Thursday, 23 September 2021


Muzakkir Pincut Petani dengan Demplot Sambung Pucuk Kakao

13 Sep 2021, 14:53 WIBEditor : Gesha

Muzakkir (kanan baju putih) dengan petani | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Sabang --- Guna menggugah semangat petani selain latihan kunjungan (LAKU) dan sekolah lapang (SL) perlu juga ada demplot kakao. Inilah yang dilakukan Koordinator BPP Sukakarya, Kota Sabang, Muzakkir. 

Kota Sabang selain terkenal dengan lautnya ternyata memiliki potensi kakao, pinang dan cengkeh. Untuk kakao, kurang lebih ada 50 hektar lahan pertanaman kakao yang mendukung industri rumah tangga. 

Sayangnya, petani masih melakukan cara yang kurang baik dalam bertanam kakao. Karena selama ini saat panen buahnya kering, kalau pun kulitnya bagus, tapi isinya busuk. 

"Untuk mendapatkan biji kakao yang sehat perlu diterapkan metode Pangkas Sering, Pupuk Sering dan Sering Panen (PSPSSP). Dengan tanaman sehat akan menghasilkan buah yang sehat pula," ungkap Muzakkir SP, Koordinator BPP Sukakarya, Kota Sabang. 

Sebagai seorang penyuluh, Muzakkir bekerja ekstra mendampingi petani "Biasanya saya memberikan penyuluhan bidang hortikultura dan tanaman pangan. Jadi saat menyampaikan ke petani untuk merawat kakao mereka tidak merespon," jelas Muzakkir. 

Padahal Muzakkir pernah mengikuti kegiatan Sekolah Lapang dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh di tahun 2017 untuk pertanaman Kakao dengan mengundang petani kakao sukses (Idris dan Mahdi). Bahkan dirinya melanjutkan pelatihan kakao di UPTD Diklat Saree, Aceh.

Baca Juga :

Dengan Sambung Pucuk, Usia 9 Bulan Pohon Kakao Bisa Hasilkan 1,8 ton/ha

Begini Cara Agar Kakao Hasil Sambung Pucuk Berproduktivitas Tinggi

Usai mengikuti pelatihan di Saree pada tahun 2018, kemampuannya mulai dipertaruhkan untuk menghindari plesetan PPL dengan akronim Peugah Peugah Laju (Ngomong - ngomong terus). Apalagi, sejak menjadi koordinator BPP Kecamatan Sukakarya, wilayah kerjanya di Gampong Batee Shok ada sekitar 15 ha lahan kakao.

"Untuk menggugah semangat petani selain latihan kunjungan (LAKU) dan sekolah lapang (SL), memang perlu juga ada demplot kakao, " ungkapnya. 

Karena itu, dirinya  meminjam lahan 2.500 meter persegi milik mantan Walikota Sabang, Zulkifli Adam. Di dalam kebun ada 60 batang tanaman kakao untuk kegiatan demplot. Sementara disisi lahan tersebut ada kakao yang tidak terawat sebagai pembanding. 

Muzakkir kemudian melakukan praktek sambung pucuk dengan memotong sebagian cabang pada tunas air yang tumbuh di pangkal batang. 

Baca Juga :

Tinggal Ceklek, Dapatkan Bibit Berkualitas dari Mesin Grafting Semi Otomatis

Ragam Teknologi Perbanyakan Bibit Kakao

Dari hasil sambung pucuk (cupon) katanya, tanaman kakao sudah mulai berbunga pada umur 15 bulan, perkiraannya umur lima tahun setelah sambung lahan tersebut akan menghasilkan buah kakao yang optimal dengan kondisi pohon sehat sehingga menjadi percontohan bagi masyarakat.

Muzakkir mengatakan dengan adanya demplot, kita tak perlu lagi memanggil petani, karena letaknya strategis dipinggir jalan. Bahkan setiap warga dan masyarakat yang melintas singgah dan konsultasi di lahannya. 

"Memang tujuan demplot untuk belajar menerapkan ilmu yang sudah dimiliki dan menjadi contoh bagi petani . Ohh begini hasilnya kalau kebun kakao kita rawat dengan baik," tuturnya meniru ucapan masyarakat. 

Tak pelak, beberapa masyarakat pun minta bantuannya untuk membimbing cara merawat kebun kakao mereka. Dengan demikian masyarakat tidak perlu melakukan replanting pada tanaman kakao.

Muzakkir menuturkan kebanyakan kebun kakao di Sabang tingginya mencapai 7 meter lebih. "Pasalnya dengan mempertahankan tajuk pucuk daun maksimal 3,5 meter, sudah mampu menghasilkan buah kakao yang banyak," kilahnya. 

Apabila petani bisa menyediakan stok kakao yang baik, dan industri pabrik pengolahan kakao skala industri rumah tangga yang dibangun Disperindagkop kota Sabang, maka kebutuhan bahan baku untuk industri pengolahan kakao minimal 10 kg/per hari dapat terserap dari hasil produksi petani Sabang.

"Dengan tersedianya industri pengolahan akan menghasilkan bubuk dan coklat serta terserap oleh masyarakat yang membuat kue seperti pia MD dan AG, " tambahnya. 

Menurutnya, Sabang sebagai destinasi wisata seharusnya dapat menyuguhkan kue berbasis coklat lokal. Sehingga tidak tergantung lagi coklat dari luar. Walaupun produk lokal, brand coklat adalah makanan dunia. 

"Sudah saatnya kita peduli kepada petani kakao dengan teknologi dan kemasan yang menarik diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat," paparnya.

Abdullah salah satu petani di Sabang mengaku setelah mendapatkan pelatihan dari penyuluh, hasil kakao meningkat menjadi 80 buah kakao per batang. "Saya sangat senang dan gembira, kedepan semua tanaman kakao akan saya lakukan metode sesuai anjuran penyuluh," tutupnya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018