Thursday, 18 August 2022


Diminati Dunia, Soedjai Kartasasmita: Selamatkan Kakao Indonesia

10 Jul 2021, 19:10 WIBEditor : Yulianto

Kakao Indonesia perlu diselamatkan, produksinya terus menurun | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kakao menjadi salah satu komoditas perkebunan yang selama ini berperan dalam mengisi kocek devisa negara. Sebagai komoditas yang diperdagangkan dunia, produksi kakao dari negara produsen akan menjadi perhatian.

Seperti dalam webinar mengani Cokelat yang diselanggarakan Kedutaan Besar Belgia bekerjasama dengan Malaysia, pada Rabu (7/7). Dihadiri hampir 320 orang, webinar tersebut menghadirkan pembicara dari kalangan dunia kakao berbagai negara seperti, Malaysia,  Belgia, Pantai Gading, Direktur Eksekutif ICCO, Vietnam dan Peneliti dari Ghent University, Belgia.

“Beberapa hal yang menjadi pembicaraa diantaranya mengenai, penelitian,  kegiatan on farm dan off farm dan perdagangan,” Praktisi Perkebunan, Soedjai Kartasasmita yang hadir diundang Kedutaan Besar Belgia.

Soedja’i menjelaskan, dalam webinar tersebut pembahasan penelitian difokuskan kepada persilangan-persilangan untuk mendapatkan varietas baru yang tahan perubahan iklim. Namun juga mempunyai potensi untuk meningkatkan produktivitas sehingga menguntungkan petani dan pengusaha.

Sementara itu mengenai produksi biji kakao di beberapa negara dan pada tingkat global, Soedjai mengatakan,  produksi Malaysia masih dibawah 100 ribu ton/tahun. Namun Indonesia menjadi sorotan karena dalam 10 tahun terakhir produksinya merosot dari 500 ribu ton/tahun menjadi hanya 200 ribu ton/tahun. Perkembangan ini sangat disayangkan karena coklat (biji kakao,red) Indonesia banyak disenangi konsumen,” ujarnya.

Adapun, negara Vietnam dan China juga sudah mulai menghasilkan kakao. Data ICCO, produksi biji kakao global tahun ini diperkirakan sebanyak 5 juta ton , tapi karena pandemi yang diolah hanya sekitara 4,8 juta ton.

Untuk menjaga keberlanjutan produki biji kakao dunia, Soedjai mengatakan, satu strategi yang lagi diluncurkan sekarang ialah mengaplikasikan agroforestry. “Selain untuk menjaga sustainibilitas juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Maksudnya lanjut Komisaris Utama PT. Duta Karya Swasta (Penerbit Tabloid Sinar Tani) itu, budidaya kakao nantinya dikombinasikan dengan tanaman lain. Misalnya, dengan tanaman pangan, sehingga pendapatan petani meningkat, selain meningkatkan sustainibilitas. “Ini berarti ke depan perkebunan kakao bukan usaha monokultur lagi,” ujarnya.

Sementara itu untuk meningkatan nilai tambah, menurut Soedjai negara-negara seperti Malaysia dan Pantai Gading  kini mulai mengolah kakao menjadi berbagai produk setengah jadi. Produk itu kemudian diekspor ke berbagai negara Eropa, termasuk Belgia.

Dalam kaitan ini Professor dari Ghent University menyampaikan bahwa pengolahan ini berperan sangat penting dalam upaya untuk meningkatkan kualitas dan harga,” katanya.

Jadi lanjut Soedjai, sekalipun kualitas biji kakao di lapangan tinggi, kalau pengolahan kurang baik maka kualitasnya akan anjlok. Sebaliknya biji kakao yang berkualitas sedang, seandainya diolah dengan baik akan menghasilkan coklat dengan kualitas yang lebih tinggi. Jadi kuncinya ada di pengolahan,” ujarnya.

Soal perdagangan, Soedjai menjelaskan, dalam webinar tersebut juga terungkap ke depan diperkirakan ekspor ke China akan berkembang. Meskipun China sudah mulai mengekspor produksi biji kakaonya ke Belgia.

Dengan hasil webinar tersebut, Soedjai mengingatkan agar Indonesia harus mengambil langkah untuk menyelamatkan produksi kakao. Apalagi ternyata kakao Indonesia disenangi konsumen dibanyak negara, termasuk Belgia.

Pengolahan juga perlu mendapat perhatian dan pengawasan yang ketat supaya produk yang dihasilkan berkualitas tinggi. Sedangkan mengenai penelitian harus ditingkatkan, petani harus dibantu disertai dukungan Pemerintah dan Perbankan,” saran Pujangga Perkebunan ini.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018