
Sutarman petani kakao di Malang
TABLOIDSINARTANI.COM, Malang--- Tanaman kakao menjadi salah satu komoditi andalan Indonesia yang cukup penting peranannya dalam perekonomian. Biji kakao yang dihasilkan dari budidaya kakao ini dapat menghasilkan produk olahan yang sangat terkenal di masyarakat yaitu cokelat.
Hal inilah yang mendorong petani, salah satunya Sutarman petani kakao di wilayah Malang yang terbilang sukses membudidayakan tanaman penghasil cokelat ini.Bagaimana kiatnya?
Untuk persiapan tanam, Sumardi mengatakan, sebelumnya lahan dibersihkan dari alang-alang dan gulma. Sebaiknya menggunakan tanaman penutup tanah, terutama jenis polong-polongan untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan.
Selain itu Sutarman menyarankan, bisa menanam lamtoro sebagai tanaman pelindung. Lamtoro ditanam setahun sebelum penanaman kakao. Namun pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao.
Untuk benih, Sutarman mengatakan, sebaiknya diambil diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur. Tapi, sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok.
“Karena biji kakao tidak punya masa istirahat, maka harus segera dikecambahkan. Prosesnya dapat dengan karung goni dalam ruangan, dan dilakukan penyiraman 3 kali sehari,” katanya.
Sutarman menjelaskan, langkah selanjutnya adalah siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan. Lalu, campurkan tanah dengan pupuk kandang dan masukkan dalam polibag.
Tapi sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk ke dalam tiap-tiap polybag. Benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50 persen.
Sedangkan untuk jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm. Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga sinar matahari masuk tidak terlalu banyak. “Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari, penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan,” katanya.
Pemupukan
Untuk pemupukan disesuai dengan umur bibit. Untuk, umur 1 bulan sebanyak 1 gr/bibit, umur 2 bulan (2 gr/bibit), umur 3 bulan (3 gr/bibit), dan umur 4 bulan (4 gr/bibit).
Sedangkan penggunaan pupuk cair dengan dosis 0,5 – 1 tutup/pohon yang diencerkan dengan air secukupnya. Penyemprotan dengan dosis 4 tutup/tangki setiap 2-4 minggu sekali. “Penjarangan atap naungan mulai umur 3 bulan dihilangkan 50 persen sampai umur 4 bulan,” tambahnya.
Menurut Sutarman, pengajiran dibuat dari bambu tinggi 80 – 100 cm sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya. Untuk meluruskan gunakan tali, sehingga diperoleh jarak tanam yang sama. Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan. “Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah per lubang,” katanya.
Pada saat bibit kakao ditanam, Sutarman mengatakan, pohon naungan harus sudah tumbuh baik saat sudah berumur 1 tahun. Namun untuk penanaman kakao dengan sistem tumpang sari tidak perlu naungan. Misalnya, tumpang sari dengan pohon kelapa.
Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya. Penanamannya setelah bibit umur 4-6 bulan dan sebaiknya saat hujan, serta persiapan naungan harus sempurna.
“Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda, penyiraman dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore sebanyak 2-5 liter/pohon,” katanya seraya menambahkan, jangan lupa membuat lubang pupuk disekitar tanaman dan pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk, kemudian ditutup kembali.