikut hadir menerima kunjungan Dahlan ISkan ke PTPN6  pengembangan peternakan sapi di lingkungan perkebunan kelapa sawit perlu memperhatikan persyaratan-persyaratan agar bisa sukses. Pertama, lokasinya diluar kebun kelapa sawit dengan populasi 1 ekor sapi untuk  tiap 10 hektar. Kedua, penanganan harus dilakukan secara profesional kalau perlu mendatangkan tenaga-tenaga ahli dari luar. Ketiga, SDM yang dilibatkan di proyek peternakan harus mengikuti pendidikan yang khusus. Keempat, pendanaan dari bank harus terjamin. Kelima, policy Pemerintah harus jelas misalnya ada insentif.

Selain itu lanjut Soejadi Kartasasmita dengan mengutip pernyataan   Dr. Wicaksono,  sebelum proyek peternakan sapi dimulai harus jelas sasarannya: apakah untuk penggemukkan atau untuk keperluan lain seperti untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Pengalaman lain diperoleh Ketua Umum BKS-PPS ini dari Kalimantan Tengah yang ia peroleh Informasinya dari  Prof. Bungaran Saragih (1/6/2021). Di Kalimantan Tengah ternyata lingkungannya lebih kondusif untuk peternakan sapi sehingga ada perusahaan sawit yang sudah meluncurkan proyek peternakan sapi dengan hasil yang memuaskan.

Contohnya ialah kebun milik H. Rasyid, tapi menurut Prof. Bungaran Saragih menjelaskan sasarannya bukan untuk mencari keuntungan tapi untuk keperluan filantropis untuk membantu masyarakat sekitar perkebunan seandainya mereka memerlukan daging sapi untuk berbagai keperluan seperti untuk keperluan Hari Raya Idul Fitri dan lain-lain. 

Keberhasilan proyek-proyek peternakan sapi di Kalimantan Tengah ini sampai menjadi perhatian Dr Rusman Heryawan yang pada tahun 2014   sebagai Wakil Menteri Pertanian memerlukan berkunjung ke proyek di Kalimantan Tengah tersebut.

Namun demikian ada  tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan integrasi-sawit ini yaitu bahwa pakan ternak harus bervariasi kalau itu-itu saja tiap hari sapinya merasa bosan sehingga pada suatu saat tidak mau makan lagi, tidak beda dengan manusia yang merasa bosan kalau tiap hari makannya itu-itu saja.

“Pengusaha sawit juga tidak akan terlalu antusias untuk membuka proyek peternakan sapi karena mereka tetap lebih fokus pada pengembangan kelapa sawit di sektor hulu maupun hilir terlebih-lebih dalam situasi seperti sekarang dimana sustainibilitas menjadi syarat utama untuk sukses dalam bisnis kelapa sawit,” tambah Soedjai Kartasasmita.

Kompetensi SDM dan pendanaan lanjutnya menjadi syarat mutlak untuk bisa berhasil dalam bisnis peternakan sapi di kebun kelapa sawit. Satu hal yang juga diperhatikan adalah dampak negative adanya emisi CO2 yang hadir bersama hadirnya peternakan sapi di kebun sawit. Jangan sampai keberadaan sapi di kebun sawit dijadikan energi baru bagi Eropa bahwa perkebunan sawit Indonesia tidak ramah lingkungan. 

-----

 

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018