Thursday, 23 September 2021


Saat yang lain Terpukul dan Jatuh , Perkebunan tetap Berdiri

30 Aug 2021, 11:33 WIBEditor : Yulianto

Merdeka Ekspor dorong pertumbuhan perkebunan | Sumber Foto:Humas Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Harus diakui, saat semua sektor terpukul Covid-19, tapi kinerja sektor pertanian tidak terpengaruh, termasuk sub sektor perkebunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen pada triwulan II-2021 dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

“Lima lapangan usaha utama, yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, semuanya bila diakumulasikan menyumbang 64,85 persen terhadap PDB Triwulan kali ini,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono.

Selain, itu menurut data BPS pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal ke II kontribusi tanaman perkebunan tumbuh 0,33 persen. Pertumbuhan itu disokong peningkatan produksi komoditas kelapa sawit yang cukup baik dengan kondisi musim kemarau yang tidak ekstrim, pertambahan luas tanam yang mulai menghasilkan, serta pertumbuhan konsumsi domestik. Selain itu tingginya permintaan rempah-rempah untuk penambah imun saat pandemi Covid-19 juga ikut mempengaruhi kinerja perkebunan.

Artinya, walaupun pandemi Covid – 19 masih berlangsung, tidak memberi dampak pada pertumbuhan sub sektor perkebunan. Perkebunan di luar Jawa dan Bali, masih memberikan respon positif. Hal tersebut dibuktikan salah satunya karena kegiatan Merdeka Ekspor Pertanian Tahun 2021 yang mencapai Rp7,29 triliun.

“Ekspor yang akan dilepas pada kesempatan ini sebesar 627,4 juta ton, nilainya Rp 7,29 triliun, meliputi komoditas yang pertama perkebunan 564,6 juta ton, tanaman pangan 4,3 juta ton, hortikultura 7,2 juta ton, peternakan 4,0 juta ton, dan beberapa komoditas lainnya,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Lebih lanjut, secara keseluruhan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian menargetkan nilai ekspor komoditas utama, andalan dan pengembangan perkebunan periode 2020-2024 sebesar 74,31 milliar dolla AS atau setara Rp 1.040,33 trilliun.

Sehingga, untuk mengejar seluruh target tersebut Ditjen Bun mendorong pengembangan logistik benih, meningkatkan produksi dan produkivitas, meningkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspor.

“Kami juga mendorong modernisasi perkebunan, pembiayaan melalui KUR (kredit usaha rakyat), peningkatan kapasitas SDM (sumber daya manusia), optimasi jejaring stakeholder,” ucap Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Ditjen Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto.

Lebih lanjut, Heru mengakui, KUR juga bisa untuk peremajaan sawit rakyat (PSR). Adapun program PSR mencakup 21 provinsi utamanya Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Selatan. Jadi ada banyak manfaat yang bisa diambil dari PSR jika program tersebut dioptimalisasi. Salahsatunya dengan pola tumpang sari saat melakukan PSR. Jadi bukan hanya petani, tapi juga industri dan pemerintah dalam hal ini negara,” tuturnya.

Dengan PSR, produktivitas yang dihasilkan pada tanaman periode berikutnya akan lebih tinggi dari sebelumnya. Industri akan mendapatkan jaminan pasokan bahan baku, dan negara akan mendapatkan devisa lebih tinggi lagi, mengingat kebutuhan negara luar akan produk sawit dan turunannya juga semakin meningkat. 

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018