Thursday, 23 September 2021


Dongkrak Produksi, Ribuan Hektar Tanaman Kakao Petani Diremajakan

15 Sep 2021, 10:11 WIBEditor : Yulianto

Kebun kakao | Sumber Foto:Dok. Indarto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tingginya permintaan kakao, baik di dalam ataupun luar negeri, mendorong Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian menggerakkan peremajaan  dan perluasan tanaman kakao.

“Melihat tingginya permintaan kakao, kita terus untuk meningkatkan produksi, terlebih tanaman kakao yang ada di dalam negeri sebagian besar dimiliki petani. Artinya dengan meningkatkan produksi maka akan meningkatkan ekonomi petani,” kata Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Heru Tri Widarto.

Adapun kegiatan kakao untuk tahun 2021 ini yakni, peremajaan seluas 2.975 hektar (ha), perluasan tanaman seluas 200 ha, sehingga totalnya mencapai 3.175 ha. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan berdampak kepada peningkatan biji kakao nasional.

Seperti diketahui, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pada tahun 2019, urutan volume ekspor biji kakao adalah kakao butter (HS 18040000) sebesar 40,44 persen dari total ekspor, tepung kakao (HS 18050000) sebesar 24,47 persen , kakao paste (HS 18032000) sebesar 13,89 persen, dan biji kakao (HS 18010000) sebesar 8,60 persen.

Adapun Ekspor kakao Indonesia menjangkau lima benua yaitu Asia, Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia dengan pangsa utama di Asia. Pada tahun 2019, lima besar negara pengimpor kakao Indonesia adalah Malaysia, Amerika, India, China, dan Belanda.

Volume ekspor ke Malaysia mencapai 80,59 ribu ton atau 22,48 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia dengan nilai 172,58 juta dollar AS. Kedua Amerika Serikat dengan volume ekspor sebesar 61,77 ribu ton atau 17,23 persen dari total volume kakao Indonesia dengan nilai 285,68 juta dollar AS.

Ketiga India, dengan volume ekspor sebesar 28,85 ribu ton atau 8,05 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia dengan nilai 82,25 juta dollar AS. Keempat China dengan volume ekspor 23,60 ribu ton atau sekitar 6,58 persen dari total volume ekspor kakao Indonesia dengan nilai 84,50 juta dollar AS. Kelima Belanda dengan volume ekspor 20,38 ribu ton atau 5,68 persen dari total volume ekspor kakao dengan nilai US$ 106,87 juta.

Lebih lanjut, Heru mengatakan, pengembangan komoditas utama perkebunan akan dikoordinasikan dalam kerangka program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida). Diharapkan produksi dapat meningkat sebesar 35 persen, nilai ekspor 300 persen, penyerapan tenaga kerja perkebunan sebesar 25 persen, peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) perkebunan 25 persen.

Program Grasida ditargetkan ekspor tujuh komoditas meningkat tiga kali lipat. Ekspor komoditas kopi pada 2018 mencapai US$ 818 juta dan ditargetkan naik tahun 2024 sebesar 3.250 dollar AS. Kakao naik dari 1.246 (2018) menjadi 4.132 dollar AS pada 2024.

Kelapa ditargetkan naik dari 1.268 dollar AS menjadi 4.319 dollar AS pada 2024. Jambu mete sebesar 142 dollar AS dan target tahun 2024 sebesar 438 dollar AS. Untuk komoditas  lada sebesar 152 dollae AS dan target tahun 2024 sebesar 177 dollar AS; pala sebesar 112 dollar AS dan target tahun 2024 sebesar 1.124 dollar AS dan vanili sebesar 90,58 dollar AS dengan target tahun 2024 sebesar 363 dollar AS.

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018