Thursday, 17 June 2021


Berkah Adanya Sapi, Andi Azis Bisa Panen Sawit 22 Ton TBS/Ha

08 Jun 2021, 16:10 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani sawit di Nunukan | Sumber Foto:Ibnu Abas

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Hadirnya Sapi di kebun sawit memberikan berkah manfaat yang positif bagi produktivitas perkebunan Sawit.

Andi Azis (51 tahun) salah seorang anggota kelompok tani  “Solo Maju” sudah merasakan manfaat integrasi tanaman antara  kelapa sawit dengan ternak sapi sejak tahun 2012, hasilnya saat ini produktivitas  kelapa sawit dalam bentuk tandan buah segar (TBS)  bisa mencapai 22 ton per hektar per tahun.

Lahan kelapa sawit milik Andi Azis ini terletak di kilo 8 Desa Binusan Dalam, Kecamatan Nunukan Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara.  Azis menceritakan awal mulanya ternak sapi ini adalah bantuan pemerintah dan bibit kelapa sawit pun juga bantuan dari pemerintah.

Pertama kali bantuan sapi berjumlah 3 ekor berasal dari provinsi tahun 2008 dan kondisi sekarang indukannya sudah menjadi 10 ekor,  anakan 12 ekor, remaja 4 ekor dan 1 ekor pejantan, kemudian ada juga yang digaduhkan atau dipelihara oleh orang lain sebanyak 2 ekor.

Tahun ini kita sudah menjual 3 ekor sapi jantan dewasa, kebetulan ada yang sangat membutuhkan untuk dijadikan hewan kurban, harga sapi kita jual Rp 13 juta per ekor, kemudian juga kita menjual sapi yang masih kecil 6 ekor dengan harga Rp 5 juta per ekor.

“Saya percaya produktivitas kelapa sawit bisa seperti saat ini  erat kaitannya dengan integrasi sapi sawit,  karena kotoran dan urin sapi bermanfaat untuk kesuburan tanaman kelapa sawit, sementara rumput lunak yang ada di lahan bisa menjadi pakan ternak, selain itu juga daun kelapa sawit yang sudah dipruning  bisa menjadi pakan ternak sapi, jadi bisa saling menguntungkan,” ujar Azis.

BACA JUGA:

Menurut Azis, kebun kelapa sawit miliknya hanya 4 hektar lebih selain diberikan pupuk organik juga diberikan pupuk anorganik seperti urea dan NPK phonska  setiap 4 bulan sekali, sedangkan pupuk borate diberikan sekali setahun dalam jumlah sedikit.

“Setiap 20 hari sekali saya bisa panen sawit hasilnya 5 ton terkadang lebih, memang dengan umur sawit seperti ini jumlah tandannya berkurang tapi beratnya bertambah,” katanya.

Ia pun mengakui tidak perlu repot-repot membawa tandan sawit ke pengepul, karena biasanya pengepul atau pembeli yang langsung mengambil buah di tempat pengumpulan buah (TPH) kebun.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Nunukan, Masniadi, saat dihubungi Selasa (8/6) mengungkapkan sangat mendukung  integrasi sapi sawit, karena dapat menambah penghasilan petani namun yang harus diperhatikan oleh peternak itu adalah perbandingan antara luasan kebun dengan jumlah ternak.

“Ruang gerak dan ketersediaan sumber makanan bagi ternak itu harus diperhatikan, jangan dilepas begitu saja harus dipindah atau digeser dari satu  tempat ke tempat lain yang memiliki cukup ketersediaan pakan, karena yang kita jaga itu tidak hanya tanaman sawitnya tapi juga kondisi ternak sapinya,” katanya.

____

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Ibnu Abas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018